Custom JavaScript Footer

Friday, January 25, 2019

TANGGALKAN BEBAN DAN RAIH PANGGILAN SORGAWI

Tanggalkan beban dan raih panggilan sorgawi ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tanggalkan beban dan raih panggilan sorgawi, diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat di kota Fililipi. Demikianlah firman Tuhan : “…… aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” – Filipi 3:13b-14. Masing-masing kita akan mengalami perlakuan tidak adil dan tidak menyenangkan dari orang lain. Itulah fakta sederhana dari hidup. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Maka bertuturlah Tuhan kepada murid-murid-Nya, “Tak dapat tiada akan jadi beberapa perkara yang mendatangkan kesalahan;..” (Lukas 17:1a Terjemahan Lama) Jadi masalah sesungguhnya bukannya mengapa hal itu terjadi, tetapi lebih tepat, apa yang akan kita lakukan ketika itu terjadi. Pada waktu Anda diperlakukan tidak adil, Anda akan dihadapkan pada sebuah pilihan penting. Anda dapat memilih untuk tetap berpegang pada perlakuan buruk yang Anda terima dari orang lain dan hidup dalam sikap tidak mau mengampuni atau Anda memilih untuk menerima jalan Tuhan dalam hidup Anda dan menyaksikan bagaimana Ia membukakan pengampunanNya bagi kita. Pilihan tentu saja sepenuhnya ada di tangan Anda. Tetapi, satu hal yang perlu Anda ketahui adalah, pilihan tersebut memiliki konsekuensi besar terhadap kemampuan Anda ketika berjalan dalam rencana Allah bagi hidup Anda. Apapun yang terjadi pada hidup Anda, ketahuilah bahwa tidak seorangpun di dunia ini, bahkan si jahat sekalipun, yang dapat membuat Anda keluar dari kehendak Allah, kecuali diri Anda sendiri.

Sikap dan cara Anda menanggapi setiap perlakuan buruk dari orang lain berpotensi untuk membawa Anda keluar dari jalur Allah; namun, sikap dan cara Anda menghadapi perlakuan tersebut juga dapat membawa Anda untuk melangkah menuju tujuan akhir dari rencana Allah yang indah bagi hidup Anda! Jika Anda memilih untuk berpegang pada kepahitan dan perlakuan buruk orang lain, maka itu sama artinya dengan Anda membawa beban yang tidak seharusnya Anda tanggung. Hal ini tentu saja akan menjadi penghalang ketika Anda melangkah maju dalam menggenapi panggilan Allah dalam hidup Anda. “…… aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13b-14). Mari kita belajar dari hidup Yusuf. Allah memberikan sebuah mimpi tentang masa depan Yusuf secara jelas kepadanya. Hanya selang beberapa waktu kemudian, semuanya berubah menjadi kacau dan berantakan. Kakak-kakaknya yang merasa iri terhadap Yusuf, bersekongkol melawan dia. Mereka membuang Yusuf ke dalam sumur sempit dan meninggalkannya sendirian di situ dengan harapan agar Yusuf mati. Ketika pada akhirnya mereka memutuskan untuk tidak membunuhnya, mereka menjual Yusuf kepada saudagar Mesir untuk dijadikan budak. Ketika menjadi budak dan Yusuf menunjukkan prestasi terbaik dan unggul, ia difitnah melakukan hal buruk yang membuatnya dipenjara. Akhirnya, ketika ia merasa bahwa ada secercah harapan bagi sebuah terobosan baik dalam hidupnya, ia dilupakan oleh juru minum raja yang sudah dia bantu untuk menerjemahkan mimpinya. Cerita mengenai kehidupan Yusuf di atas, mungkin dapat kita baca hanya dalam beberapa pasal di kitab Kejadian, tetapi kita harus ingat bahwa kejadian tersebut terjadi di hampir sepanjang tahun-tahun hidup Yusuf. Selama masa hidupnya, Yusuf memiliki banyak sekali kesempatan untuk berpegang pada perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya yang telah memperlakukan dia dengan sangat menyakitkan. Tetapi Yusuf memilih untuk menjaga hatinya agar tetap lembut di hadapan Allah. Ia memilih untuk memberikan pengampunan pada mereka yang sebenarnya tidak layak untuk menerimanya. Yusuf menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi dengan kasih karunia Allah ia dengan sangat baik memperlakukan orang-orang yang telah membencinya dan melakukan hal-hal jahat kepadanya; bahkan Yusuf mengampuni mereka. Ia menerima jalan dan rencana Allah dalam hidupnya.“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44) Sebagai imbalannya, Allah membuat semua perlakuan buruk yang diterimanya sebagai sarana untuk menempatkan Yusuf pada posisi yang dikehendakiNya. Lewis Smedes dengan tepat menggambarkannya melalui kata-katanya berikut, “Mengampuni merupakan sebuah tindakan untuk membebaskan seorang tawanan, dan tawanan itu adalah diri Anda sendiri.” Jadi, jangan biarkan luka masa lalu membebani hidup Anda sekarang. Anda akan rugi membawa beban itu hingga saat ini karena berpotensi untuk menjauhkan Anda dari rencana indah Allah bagi hidup Anda. Masing-masing kita tidak bisa memilih atas hal-hal apa saja yang terjadi dalam hidup kita, tetapi Anda dan saya bisa memilih untuk menanggapi semua itu dengan karakter Kristus yang tumbuh dalam diri kita, yaitu dengan cara mengampuni sebagaimana Allah Bapa sudah mengampuni kita secara cuma-cuma. Kita bisa memilih untuk melepaskan semua perlakuan buruk orang lain dalam hidup kita dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan yang akan menghakimi semua manusia dengan adil. Pada saat kita menyerahkan semua beban luka hati dan beban masa lalu yang memang tidak seharusnya menjadi beban hidup kita tersebut, kita akan menemukan diri kita berjalan dalam rencana indah Allah. Bahkan kita bisa bebas berlari tanpa beban menuju rencana indah tersebut. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28.

No comments:
Write komentar