Suara Allah yang menenangkan kita ~ Landasan firman Tuhan untuk tema suara Allah yang menenangkan kita, diambil dari kitab Mazmur 23:1-6. Saya lampirkan firman Tuhan tersebut dibawah ini.
TUHAN, gembalaku yang baik
23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Menurut beberapa penelitian, mendengar suara air dapat membuat seseorang merasa lebih tenang dan nyaman. Suara gemericik air bisa mempengaruhi pikiran seseorang agar tetap tenang, nyaman, dan tidak khawatir dengan keadaan. Air yang jatuh secara teratur dan terus-menerus seperti rintik hujan dan aliran sungai, mampu mengalihkan fokus pendengaran kita dari bunyi-bunyi tak nyaman. Bahkan suara yang sama dapat membuat kita mengantuk. Selain itu, suhu udara di sekitar juga akan terasa mendukung suasana damai tersebut. Para psikolog bahkan menggunakan suara air sebagai terapi agar tidur lebih nyenyak dan berkualitas.
Kehidupan yang penuh dengan tekanan, kesibukan, dan pergolakan sering memaksa kita untuk lari dari kenyataan dan mencari ketenangan. Kita bisa mendapat ketenangan dari berbagai hal di dunia ini, namun semua itu tidak memberi jaminan bahwa kita akan memperoleh kedamaian. Kita bisa melarikan diri dari segala permasalahan pada hal yang sia-sia, namun hal itu bukannya menyelesaikan permasalahan yang ada, justru menambahnya. Ketenangan yang sejati hanya kita dapat di dalam Allah.
Seperti suara air yang membawa ketenangan bagi jiwa kita, kasih Allah pun akan memberi kedamaian bagi hidup kita.
Melalui firman yang kita baca dan renungkan, melalui pujian dan doa yang kita naikkan, Allah akan menyatakan kuasa-Nya dan menjaga kita tetap berada dalam perlindungan. Saat dekat dengan Allah hidup kita akan semakin diperbaharui, jiwa kita akan kembali tenang, kita memperoleh kekuatan untuk menghadapi segala perkara, dan semakin mengakui kebesaran Tuhan yang melampaui kekurangan kita. Datanglah kepada Allah dan rasakan kasih-Nya yang begitu besar yang mampu memberi ketenangan diantara segala beban dan pergumulan kita.
“Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” – Mazmur 23:2-3.
Tuhan menyediakan benih bagi penabur ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat di kota Korintus. Dalam pimpinan Roh Kudus, rasul Paulus menulis: “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu” 2 Korintus 9:10.
Rasul Paulus memberikan beberapa penekanan penting dalam suratnya kepada jemaat Tuhan yang ada di kota Korintus dan tentunya bagi kita pada masa zaman now. Pesan penting dimaksud, yaitu:
Satu, belajar untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan. Dua, bertobat dan memisahkan diri dari hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Tiga, hidup dalam kasih dan peduli kepada orang yang membutuhkan. Empat, mengenal rasul-rasul palsu dan ajarannya agar terhindar dari disiplin gereja.
Kalimat tanya: “Apa saja yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan Tuhan menyediakan benih bagi penabur?”
Kalimat peralihan: Berdasarkan firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:10, maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu:
1. Siapakah penabur itu?
Istilah penabur diambil dari dunia pertanian yang menunjuk kepada petani sebagai yang menabur benih dilahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Lalu istilah tersebut diadopsi dan digunakan di dalam pelayanan Kristen. Untuk menjawab pertanya di atas, siapakah penabur itu? Maka kita menemukan di dalam Alkitab baik konteks dekat maupun konteks jauh dari teks firman Tuhan, yaitu : Allah Tritunggal; Rasul Paulus; Jemaat Korintus; Para nabi dan para rasul; Para pendeta dan penginjil; dan Jemaat Tuhan di seluruh dunia.
2. Apa saja bentuk benih itu?
Petani pada umumnya akan mempersiapkan benih yang ditabur di lahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Ada berbagai jenis benih unggul yang disiapkan untuk ditanam. Di dalam dunia pelayanan pun, istilah benih juga dipakai. Alkitab memberikan kepada kita tentang makna benih yang digunakan, yaitu : Benih Ilahi yaitu firman Tuhan; Benih Jasmani, yaitu KESEHATAN; Benih Materi, yaitu KEKAYAAN; Benih TALENTA; Benih KARUNIA ROHANI dan Benih Waktu: KESEMPATAN.
3. Darimanakah benih itu?
Seorang petani yang menginginkan supaya saat menuai nanti akan menuai dengan melimpah, maka ia akan berusaha untuk mencari benih unggul. Darimana pun benih itu, akan diusahakan supaya diperoleh dengan tujuan supaya hasil panennya memadai. Oleh sebab itu, untuk menjawab pertanyaan darimanakah benih itu? Maka jawabannya ialah dari Allah Tritunggal sebagai sumber dan pemilik benih. Banyak Orang yang Genggam Erat Benih dan tidak mau menabur. Mereka gunakan hanya untuk dirinya sendiri.
4. Bagaimana tindakan Tuhan terhadap benih itu?
Tuhan Memperbanyak Hasil Benih. “Pada akhir hidup, kita tidak akan dinilai oleh berapa banyak ijazah yang telah kita terima, berapa byk uang yg telah kita peroleh, tapi berapa byk hal-hal besar yg telah kita lakukan” Bunda Teresa. Orang yang menjadi berkat bagi kehidupan orang lain tidak akan menyimpan berkat itu hanya untuk dirinya. Salah satu aturan hidup yang utama adalah: semakin banyak kau memberi, semakin banyak kau menerima.
Kita harus akui bahwa Tuhan adalah sumber dan pemilik segalanya. Pengakuan ini didasarkan pada kebenaran firman Tuhan yang menegaskan bahwa: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” – Roma 11:36. Berdasarkan hal itu, maka tidak ada sesuatupun yang bisa kita banggakan dalam hidup ini, selain bersyukur kepada Tuhan atas semua kepercayaan yang diberikan kepada kita. Amin
Perspektif Alkitab terhadap LGBT ~ Di dalam Perjanjian Baru pun, homoseksualitas masih mendapat perhatian, walaupun tidak secara khusus dibahas karena bukan menjadi topik utama orang-orang Kristen pada masa itu. Paulus menuliskan, “Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” (Rm. 1:27). Jika kita mengikuti alur Rm. 1:19-32, Alkitab menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan salah satu akibat (sekaligus bukti) dari penyangkalan manusia terhadap Allah.
Alkitab dengan tegas melarang praktik homoseksualitas. Salah satunya: “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri” (Im. 20:13; bnd. 18:22). Bahkan dikatakan juga, “Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (1Kor. 6:9b-10; bnd. 1Tim 1:8-11). Sungguh berat konsekuensinya!
Jadi, homoseksualitas pada dasarnya bukan sekadar kecenderungan, pilihan, atau variasi, tetapi merupakan sebuah dosa yang sangat dibenci Allah.
Seberapa Buruk Dosa Praktik LGBT+?.
Jika demikian, seberapa buruk dosa praktik LGBT+ itu? Kita mungkin pernah merasa risih ketika bergaul dengan orang-orang yang terlibat dalam LGBT+. Di mata masyarakat pun, mereka sering dipinggirkan. Bahkan mungkin juga, orang-orang seperti itu tidak mendapat tempat di gereja. Jemaat merasa tidak nyaman ketika orang-orang LGBT+ mulai ikut dalam ibadah.
Di dalam Yak. 2:10 tertulis: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Artinya, tidak ada dosa yang “dianggap ringan” oleh Tuhan. Semua dosa sama beratnya (walaupun dalam pandangan manusia, membunuh lebih berat dibanding berbohong). Jika kita memandang orang lain dengan hina karena dosa-dosa yang mereka lakukan, ingatlah bahwa kita tidak lebih suci dibanding mereka. Demikian pula orang-orang yang melakukan praktik LGBT+, dosanya tidak lebih buruk dibanding kita yang pernah berbohong, menyakiti hati orang lain, atau malas pelayanan.
Paulus menasihati: “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama” (Rm. 2:1).
Apakah Dosa Ini Dapat Diampuni?.
Alkitab menyatakan bahwa tidak ada dosa yang tidak terjangkau oleh penebusan Kristus asalkan orangnya mau bertobat dan menerima Kristus. Perhatikan apa yang dinyatakan dalam 1Yoh. 1:9: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Di situ dinyatakan segala dosa, sehingga praktik LGBT+ pasti termasuk di dalamnya.
Kemudian setelah memaparkan dosa-dosa tertentu yang dilakukan oleh sebagian jemaat Korintus, termasuk homoseksualitas (dalam 1Kor. 6:9-10), Paulus melanjutkan, “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1Kor. 6:11). Artinya, orang-orang seperti itupun tetap menerima pembenaran oleh Kristus setelah mereka bertobat.
Pembenaran dan Pengudusan yang Dialami oleh Orang-Orang LGBT+.
Bagaimana dengan orang-orang LGBT+ yang mengaku telah bertobat, namun mereka masih tidak bisa melepaskan orientasi seksualnya? Kita harus membedakan antara pembenaran dengan pengudusan. Pembenaran (Rm. 3:24) merupakan keadaan yang dialami oleh orang-orang yang bertobat dan menerima Kristus. Seketika itu juga, dosa-dosa mereka dihapuskan dan kapan pun mereka mati, pasti akan menerima hidup kekal. Pembenaran terjadi sekali dalam seumur hidup.
Namun setelah dibenarkan, mereka masih harus menghadapi pergumulan dosa (walaupun orang-orang yang telah menerima Kristus tidak lagi hidup dalam dosa/terus-menerus secara sengaja menikmati dosa). Demikian juga orang-orang LGBT+ yang telah bertobat mungkin masih menyukai sesama jenis dan menghadapi godaan dari lingkungan yang dulu. Di sinilah mereka akan mengalami proses pengudusan (Flp. 2:13) yang dilakukan oleh Roh Kudus. Pengudusan ini berlangsung seumur hidup.
Pembenaran diterima sama oleh semua orang, dalam arti sama-sama dihapuskan seluruh dosanya. Tetapi proses pengudusan dialami secara berbeda. Ada orang-orang LGBT+ yang dipulihkan orientasi seksualnya, tetapi ada juga yang seumur hidupnya diizinkan Tuhan untuk tetap memiliki ketertarikan dengan sesama jenis. Jika sama-sama bertobat, maka sama-sama tetap akan memperoleh hidup kekal, walaupun yang satu terlihat lebih besar perubahan hidupnya.
Bedakan Antara Godaan dengan Praktik Dosa.
Berkaitan dengan pembahasan tersebut, kita perlu membedakan antara godaan dengan praktik dosa. Allah tidak pernah menghukum manusia hanya karena mengalami godaan. Ingat, Tuhan Yesus pun digoda oleh Iblis. Tetapi apakah itu menjadikan Tuhan Yesus berdosa? Tidak. Alkitab menyatakan: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15).
Demikian pula orang-orang LGBT+ yang bertobat, tidak akan dinyatakan berdosa hanya karena tidak bisa berubah untuk tertarik kepada lawan jenis.
Namun orang-orang LGBT+, bahkan yang mengaku sudah bertobat, akan dinyatakan berdosa apabila orientasi seksual itu telah diwujudkan, baik dalam pikiran maupun perbuatan. Mereka tentu saja berdosa ketika di dalam pikiran membayangkan (maaf) berhubungan seksual sesama jenis atau malah melakukannya. Hal-hal semacam itu melanggar kekudusan (Im. 19:2; 20:26).
Pola kepemimpinan yang alkitabiah ~ Pemahaman tentang kepemimpinan merupakan hal yang penting. Jhon C. Maxwell berpendapat, bahwa: “Setiap orang membicarakannya, hanya sedikit yang memahaminya. Kebanyakan orang menginginkannya; hanya sedikit yang mencapainya”. Sangat setuju dengan pandangan dari Jhon C. Maxwell tersebut.
Merupakan suatu gagasan yang sangat tepat berkaitan dengan sejauh atau sedalam apa sebenarkan pemahaman tentang hakekat kepemimpinan yang sebenarnya, sehingga dalam prakteknya tidak ditemukan hasil-hasil yang diharapkan dari kepemimpinan itu sendiri. Itulah sebabnya, betapa penting memiliki pemahaman tentang hakekat kepemimpinan dengan baik, tepat dan benar.
Kepemimpinan merupakan instrumen untuk mencapai tujuan dari sebuah organisasi. Dengan adanya kepemimpinan maka ada kekuatan yang menggerakkan (faktor manusia) ke arah tujuan yang telah direncanakan. Jadi kepemimpinan adalah suatu proses dimana pemimpin mempengaruhi, menentukan, mengarahkan, dan memberdayakan anggota-anggota melalui kerjasama. untuk melakukan sesuatu yang diyakini harus dilakukan.
Secara Praktis, menurut Yakob Tomatala dalam tulisannya mendefinisikan kepemimpinan dapat dipahami dari beberapa pandangan, yaitu: Kepemimpinan adalah seni bekerja (tahu, mau dan aktif bekerja) bersama dan melalui orang lain. Kepemimpinan juga didefinisikan sebagai seni pemenuhan kebutuhan orang yang dipimpin dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama. Dan kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai seni mempengaruhi dan menggerakan orang untuk bekerja sama secara terkoordinasi, dimana semua orang bergerak untuk melakukan tugasnya dengan baik berdasarkan program yang telah dicanangkan dalam kinerja keorganisasian secara menyeluruh.
Menurut Charles J. Keating, “Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau kelompok orang untuk tujuan bersama.” Penekanan Carles pada “seorang pemimpin kekuatannya terdapat pada pengaruh.” Sedangkan , John R. Mott menyatakan bahwa: “Seorang pemimpin adalah seorang mengenal jalan dan berjalan terus ke depan serta dapat menarik orang lain mengikuti dia.” Ini yang berarti kekuatannya terletak pada bagaimana pemimpin mempunyai visi yang kuat sehingga membuat orang-orang yang dipimpinnya mengikuti jejaknya.
Adapun, Lord Montgomery mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk mengarahkan orang laki-laki dan perempuan untuk satu tujuan bersama, dan watak yang menimbulkan kepercayaan. Disini kekuatan seorang pemimpin dalam memberi kenyakinan atau suatu harapan yang pasti bagi pengikutnya. Adapun kepemimpinan pada umumnya difahami orang Kristen dapat dijabarkan dari dua perspektif, yang diantaranya adalah: kepemimpinan perspektif umum dan kepemimpinan perspektif Alkitab.
1. Kepemimpinan Persepektif Umum.
Pemimpin dan kepemimpinan dapat dikatakan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dimana disepanjang jaman selalu menjadi bahan pembicaraan yang tidak pernah usang dan selalu terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya.
Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Kemudian, pemimpin juga disebut sebagai suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki keterampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin.
Pemimpin harus mampu memberi pengaruh terhadap orang – orang yang dipimpin. Artinya, dapat memberi dampak untuk mengikuti apa yang menjadi tujuan dan mencapai harapan. Di samping itu, pemimpin juga harus mempunyai wawasan yang luas dalam menangkap segala sesuatu, yang kemudian diterjemahkan dan diteruskan kepada bawahannya dalam bentuk gambaran-gambaran riil dari suatu pencapaian tujuan. Charles J. Keating, “Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau kelompok orang untuk tujuan bersama.” Dan John R. Mott menyatakan bahwa: “Seorang pemimpin adalah seorang mengenal jalan dan berjalan terus ke depan serta dapat menarik orang lain mengikuti dia.
Pendapat keduanya memperkuat pendapat para pakar lainnya, supaya dalam kepemimpinan tersebut; pemimpin membawa semua orang yang dipimpinannya memiliki pemahaman yang sama untuk bersatu dan bekerja bersama mencapai tujuan. Bahkan mampu membuat orang- orang yang ada dibawahnya mempunyai kepercayaaan yang kuat akan pemimpinnya, seperti ” Lord Montgomery mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk mengarahkan orang laki-laki dan perempuan untuk satu tujuan bersama, dan watak yang menimbulkan kepercayaan.
Jadi dapat disimpulkan definisi kepemimpinan berdasarkan perspektif umum adalah suatu proses yang ditentukan oleh kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi sebanyak mungkin orang, demi tercapainya sebuah tujuan.
2. Kepemimpinan Perspektif Alkitab.
Pada prinsipnya, kepemimpinan Kristen memiliki kesamaan dengan kepemimpinan umum, yaitu sebuah proses terencana yang dinamis. Yang membedakan dalam konteks kepemimpinan kristiani ada pada proses dan dinamikanya karena kepemimpinan tersebut merupakan rencana dan campur tangan Tuhan. Dalam Kepemimpinan Kristen, seluruh kegiatan kepemimpinan berdasarkan pada kehendak Allah dan dalam pencapaiannya adalah dilakukan sesuai dengan tujuan Allah.
Definisi kepemimpinan perspektif Alkitab dapat dipahami dari beberapa pandangan tokoh kepemimpinan Kristen, di antaranya adalah: Dr. Yakob Tomatala, yang mengatakan bahwa kepemimpinan Kristen adalah “suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen yang di dalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin untuk memimpin umatnya guna mancapai tujuan Allah.[10] Disini dijelaskan bahwa; Tuhan dengan rencanaNya menunjuk seseorang untuk memimpin sesuai dengan kehendakNya.
Oswald Sander dalam tulisannya mengatakan bahwa: Kepemimpinan dalam perspektif Alkitab adalah sebuah campuran antara sifat-sifat alamiah dan rohaniah. Sifat alamiah yang bukan timbul begitu saja, melainkan diberikan oleh Allah, dan oleh karena itu sifat-sifat ini akan mencapai efektifitasnya yang tertinggi jika digunakan di dalam melayani Allah dan untuk kemulianNya.
Sedangkan Oswald melihat dari dua sisi yang saling terkait dalam diri seseorang untuk digunakan dalam suatu pelayanan secara efektif. Robert Clinton mendefinisikan kepemimpinan yaitu: “Kepemimpinan (Kristen) ialah suatu proses terencana yang dinamis yang di dalamnya seorang pemimpin dengan kapasitas dan tanggungjawab pemberian Allah memimpin (menggerakkan) suatu kelompok orang atau para bawahan ke arah tujuan Allah yang menguntungkan pemimpin dan bawahan.”
Ini 10 peristiwa terpenting yang terjadi dalam Perjanjian Lama ~ Ada banyak kisah atau peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Lama. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peristiwa-peristiwa terbesar dan paling berpengaruh yang dicatat di Alkitab Perjanjian Lama, baik dalam hal positif maupun negatif. Peristiwa-peristiwa tersebut mencakup peristiwa dalam sejarah manusia pada umumnya serta peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah bangsa Israel, umat pilihan Tuhan.
Sebagai informasi, pasal-pasal pertama Alkitab Perjanjian Baru, yakni Kitab Kejadian, mencatat tentang sejarah manusia pada umumnya. Setelah itu, pada pasal-pasal berikutnya dalam Kitab Kejadian hingga seluruh kitab-kitab di Perjanjian Lama, lebih fokus mencatat tentang peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sejarah bangsa Israel sendiri. Dalam artikel ini akan dibahas 10 peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Lama. Peristiwa-peristiwa apa sajakah itu? Berikut pembahasannya.
3. Tuhan memanggil Abraham dan mengikat perjanjian dengannya.
Setelah peristiwa air bah terjadi, yang menewaskan segala mahluk di bumi, kecuali Nuh sekeluarga, kejahatan manusia di bumi ternyata tidak berkurang, malahan semakin bertambah. Salah satu contohnya adalah kisah menara Babel, di mana manusia bersatu untuk meninggikan diri dengan cara membuat patung yang tingginya mencapai langit, seakan-akan ingin menyamai Allah. Hal ini dipandang Tuhan sebagai suatu kejahatan, sehingga bahasa mereka itu dikacaukannya dan mereka diserakkannya (Kejadian 11).
Kemudian Allah memanggil Abraham untuk mengadakan perjanjian dengannya. Abraham tadinya belum dikenal, bahkan ayahnya, Terah, adalah seorang penyembah berhala. Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya dan pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkanNya. Ia berjanji akan membuat nama Abraham masyhur, dan oleh Abraham seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati. Siapa yang memberkati Abraham akan diberkati Tuhan dan siapa yang mengutuknya akan dikutuk Tuhan.
Abraham menaati panggilan Tuhan tersebut. Ia meninggalkan negerinya di Ur-Kasdim dan pergi ke negeri yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Ia membawa istrinya, Sara, dan keponakannya, Lot serta segala hartanya dan orang-orangnya. Maka sampailah mereka di Tanah Perjanjian, Tanah Kanaan, di dekat Sikhem (Kejadian 12).
Di Tanah Perjanjian Tuhan menampakkan diri kepada Abraham. Ia berjanji akan memberikan negeri itu kepada keturunannya. Tuhan berjanji akan membuat keturunannya sebanyak bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut (Baca: 10 Tokoh Alkitab Terbesar Di Perjanjian Lama). Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa oleh Abraham seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati Tuhan, hal ini terutama melalui Yesus Kristus, keturunan Abraham, yang akan menyelamatkan seluruh dunia dari akibat dosa Adam (lihat poin 1 di atas).
Kini Tuhan lebih memfokuskan kasihNya kepada sekelompok kecil manusia, yakni keturunan Abraham (umat Israel), dan memberi hukumNya kepada mereka tanpa mengabaikan bangsa-bangsa lain, hingga tiba saatnya Yesus datang ke bumi untuk menyelamatkan seluruh manusia yang berdosa, baik orang Israel, maupun bangsa-bangsa lain di luar Israel.
4. Bangsa Israel dimerdekakan dari Mesir dan dipimpin menuju ke tanah perjanjian.
Setelah Abraham meninggal, maka Tuhan mengikat perjanjianNya dengan Ishak, anak Abraham dan Sara. Tuhan juga memilih Yakub, anak Ishak, sebagai saluran kasih karuniaNya. Dan Ia mengkikat perjanjianNya dengan Yakub dan mengganti namanya menjadi Israel. Salah satu anak Yakub, adalah anak kesayangannya, yakni Yusuf. Yusuf diperlakukannya secara istimewa. Karena itu saudara-saudara Yusuf menjadi iri kepada Yusuf lalu menjualnya ke Mesir.
Lama kemudian Yusuf menjadi orang kepercayaan Firaun, Raja Mesir. Dan melalui mimpi Firaun, Yusuf mengumpulkan banyak gandum di Mesir, karena akan ada tujuh tahun masa kelimpahan di Mesir dan tujuh tahun lagi akan ada masa paceklik.
Ketika masa paceklik itu tiba, maka anak-anak Yakub di Tanah Kanaan (Tanah Perjanjian) pergi ke Mesir untuk membeli gandum. Setelah Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya, maka Yakub pun datang ke Mesir, beserta seluruh keluarganya, sebanyak 75 jiwa. Mereka menjadi pendatang di Mesir yang ditempatkan di satu tempat khusus yang terpisah dari bangsa Mesir.
Ketika Yusuf mati, dan Firaun yang lain bangkit, yang tidak mengenal Yusuf, maka dia mulai memperlakukan bangsa Israel dengan begitu keras. Apalagi ketika jumlah orang Israel semakin bertambah banyak di Mesir, raja Firaun yang baru membuat kebijakan untuk membasmi orang Israel dengan cara membunuh bayi-bayi mereka. Mereka juga diharuskan kerja paksa di Mesir. Tuhan kemudian memanggil Musa dan memerintahkannya untuk membawa umatNya keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian yang telah Ia janjikan kepada nenek moyang mereka, Abraham, Ishak dan Yakub. Setelah sempat menolak, Musa akhirnya pergi menemui teman sebangsanya.
Tetapi raja Mesir, Firaun, tidak mengizinkan bangsa Israel pergi dari Mesir, sebab mereka adalah budak-budak yang dipekerjakan Firaun, kepergian mereka akan menjadi kerugian bagi dia dan bangsa Mesir. Namun Tuhan mendatangkan banyak tulah kepada Firaun dan bangsanya sehingga Firaun melepaskan bangsa Israel dari perbudakannya (Keluaran 6-12). Di padang gurun menuju Tanah Perjanjian bangsa Israel memberontak kepada Tuhan. Sebab ketika Ia mengutus 12 pengintai ke Tanah Perjanjian, 10 orang dari pengintai itu memberi kabar buruk kepada orang Israel, dan sebagian besar orang Israel mempercayainya sehingga mereka menolak pergi ke tanah perjanjian dan ingin kembali ke Mesir.
Karena itu Tuhan sangat murka ke bangsa Israel, Ia membunuh semua orang yang tak percaya itu, laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas, kecuali Kaleb dan Yosua yang tidak ikut memberontak kepadaNya. Jadi yang akan masuk ke Tanah Perjanjian hanya mereka yang berusia 20 tahun ke bawah serta perempuan dan anak-anak. Namun mereka harus berputar selama 40 tahun di padang gurun sebelum masuk ke tanah perjanjian, sampai semua para pemberontak tersebut mati di padang gurun (Bilangan 13-14).
Bahkan Musa sendiri, pemimpin mereka, terpancing dengan tingkah laku orang Israel, yang dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, keras kepala dan keras hati. Akibatnya Musa pun marah dan memukul gunung batu sebanyak dua kali, sehingga Tuhan murka kepadanya dan kepada Harun serta tidak mengizinkan mereka masuk ke Tanah Perjanjian.
Ini 10 peristiwa penting dalam Perjanjian Baru ~ Ada banyak kisah atau peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah, yang dicatat di Alkitab Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kedatangan Yesus ke dunia sebagai manusia dan setelah kenaikanNya ke surga.
Seperti kita ketahui, sebagian dari kitab-kitab di Alkitab Perjanjian Baru, yang berjumlah 27 kitab, merupakan kitab-kitab “sejarah/hikayat”, yang mencatat banyak peristiwa penting. Kitab-kitab tersebut adalah kitab-kitab Injil, yang mencatat hidup dan karya Yesus di dunia; serta Kitab Kisah Para Rasul, yang mencatat kelahiran dan perkembangan gereja Tuhan di bumi. Peristiwa-peristiwa apa sajakah yang termasuk ke dalam 10 peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Baru? Berikut pembahasannya.
4. Yesus naik ke sorga disaksikan oleh para murid.
Setelah menampakkan diri selama 40 hari kepada murid-muridNya, maka Yesus naik ke surga meninggalkan murid-muridNya. Kenaikan Yesus ke surga terjadi setelah Ia terlebih dahulu memberi perintah kepada murid-muridNya untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa (Matius 28:19-20).
Tuhan Yesus naik ke surga dari atas bukit Zaitun, di pinggiran kota Yerusalem (Kisah Para Rasul 1:9,12). Saat Yesus naik ke surga, Ia disaksikan oleh murid-muridNya. Setelah naik ke surga, Alkitab menggambarkan bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah (Markus 16:19). Istilah duduk di sebelah kanan Allah punya makna otoritas dan perkenanan.
5. Roh Kudus dicurahkan dan lahirlah jemaat mula-mula.
Sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, Ia memerintahkan agar murid-muridNya tidak meninggalkan kota Yerusalem sebelum mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, yaitu dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus, seperti yang dijanjikan oleh Bapa (Lukas 24:49; Kisah Para Rasul 1:4). Hal ini dituruti oleh murid-muridNya. Ketika mereka kembali dari bukit Zaitun, tempat di mana Yesus naik ke surga, ke kota Yerusalem, mereka naik dan berdoa di ruang atas di tempat mereka menumpang di Yerusalem. Jumlah mereka saat itu adalah 120 orang (Kisah Para Rasul 1:12-15).
Pada hari ke-10 mereka berdoa, yakni hari ke-50 setelah kenaikan Yesus ke surga, maka turunlah Roh Kudus atas mereka dalam bentuk lidah-lidah api dan mereka penuh dengan Roh Kudus. Lalu Petrus berkhotbah di hadapan orang banyak, dan ada sekitar 3000 orang yang bertobat (Kisah Para Rasul 2). Inilah hari kelahiran gereja Tuhan di bumi.
Jadi walaupun “benih-benih” gereja sudah ada ketika Tuhan Yesus memilih murid-muridNya yang pertama, yaitu dua belas rasulNya ditambah dengan orang-orang lain yang percaya kepadaNya, namun baru pada Hari Pentakosta (Hari Pencurahan Roh Kudus) gereja lahir dan “diresmikan”.
Ini 10 peristiwa penting dalam Perjanjian Baru ~ Ada banyak kisah atau peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah, yang dicatat di Alkitab Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kedatangan Yesus ke dunia sebagai manusia dan setelah kenaikanNya ke surga.
Seperti kita ketahui, sebagian dari kitab-kitab di Alkitab Perjanjian Baru, yang berjumlah 27 kitab, merupakan kitab-kitab “sejarah/hikayat”, yang mencatat banyak peristiwa penting. Kitab-kitab tersebut adalah kitab-kitab Injil, yang mencatat hidup dan karya Yesus di dunia; serta Kitab Kisah Para Rasul, yang mencatat kelahiran dan perkembangan gereja Tuhan di bumi. Peristiwa-peristiwa apa sajakah yang termasuk ke dalam 10 peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Baru? Berikut pembahasannya.
6. Stefanus dirajam dengan batu sampai mati sebagai martir pertama.
Stefanus adalah satu dari tujuh diaken gereja mula-mula di Yerusalem. Ia seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 6:5). Selain itu, ia juga penuh karunia dan kuasa, sehingga ia mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak (Kisah Para Rasul 6:8). Stefanus terlibat dalam perdebatan dengan jemaat Sinagoge Yahudi, dan mereka menyeret Stefanus ke Mahkamah Agama Yahudi.
Di Mahkamah Agama ini Stefanus harus menghadapi tuduhan saksi-saksi palsu. Mereka menuduhkan kepada Stefanus bahwa Tuhan Yesus yang diberitakannya akan merubuhkan Bait Suci mereka dan mengubah hukum Taurat dan adat-istiadat yang diwariskan Musa kepada bangsa Yahudi. Namun tanpa takut Stefanus melakukan pembelaannya serta berkhotbah dengan penuh keberanian.
Mendengar khotbah Stefanus, orang-orang Yahudi sangat marah. Sebab Stefanus mengecam mereka sebagai orang-orang yang keras kepala dan selalu menentang Roh Kudus. Akibatnya mereka pun melempari Stefanus dengan batu sampai mati!
Tetapi justru kematian Stefanus inilah yang menjadi awal gereja mula-mula untuk memberitakan Injil di wilayah Yudea dan Samaria (Kisah Para Rasul 8:1-3). Dengan demikian, tanpa mereka sadari, mereka sedang menggenapi perintah Tuhan Yesus untuk membawa Injil ke Yudea dan Samaria (Kisah Para Rasul 1:8).
7. Injil diberitakan kepada keluarga Kornelius yang menjadi percaya.
Kornelius adalah seorang perwira pasukan Romawi. Dia jelas bukan orang Yahudi. Namun ia adalah seorang yang “takut akan Allah”, yakni seorang penganut agama Yahudi. Kornelius seorang yang saleh, yang banyak beramal bagi umat Yahudi. Dan ia juga seorang yang senantiasa berdoa kepada Allah.
Pada waktu berdoa, Kornelius dikunjungi oleh seorang malaikat, yang menjelaskan bahwa ia harus menjemput seorang yang bernama Simon (Simon Petrus) untuk menyatakan keselamatan kepadanya dan seisi rumahnya. Awalnya Petrus enggan menaati panggilan Tuhan, sebab ia berpikir bahwa Injil hanya ditujukan bagi bangsa Yahudi saja, bukan bagi segala bangsa. Tetapi akhirnya Petrus datang ke rumah Kornelius dan menceritakan tentang keselamatan di dalam nama Tuhan Yesus, sehingga ia dan seisi rumahnya menjadi percaya.
Ketika teman-teman sebangsanya menentang Petrus, maka Petrus menjelaskan kepada mereka bahwa Allah yang memanggil dia ke rumah Kornelius dan bahwa Injil ditujukan bagi semua orang dari segala bangsa (Kisah Para Rasul 10).
Pemberitaan Injil kepada Kornelius sekeluarga menjadi penting, sebab inilah pemberitaan Injil pertama kali kepada bangsa bukan Yahudi.
Ini 10 peristiwa penting dalam Perjanjian Baru ~ Ada banyak kisah atau peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah, yang dicatat di Alkitab Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kedatangan Yesus ke dunia sebagai manusia dan setelah kenaikanNya ke surga.
Seperti kita ketahui, sebagian dari kitab-kitab di Alkitab Perjanjian Baru, yang berjumlah 27 kitab, merupakan kitab-kitab “sejarah/hikayat”, yang mencatat banyak peristiwa penting. Kitab-kitab tersebut adalah kitab-kitab Injil, yang mencatat hidup dan karya Yesus di dunia; serta Kitab Kisah Para Rasul, yang mencatat kelahiran dan perkembangan gereja Tuhan di bumi. Peristiwa-peristiwa apa sajakah yang termasuk ke dalam 10 peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Baru? Berikut pembahasannya.
8. Rasul Paulus dan Barnabas diutus untuk memberitakan Injil.
Paulus adalah seorang rasul Tuhan Yesus yang memberitakan Injil ke banyak bangsa dan mendirikan banyak gereja di mana-mana. Sebelum bertobat, ia bernama Saulus, dan ia adalah seorang penganut agama Yahudi yang sangat fanatik serta telah membunuh dan menganiaya banyak orang Kristen. Ketika sedang dalam perjalanan ke Damsyik, Siria, untuk menganiaya dan membunuh orang Kristen, maka Saulus pun bertobat setelah Yesus menampakkan diri kepadanya (Kisah Para Rasul 9:1-9).
Ketika Barnabas diutus ke gereja Antiokhia yang baru berdiri, Barnabas menjemput Paulus ke kampung halamannya di Tarsus, dan membawanya bersamanya ke Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:22-26). Barnabas dan Paulus kemudian menjadi pemimpin gereja Antiokhia. Lalu Roh Kudus memilih mereka berdua untuk memberitakan Injil ke berbagai kota (Kisah Para Rasul 13:1-3).
Inilah titik awal pemberitaan Injil secara besar-besaran ke bangsa-bangsa lain, hingga ke “ujung bumi” seperti perintah Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 1:8).
Awalnya Paulus memberitakan Injil bersama Barnabas, setelah itu Paulus memberitakan Injil dengan teman-temannya yang lain, hingga ia tiba di kota Roma, pusat kekaisaran Romawi, dan mati martir di situ. Paulus mendirikan banyak gereja di kota-kota yang dia injili, seperti di Efesus, Korintus, Filipi, Tesalonika, dll.
9. Gereja perdana melakukan siding pertama di Yerusalem.
Sejumlah orang Kristen Yahudi di Yudea pernah mengajarkan ajaran sesat di Antiokhia (jemaat mayoritas non-Yahudi) dengan mengatakan bahwa untuk bisa diselamatkan, maka seseorang harus disunat. Karena itu gereja melakukan “konsili” atau rapat umum para pemimpin (rasul-rasul dan para penatua) di gereja Yerusalem. Gereja yang melakukan rapat di sini adalah perwakilan gereja Antiokhia dan gereja Yerusalem. Namun hasil sidang itu dikirimkan kepada gereja-gereja lainnya di berbagai kota.
Dan pada sidang Yerusalem ini diambil keputusan penting yang menyangkut orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain/non-Yahudi, yakni mereka “tidak harus disunat” dan melakukan Hukum Taurat Musa agar bisa diselamatkan, kendati mereka diberi beberapa aturan demi kelancaran hubungan mereka dengan orang-orang Kristen Yahudi (Kisah Para Rasul 15:1-34).
Menarik untuk disimak, keputusan tersebut ternyata bukan hanya keputusan para pemimpin gereja, melainkan juga keputusan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 15:28).
Jadi bahwa sunat dan aturan-aturan Taurat lainnya tidak dapat menyelamatkan manusia pada dasarnya bukanlah ketetapan manusia, tetapi ketetapan Allah.
Lewat peristiwa ini, gereja keluar dari kungkungan sekelompok Yahudi yang legalistik, yang tidak memahami esensi Injil yang membebaskan manusia dari aturan-aturan formal Hukum Taurat.
10. Rasul Yohanes menerima pewahyuan tentang akhir zaman di pulau Patmos.
Setelah Yesus naik ke surga, Ia menampakkan diriNya kepada Yohanes, salah satu murid terdekatNya, dan menyingkapkan kepadanya peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di bumi hingga kedatanganNya kedua kali ke dunia. Peristiwa-peristiwa yang akan terjadi tersebut, dalam bentuk nubuat dan penglihatan, kemudian dibukukan, itulah Kitab Wahyu, kitab terakhir dari kitab-kitab di Perjanjian Baru, bahkan di seluruh Alkitab.
Penglihatan-penglihatan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang ini diterima oleh Yohanes di pulau Patmos (Wahyu 1:9), yang termasuk wilayah Yunani.
Penglihatan Yohanes di pulau Patmos berisi tentang kemenangan Tuhan dan umatNya atas kejahatan dan iblis. Penglihatan ini merupakan penghiburan besar bagi gereja Tuhan yang sedang mengalami penganiayaan pada saat itu; tetapi juga menjadi penghiburan besar bagi gereja-gereja di segala zaman dan tempat, seraya menantikan kedatangan kembali sang Raja, Yesus Kristus Tuhan.
Itulah 10 peristiwa terpenting yang terjadi di Perjanjian Baru.