Custom JavaScript Footer

Showing posts with label Yesus. Show all posts
Showing posts with label Yesus. Show all posts

Saturday, May 21, 2022

Dalam Anugerah Tuhan Kita Dipanggil Untuk Melayani Dia

Dalam anugerah Tuhan kita dipanggil untuk melayani Dia ~ Landasan firman Tuhan untuk tema dalam anugerah Tuhan kita dipanggil untuk melayani Dia diambil dari surat rasul Paulus kepada anak rohaninya Timotius, yaitu dalam 2 Timotius 1:3-12. Secara lengkap kebenaran firman Tuhan itu saya lampirkan di bawah ini. 1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. 1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. 1:6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. 1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. 1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. 1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman 1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. 1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. 1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
Ketika Jhon Wesley berumur lima tahun rumah keluarganya terbakar. Semua anggota keluarga wesley selamat dari musibah tersebut, termasuk jhon Wesley. Namun Jhon Wesley hampir saja tidak terselamatkan, saat itu ia sedang berada di kamar atas. Ia diselamatkan orangtuanya di menit-menit terakhir ketika rumahnya roboh akibat kobaran api. Dikemudian hari, Wesley melihat peristiwa itu sebagai sebuah tanda bahwa Tuhan mempunyai rencana yang besar didalam hidupnya yaitu melayani Tuhan secara penuh waktu. Kita di panggil menjadi percaya kepada Kristus dan menjadi mitra-Nya dalam pelayanan bukan karena Dia melihat kita baik dan berkualitas dari segala sisi kehidupan kita. Melainkan karena belas kasihan Tuhan. Dalam Roma 11:29, Paulus berkata: “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” Artinya apa? Allah begitu mengasihi kita (Yohanes 3:16) dan Dia tidak pernah menyesal dengan segala keputusanNya. Lalu bagaimanakah sikap dan tindakan yang benar dalam menerima panggilan Tuhan? Berdasarkan 2 Timotius 1:3-12 sedikitnya ada tiga hal penting yang mesti kita perhatikan. Satu, mengikuti dan melayani Tuhan semestinya dengan hati nurani yang murni (3). Paulus sosok hamba Tuhan yang memiliki hati nurai yang murni di dalam melayani Tuhan. Dia melayani denga kejujuran, kesungguhan hati. Tidak ada motivasi terselubung di dalam pelayanannya selain hanya untuk menyenangkan tuannya Yesus Kristus. Kemurnian hati seseorang dalam pelayanan akan terlihat dan itu di uji oleh waktu dan tantangan yang dihadapinya. Dua, terimalah panggilan dengan iman yang tulus ikhlas (5). Di dalam buku “Teologi Dasar 2” tulisan Dr.Charles C.Ryrie. iman ialah keyakinan menganggap sesuatu atau seseorang itu benar. Iman kekeristenan adalah menganggap Yesus adalah pribadi yang benar dan satu-satunya yang sanggup menyelamatkan manusia berdosa. Dalam kontek pelayanan, kehidupan dan pelayanan kita ada dalam kendali Tuhan. Itulah iman yang tulus. Tiga, panggilan Tuhan sifatnya kudus maka kehidupan si penerima panggilan mesti kudus (9). Panggilan Allah kepada kita bukanlah main-main. Karena yang memanggil kita bukan manusia tetapi Allah, Raja segala raja. Dia adalah pribadi yang kudus. Oleh karena itu kehidupan kitapun harus mencerminkan kekudusan-Nya. Melayani Allah adalah kesempatan yang paling berharga didalam kehidupan ini karena itu jagalah pelayanan kita agar tidak menjadi batu sandungan.

Saturday, April 30, 2022

Hanya Tuhan Yesus Yang Sanggup Mengatasi Masalah Rohani Kita

Hanya Yesus yang sanggup mengatasi masalah rohani kita ~ Landasan firman Tuhan untuk tema hanya Yesus yang sanggup mengatasi masalah rohani kita, diambil dari Injil Lukas. Demikian firman Tuhan : “Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” – Lukas 24:16 HIDUP ADALAH KESEMPATAN. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Dalam bahasa aslinya, ayat diatas diterjemahkan mata mereka tertahan dari mengenal Dia. Artinya, mereka terhalang untuk mengenali Yesus. Tetapi disaat makan, orang asing ini melakukan tindakan yang membuat mereka tersentak. Ia memecahkan roti. Detik itu juga mata rohani mereka terbuka. Yang duduk bersama mereka adalah Yesus yang sudah bangkit. Nah kalau begitu, rupanya yang tadi berjalan bersama mereka dan sekarang duduk dimeja makan adalah Yesus sendiri. Anehnya, begitu mereka mengenali Yesus, Dia langsung raib. UNTUK MENGENAL YESUS, MATA ROHANI KITA HARUS CELIK. Mata rohani beda dengan mata jasmani. Mata jasmani sering menipu kita. Kelihatannya menggiurkan, padahal racun. Nampaknya jalannya mulus, padahal penuh jebakan. Sekilas menjanjikan kebahagiaan, padahal menyengsarakan. Untuk bisa mengenali Yesus yang sudah bangkit, maka kuncinya, mata rohani setiap orang harus dicelikkan. Jika mata rohani kita buta, jangan harap bisa mengenali Yesus yang bangkit. Alih alih mengenali Yesus yang bangkit, mengenali Yesus yang belum mati saja sulit !
INGAT KISAH DUA BELAS PENGINTAI?. Dalam Perjanjian Lama, tatkala kedua belas orang pengintai itu diutus untuk menyelidiki keadaan kota Kanaan, apa yang terjadi? Kesepuluh orang pulang dengan bersungut sungut, mereka katakan kita mustahil bisa merebut Kanaan. Disitu tembok kotanya tinggi tinggi, penghuninya manusia raksasa dan sebagainya. Beda halnya dengan Yosua dan Kaleb, mereka pulang dengan wajah berseri seri. Dengan penuh optimisme, keyakinan diri, mereka katakan Kita pasti menang Apakah kedua belas orang itu matanya buta sehingga melihat keadaan yang berbeda? T I D A K ! Mereka semuanya sehat matanya, bisa melihat dengan jelas. Tetapi yang membedakan adalah yang sepuluh orang mata rohaninya buta. Sedangkan yang dua orang, Kaleb dan Yosua, tidak buta ! APA BEDANYA MATA ROHANI YANG CELIK DENGAN YANG BUTA? Mata rohani yang buta tidak bisa melihat kondisi yang sebenarnya. Mata rohani yang buta, hanya mengandalkan mata jasmani. Yang muncul adalah ketakutan dan tidak nampak harapan. Mata rohani yang buta membuat Kesempatan menjadi kesia siaan Bedanya dengan mata rohani yang celik, sebaliknya. Mata rohani yang terbuka akan membuat Hidup yang sia sia menjadi kesempatan. Kesulitan memang didepan mata. Rintangan kelihatan jelas menghalangi. Tembok kesusahan kokoh berdiri. Tetapi mata rohani yang sudah dicelikkan, akan melihat ada Tuhan yang menyertainya. JANGAN JADI SEPERTI PARA MURID PADA WAKTU ITU. Mereka begitu terbuai dengan pengharapan mereka sendiri. Akibatnya tatkala apa yang mereka harapkan tidak terwujud, mereka kecewa berat. Seakan akan apa yang mereka lakukan selama mengikuti Yesus sia sia. Contoh yang paling jelas ada pada diri Petrus. Petrus merasa lebih baik kembali ke hidupnya dimasa lalu, menjadi nelayan kembali. YESUS SANGAT MENGASIHI PETRUS, JUGA ANDA. Cita cita Petrus yang ingin kembali kepada hidupnya yang lama tidak kesampaian. Yesus menangkapnya kembali untuk menjadi Penjala manusia. Saat itu, Yesus sudah berdiri dihadapan Petrus dan teman temannya. Tetapi mereka tidak mengenali Yesus. Petrus yang sudah kembali kepada hidupnya yang lama, setelah melihat Yesus yang bangkit, akhirnya berubah pikiran, kini kembali mengikut Yesus, Tuhan yang tidak pernah bosan mengasihinya. Petrus menyerah saat menyaksikan cinta Yesus yang teramat hebat kepadanya. KONDISI ANDA KINI SEPERTI PETRUS? Berada dalam kebimbangan. Hampir kehilangan harapan. Maju kena, mundur kena. Anda ingin kembali ke cara hidup anda yang lama? Anda merasa sia sia mengikuti Yesus ? Pertanyaan yang harus anda jawab dengan jujur, Apakah saat ini mata rohani anda berfungsi dengan baik ? Jika anda merasa ada masalah, datanglah kepada Yesus, mohon kepadaNya untuk mencelikkan mata rohani anda. Hanya orang orang yang mata rohaninya celik, bisa melihat bahwa masih ada kesempatan didalam Yesus. Para murid termasuk Petrus, akhirnya mendapat kesempatan setelah mata mereka celik. Petrus dan para murid mengalaminya, mengapa anda tidak ?

Thursday, March 17, 2022

Kristus Mengasihi Kita Agar Kita Juga Mengasihi Sesama

Kristus mengasihi kita agar kita juga mengasihi sesama ~ Landasan firman Tuhan untuk tema Kristus mengasihi kita agar kita juga mengasihi sesama, diambil dari surat rasul Paulus kepada orang-orang percaya, orang-orang kudus, jemaat Tuhan Yesus yang ada di kota Efesus, yaitu dalam Efesus 5:2. Demikianlah firman Tuhan : ”dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah”. Rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus menuliskan surat ini dan mengirimkannya kepada jemaat di Efesus. Rasul Paulus memberi motivasi dan juga memberi nasihat rohani kepada mereka supaya kasih itu menjadi cara hidup mereka. Mengapa demikian? Jawaban dan alasannya ialah karena Tuhan Yesus Kristus telah mengasihi mereka yang dibuktikan dengan mengorbankan, memberikan dan menyerahkan diri-Nya mati di atas kayu salib. Tentunya hal tersebut tidak hanya ditujukan kepada jemaat di Efesus saja, namun firman Tuhan itu juga buat kita sampai dengan hari ini. Allah sudah memberikan teladan kepada kita dengan pengorbanan Yesus, Anak yang dikasihi-Nya sebagai perdamaian di antara kita dengan Allah dan mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Yesus sudah menjadi persembahan yang harum bagi Allah, demikian juga kita sekarang. Itulah manifestasi kasih yang sempurna. Dan Allah menghendaki kita untuk memanifestasikan kasih dalam hidup kita melalui wujud perbuatan iman atau buah Roh. Kita seharusnya menghasilkan buah Roh. Kehidupan kekristenan tak dapat dipisahkan dari kasih, artinya setiap orang yang percaya kepada Kristus harus memiliki kasih dalam hidupnya.
Kasih seperti apa? Bukan kasih yang hanya digembar-gemborkan di atas mimbar atau ditulis dalam slogan dengan huruf besar dan tinta berwarna supaya menarik banyak orang, tetapi kasih yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? “… sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Kor. 4:7-8). OLEH KARENA ITU, SETIAP ORANG KRISTEN DIPERINTAHKAN UNTUK HIDUP DI DALAM KASIH. JADI, MENGASIHI DENGAN KASIH KRISTUS ADALAH GAYA HIDUP ORANG KRISTEN. TUHAN YESUS BERKATA, “DENGAN DEMIKIAN SEMUA ORANG AKAN TAHU, BAHWA KAMU ADALAH MURID-MURID-KU, YAITU JIKALAU KAMU SALING MENGASIHI” (YOH. 13:35). Identitas orang percaya bukan hanya terlihat dari pengakuannya saja di muka umum bahwa dia adalah orang Kristen, melainkan juga dengan mendemonstrasikan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Orang percaya harus hidup saling mengasihi dengan kasih Kristus. Hidup dalam kasih berarti harus membuang semua sifat “manusia lama” kita yang cenderung egois, mementingkan diri sendiri dan tidak punya kepedulian terhadap orang lain. Bukan hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mampu mengasihi orang yang telah menyakiti dan membenci kita. Bila kita tetap memperlihatkan kasih kita kepada Kristus dengan menanggalkan manusia lama yang cenderung egois dan mementingkan diri sendiri, maka kita sedang mengalahkan dunia dengan segala kemewahan dan kegemerlapannya yang sewaktu-waktu bisa memperdaya kita dengan kesombongan dan keangkuhan. Yang terutama dari itu, kita seharusnya mau belajar meneladani kasih Yesus. DALAM KASIH-NYA, YESUS MEMBERIKAN TELADAN YANG LUAR BIASA. DI MANA KASIH YESUS ADALAH KASIH YANG TIDAK MEMANDANG MUKA, TIDAK MEMANDANG WAKTU, TANPA PAMRIH DAN TANPA SYARAT (BEBERAPA RENUNGAN BERIKUTNYA AKAN MEMBAHAS TENTANG KASIH YESUS INI, YAKNI TANPA PANDANG MUKA, HINGGA TANPA SYARAT). Itulah mengasihi yang dikehendaki oleh Kristus Yesus di dalam kita, di mana kasih Kristus mewarnai hidup kita dan kita pun mewarnai sekeliling kita dengan kasih-Nya.

Monday, November 29, 2021

Saling Menyembuhkan Di Dalam Tuhan

Saling menyembuhkan di dalam Tuhan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema, saling menyembuhkan di dalam Tuhan, diambil dari surat Yakobus 5. Secara lengkap kebenaran firman Tuhan tersebut saya lampirkan di bawah ini. Yakobus 5. Peringatan kepada orang kaya. 5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! 5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! 5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. 5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu. 5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan. 5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.
Bersabar dalam penderitaan. 5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. 5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! 5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. 5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. 5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan. Penjelasan bagian pertama sudah saya sampaikan dalam artikel terdahulu. Dan ini merupakan pembahasan kedua sebagai lanjutan dari yang pertama. Silahkan pembaca setia blog ini mengutinya di bawah ini. Dua, kekuatan komunitas orang percaya. Pada ayat 7-20, Yakobus menyatakan bahwa walau kita itu miskin bukan berarti kita tidak memiliki apa apa. Oh, kita punya banyak hal. Paling tidak kita punya komunitas yang saling support. Dan didalam komunitas iman, kita bisa kaya dalam berbagai macam karunia dan kebajikan yang berdampak. Mungkin apa yang kita lakukan itu itu kecil tetapi itu cukup buat menghidupkan api semangat kebersamaan. Di dalam komunitas, kita bisa saling meneguhkan dan memiliki harapan yang sangat besar akan Kerajaan Allah (yang mungkin bagi penguasan dan orang kaya, ini adalah kebodohan; namun bagi umat Allah ini dalah kekuatan yang luas biasa untuk menjalani hari hari dalam kemiskinan dan penderitaan). Kita diingatkan akan nasehat (dan janji berkat) dari Tuhan Yesus sendiri : “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:3). Nah, nasehat Tuhan Yesus Kristus inilah yang ditegaskan kembali oleh Yakobus : “Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” (Yak 5:10-11) Yakobus juga mengajak agar kita semua bisa hidup dalam komunitas yang saling memperhatikan dan menyembuhkan. Memang kita bisa jadi miskin dan (seolah) tidak memiliki apa apa.. namun kita kaya dalam berbagai karunia, dan kita punya Tuhan dan punya saudara yang saling memperdulikan. Kita punya Tuhan yang terbukti peduli dan menyertai, dengan kuasanya yang ajaib. Dan kita punya saudara seiman yang saling menguatkan. Kita juga punya penatua yang bisa berdoa dan mengoleskan minyak untuk menyembuhkan, mana kala kita sakit. Sebab doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yak 5:16). Ingatlah akan kisah Elia, walau paceklik mencekik dan kemiskinan membawa kepada kematian, namun pertolongan Tuhan itu pasti akan datang tepat pada waktunya. Karena itu bersabarlah, hadapi semua dengan kekuatan iman dan kebersamaan dalam komunitas yang saling menguatkan. Biarlah yang berkelebihan (kaya) memperhatikan sesamanya dan biarlah kita saling membangun dan menguatkan dengan lidah kita. Jangan iri kalau miskin dan jangan sombong kalau kaya. Jauhilah perkara perkara duniawi yang menimbulkan perselisihan diantara jemaat dan hiduplah sebagaimana panggilan untuk bertumbuh dalam komunitas yang berTuhan yang utuh dalam prektek iman dan perbuatan. Amin

Monday, November 15, 2021

3 Janji Keselamatan Yang Digenapi Dalam Diri Yesus

3 janji keselamatan yang digenapi dalam diri Yesus ~ Bagi orang percaya, pokok pembahasan tentang janji keselamatan dalam Alkitab telah diterima secara luas di setiap kesempatan kehidupan ini. Ketika kita menyerahkan diri kita untuk menerima dan mengakui bahwa Tuhan adalah penyelamat dan dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, hidup ini bukan lagi milik kita sendiri tetapi milik Tuhan. Janji keselamatan adalah salah satu Injil utama bahwa manusia harus menyebar ke penjuru dunia sebagai sebuah misi karena ketika Tuhan Yesus naik ke surga, Dia telah menasihati orang-orang yang mengikutinya pada waktu itu untuk menyebarkan firman Allah dan janji keselamatan kepada semua bagian dunia sehingga mereka dapat memperoleh keselamatan yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Tugas orang percaya tidak berhenti di situ dan berhenti ketika Injil keselamatan telah diberitakan, maka orang percaya juga harus menyebarkan dan memberikan Injil kerajaan kepada mereka yang selamat, tentu saja dalam hal ini kita membutuhkan tujuan pemberian itu dari Roh Kudus. Janji keselamatan dalam Alkitab dapat dengan mudah dipahami ketika memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. Tidak ada jalan lain menuju Bapa jika tidak melalui Yesus Kristus. Janji keselamatan dalam Alkitab dapat dilihat dalam Yohanes 3:16, menjelaskan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran dan kehidupan, dan tidak ada manusia yang bisa sampai kepada Bapa melalui Dia. Di sini ditekankan dengan jelas jika Tuhan Yesus adalah penyelamat yang dapat mendamaikan dan membawa manusia ke hadapan Tuhan dan tidak ada cara lain selain Dia.
Tuhan Yesus sebagai korban penebusan bersedia dan menyerah untuk minum piala murka Allah terhadap umat manusia atas dosa, Yesus pasti memiliki ketakutan yang luar biasa karena hidup dan tubuhnya akan disiksa selama proses penyaliban Kristus yang akan ia hadapi tetapi karena kasih-Nya yang begitu besar bagi kita. Dia menyerahkan semua yang digenapi dan terjadi pada diri-Nya. Janji keselamatan dalam Alkitab ada bahkan jauh sebelum Tuhan Yesus di dunia ini mengambil bentuk manusia. Ketika manusia pertama kali jatuh ke dalam dosa Allah tidak hanya meninggalkannya secara langsung, Allah memiliki rencana besar untuk mendapatkan orang kembali dari keterjeratan iblis dan cara hidup gereja modern yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Tuhan Yesus adalah janji keselamatan di dalam Alkitab yang telah digenapi dan merupakan keselamatan yang sempurna, keselamatan yang telah Dia berikan tidak hanya dapat diterima oleh satu orang, tetapi semua manusia memiliki posisi yang sama dalam menerima keselamatan ini. 2. Yesus Kristus digambarkan sebagai domba paskah. Bangsa Isreel telah lama melakukan beberapa ketentuan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan cara lainnya adalah memberikan korban bakaran dalam bentuk domba pertama. Ketika Tuhan Yesus menginginkan salib di dalam Alkitab, dijelaskan bahwa Allah dan murid-muridnya mengadakan perjamuan terakhir di hadapan Tuhan di kayu Salib. Tuhan Yesus di kayu salib melambangkan persembahan Paskah sejati menggantikan domba pertama yang dibakar. Tuhan Yesus dalam wujud manusia dan karakter Kristus yang ada di dalam Dia adalah persembahan yang benar, harum dan paling sempurna di hadapan Allah. Yesus menggantikan posisi manusia yang berdosa meskipun Dia sendiri tidak berdosa, itu benar-benar kasih-Nya bagi kita manusia yang banyak celaan ini. Darah yang dicurahkan-Nya di kayu salib melambangkan bahwa manusia berdosa telah dibersihkan dari dosa yang mengikat sehingga manusia dapat memiliki kehidupan yang aman di dalam Dia. Darah adalah harga mahal yang harus dibayar oleh manusia yang jatuh dalam dosa, tetapi Tuhan Yesus ingin agar orang-orang yang dicintainya tidak binasa bersama iblis. 3. Yesus Kristus adalah keselamatan. Kita dapat melihat janji keselamatan di dalam Alkitab dari awal dalam perjanjian lama sebelum Tuhan Yesus lahir di dunia. Untuk waktu yang lama bahkan telah dinubuatkan bahwa Juruselamat akan menimpa manusia yang dilahirkan dari seorang perawan yang berasal dari keturunan umat pilihan Allah. Jika kita menggambarkan sisi keturunan Maria dan Yusuf, satu sumber akan ditemukan yaitu orang yang adalah pilihan Allah ketika perjanjian lama terjadi. Untuk waktu yang lama Tuhan ingin bersatu kembali dengan ciptaan manusia, karena dahulu kala banyak orang dipanggil oleh-Nya karena dosa dan tidak sedikit juga yang gagal karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan. Jadi ketika memasuki perjanjian baru memenuhi nubuat yang telah lama ditetapkan melalui pribadi Yesus Kristus Juru Selamat, di sini kita perlu mengingat kembali dan mengetahui lebih dalam arti kelahiran Yesus Kristus. Tuhan mengorbankan anak tunggalnya untuk menjadi sama dengan manusia, semua ini tidak lain adalah untuk memenangkan orang dari ikatan dosa yang menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan pemenuhan janji Tuhan bagi orang percaya. Dengan teladan Yesus Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib dapat disamakan dengan satu untuk biji gandum yang jatuh ke tanah dan kemudian mati yang kemudian dapat tumbuh dan menghasilkan lebih banyak biji gandum. Tuhan Yesus memberikan hidupnya bagi kita orang percaya sebagai makanan dan persediaan hidup yang memadai. Janji keselamatan dalam Alkitab tidak akan pernah dipenuhi jika Tuhan tidak menyerahkan anak-Nya yang sama dengan manusia dan mati sebagai ganti orang berdosa. Semua pengetahuan dan kebaikan yang ada dalam diri manusia tidak bisa membuat kita memperoleh keselamatan sejati, keselamatan sejati hanya bisa diperoleh di dalam Kristus dan melalui Kristus. Sesi roti yang biasanya kita lakukan mengingatkan kita bagaimana tubuh Kristus dihancurkan dan dibagikan kepada banyak orang dalam bentuk roti dan anggur tidak beragi yang melambangkan darah Kristus yang telah dimeteraikan yang telah merekonsiliasi manusia dari cawan Allah murka. Pengetahuan dan kemampuan manusia dapat dibatasi, asalkan Anda memiliki kerinduan dan selalu ingin menuntut agar Anda selalu dekat dengan Tuhan, iman kita tentu akan terus diberikan persediaan dan kehidupan yang diterima meluap dan dapat disalurkan ke orang lain.

Saturday, October 30, 2021

Tetap Bersama Yesus Walau Kita Ada Di Jalan Penderitaan

Tetap bersama Yesus walau kita ada di jalan penderitaan ~ Ketika Yesus berada di Galilea, datanglah orangorang Farisi kepada-Nya, mereka berkata: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau”. Kita tahu bahwa selama perjalanan hidup Yesus, orang-orang Farisi tidak suka kepada-Nya, mereka berusaha mencobai Yesus karena sikap Yesus yang tidak mengenal kompromi terhadap kelakuan orang-orang Farisi pada umumnya. Alkitab juga tidak menjelaskan apakah peringatan dari orang-orang Farisi itu adalah sebuah kepedulian yang tulus untuk memperingatkan Yesus tentang bahaya yang datang dari penguasa negeri itu atau sekedar ingin menakut-nakuti Yesus agar Ia cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut. Namun Yesus menjawab peringatan orang-orang Farisi tersebut dengan berkata: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu, Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga, Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidak semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.” (Luk.13:32-33).
Yesus sebagai Anak Allah tahu benar akan misi karya keselamatan Allah yang harus diselesaikan-Nya di Yerusalem, bukanlah di Galilea. Dia juga tahu benar bahwa yang akan menganiaya diri-Nya bukanlah dari golongan non Yahudi seperti Herodes, melainkan para imam, ahli Taurat, dan orang-orang Farisi yang merasa amat terganggu dengan kehadiran Yesus karena kehadiran-Nya membuat citra mereka di mata umat Yahudi menurun dan mereka berpaling kepada Yesus yang telah banyak menolong mereka dengan mengusir setan, menyembuhkan orang-orang yang mengalami sakit-penyakit, bahkan yang sudah bertahun-tahun sakit dan tidak ada yang dapat menyembuhkan mereka kecuali Yesus. Di samping itu Yesus juga melakukan banyak mujizat yang membuat umat Israel menjadi yakin bahwa Dia-lah sang mesias. Tetap bersama Yesus walau kita ada di jalan penderitaan. Perjalanan Yesus menuju Yerusalem bukanlah perjalanan biasa, melainkan adalah sebuah perjalanan menyongsong penderitaan yang akan ia alami sampai dengan akhir hayat-Nya. Bisa saja Yesus tetap berlama-lama di Galilea atau membatalkan perjalanan ke Yerusalem, dengan konsekuensi misi karya penyelamatan Allah bagi manusia tidak akan terlaksana. Tetapi hal itu mungkin bisa dilakukan oleh orang biasa dan bukan oleh Yesus yang adalah Anak Allah yang taat kepada misi yang sudah ditentukan dan dinubuatkan oleh Allah dengan perantaraan para nabi. Yesus tidak lari dari “cawan pahit” yang disediakan bagi-Nya meskipun harus menjalani penderitaan dan kesengsaraan untuk menggenapi misi yang diemban-Nya. Penderitaan, penganiayaan, bahkan kematian yang dialami Yesus bukanlah dilakukan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan, melainkan oleh mereka yang mengaku memiliki pengetahuan agama yang tinggi seperti para imam, ahli Taurat, dan orang-orang Farisi. Mereka merasa terganggu kemapanannya dengan hadirnya Yesus dalam masyarakat Yahudi yang membuat seakan mereka ditinggalkan oleh umat dan tidak ada lagi kebanggaan bagi mereka, sehingga tega melakukan penghakiman terhadap Yesus. Marilah kita belajar untuk tidak bersikap seperti mereka yang gemar membanggakan kemapanan teologi maupun pengetahuan lain untuk merendahkan orang lain. Marilah kita melakukan pertobatan dengan tindakan koreksi diri. Adakah anggota-anggota tubuh kita yang membuat kita berdosa melalui pikiran, perkataan, dan tingkah laku yang merugikan orang lain dan tidak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah? Marilah kita semua bersedia mengikut Yesus di jalan penderitaan dan kerendahan.

Wednesday, October 27, 2021

Diselamatkan Untuk Berbuat Baik

Diselamatkan untuk berbuat baik ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari surat rasul Paulus kepada orang Kristen yang ada di kota Galatia, yaitu dalam Galatia 6:1-10. Dalam Galatia 6:9, rasul Paulus dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah”. Setelah manusia pertama yaitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka sejak saat itu relasi Allah dengan manusia terputus. Allah tidak bisa lagi tinggal bersama dengan manusia. Salah satu buktinya ialah manusia diusir dari Taman Eden. Allah tetap mengasihi manusia sekalipun Dia membenci dosa. Itu sebabnya Allah mengutus Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan dan mendamaikan manusia dengan Allah. Melalui Yesus kita diselamatkan dan didamaikan dengan Allah. Setelah kita diselamatkan, maka Allah mau supaya kita berbuat baiklah kepada sesama kita. Selain itu, kita juga harus berbuat baiklah kepada ciptaan Allah yang lain. Selanjutkan, kita juga diperintahkan oleh Tuhan untuk berbuat baiklah kepada musuh kita sekalipun.
Berbuat baiklah adalah perintah dari Allah kepada kita. Berbuat baiklah merupakan salah satu cara dan bukti bahwa kita memiliki iman. Lebih dari itu berbuat baiklah merupakan tanggung jawab sosial kita kepada sesama manusia yang membutuhkan uluran tangan kita. Berikut merupakan kisah dari salah bentuk berbuat baiklah kepada sesama kita. Kehadiran sesama di dalam kehidupanDi sebuah kota kecil, tinggallah seorang gadis dengan ibunya yang selalu mengajarinya untuk menjadi berkat. Suatu pagi, pintu rumah mereka diketok seseorang. Gadis itu pun membuka pintu dan tampaklah seorang anak laki-laki yang lusuh. Sambil memandangnya ragu, anak itu meminta segelas air. Alih-alih membawakan air putih, gadis itu memberikan segelas besar susu yang habis dalam sekejap. Lalu si anak bertanya berapa harga susunya. Namun gadis itu tersenyum dan mengatakan susu itu gratis. Dua puluh tahun kemudian, gadis itu didiagnosa sakit kronis. Para dokter di kotanya angkat tangan dan merujuknya pada seorang dokter spesialis di kota besar. Di sana, ia menjalani operasi dan perawatan untuk penyakitnya. Ketika akhirnya ia sembuh dan diperbolehkan pulang, ia pun hendak membayar tagihan rumah sakit. Sejenak kekuatiran melandanya. Ia tidak yakin bisa mebayar seluruh biaya perawatannya. Namun ketika menerima lembar tagihannya, sebagai ganti sejumlah uang yang mungkin tidak mampu dibayarnya, tertera sebuah pesan: “Telah dibayar lunas dengan segelas susu.” Janji Tuhan tidak pernah salah. Ketika kita menabur, kita pasti akan menuai. Jika kita berbuat baik, maka suatu hari kebaikan itu akan kembali pada kita. Bahkan tuaian yang sudah Tuhan sediakan jauh lebih besar dari apa yang telah kita taburkan. Itulah sebabnya, seperti yang dikatakan dalam Galatia 6:9, jangan berhenti berbuat baik. Lakukan perbuatan baik itu secara terus-menerus dan berkali kali. Terkadang situasi dan kondisi membuat kita sulit untuk berbuat baik, tetapi jangan sampai garam dalam kehidupan kita menjadi tawar dan hidup kita dinilai tidak ada gunanya lagi oleh Tuhan. Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita secara konsisten berbuat baiklah kepada semua orang termasuk kepada musuh kita sekalipun. Kita harus terus berbuat baiklah sebagai bukti bahwa kita adalah murid Yesus. Bentuk lain dari berbuat baiklah yaitu menjadi terang dan garam bagi dunia ini. Dengan berbuat baiklah, maka kita sedang melakukan misi sosial kita. Berbuat baiklah sebenarnya kita tidak akan pernah rugi. Malah sebaliknya dengan berbuat baiklah justru kita akan mendapat keuntungan selama hidup di dunia. Bahkan keuntungan dari berbuat baiklah akan dibawa sampai ke sorga. Dengan demikian, kita pun akan dibawa Tuhan masuk ke level kemuliaan yang lebih besar dalam rencana-Nya. Biarlah kebaikan-kebaikan kita menjadi sebuah kesaksian yang membawa banyak orang kepada Tuhan, sehingga revival itu pun terjadi. Tuhan Yesus memberkati.

Tuesday, October 26, 2021

Kristus Yang Hidup Di Dalam Kita

Kristus yang hidup di dalam kita ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari surat rasul Paulus kepada orang Kristen yang ada di kota Galatia, yaitu Galatia 2:16-21. Dalam Galatia 2:20a, rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus terkait dengan Kristus beserta dengan kita, menulis demikian: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Akibat dari lehernya yang terbelit tali pusat saat lahir, Rick Hoyt lumpuh total, bahkan berbicara pun tidak bisa. Namun dengan bantuan komputer khusus, ia dapat berkomunikasi dengan ayahnya. Sejak Rick kecil, mereka selalu beraktivitas bersama. Saat berenang, Dick menarik Rick yang tergeletak di atas perahu karet. Sewaktu bersepeda, Dick membonceng Rick dengan sepeda balap khusus. Ketika berlari, Dick mendorong Rick yang duduk di kursi rodanya. Ketidakberdayaan sekaligus ketergantungan Rick kepada ayahnya, membuat Dick merasa perlu untuk terus berada bersama Rick. Menolongnya, dan mengusahakan apa yang diinginkannya dapat tercapai. Termasuk keinginan untuk berpartisipasi dalam lomba The Ironman Triathlon.
Perlombaan tersebut mencakup kompetisi renang sejauh 3,8 km, balap sepeda berjarak 180 km dan maraton sejauh 42 km. Bukan perkara yang mudah bagi siapa pun untuk menyelesaikan perlombaan ini. Namun berkat pertolongan ayahnya, Rick Hoyt tercatat sebagai peserta dan berhasil menyelesaikan perlombaan tersebut. Begitu pula dengan banyak perlombaan setelahnya. Pada Maret 2016, saat Rick berusia 54 tahun, tercatat bahwa mereka berhasil melakukan 1.130 perlombaan bersama. Tidakkah kebersamaan ayah dan anak ini mengingatkan akan hubungan kita sendiri dengan Tuhan? Dalam banyak hal kita begitu tidak mampu. Namun bersama Kristus kita dapat melakukan banyak hal. Bahkan perkara-perkara yang besar. Masalahnya, banyak orang Kristen yang menjalankan hidup seolah-olah Tuhan jauh dari mereka. Padahal ketika kita menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, Dia sudah masuk dan seperti kata Paulus, Dia hidup dalam kita. Di mana pun kita dan ke mana pun kita pergi, Kristus selalu ada bersama kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah sungguh-sungguh menyadarinya. Kesadaran itulah yang memampukan kita tinggal dalam hadirat-Nya 24/7. Sehingga kita pun dapat terus-menerus bersekutu intim dengan-Nya dan mengalami kepenuhan Roh Kudus setiap waktu. Jika Dia hidup dalam kita, maka Dia akan bekerja dan memanifestasikan kuasa-Nya melalui kita. RENUNGAN. Pembaca yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, untuk dapat HIDUP BERSAMA KRISTUS 24/7, maka kita perlu MENYADARI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH bahwa DIA TINGGAL DALAM KITA APLIKASI. 1. Sudahkah Anda sungguh-sungguh menyadari bahwa Kristus tinggal bersama dan di dalam Anda? Mengapa demikian? 2. Apa yang dapat Anda lakukan untuk mulai menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Anda hidup bersama Kristus 24/7? DOA UNTUK HARI INI. “Bapa, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Meski sering kali kami merasa bahwa Engkau jauh, tetapi sesungguhnya Engkau selalu dekat, bahkan sangat dekat. Biarlah kesadaran itu benar-benar tertanam dalam hati dan pikiran kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.”

Monday, October 25, 2021

Benarkah Uang Itu Jahat Bagi Kita Part 2

Benarkah uang itu jahat bagi kita? ~ Dalam Alkitab, keberadaan uang juga dapat dipakai untuk dua kepentingan. Uang dapat dipakai untuk hal-hal baik, termasuk dalam mendukung pelayanan Yesus (Lukas 8 : 3). Sebaliknya, uang juga dapat menjadi sumber ketamakan dan menjerumuskan manusia dalam dosa seperti kisah Ananias dan Safira (Kis 5:1-11). Alkitab juga menekankan pada bahaya dan kelemahan yang sering menghinggapi manusia jika sudah berhubungan dengan uang. Dalam 1 Timotius 6:10, sikap cinta uang disebut sebagai akar segala kejahatan. Yesus sendiri berfirman bahwa uang adalah satu hal yang mudah membuat seseorang menjadi tidak setia ( Matius 6 : 24 ). Cara pengelolaan keuangan dalam Alkitab juga banyak mencatat dan menekankan tentang memberi kepada kehidupan yang kekurangan dan butuh pertolongan. Seorang hamba Tuhan yang saya kenal dengan baik dan yang sangat baik terhadap saya, juga selalu mengelola keuangannya bagi mereka yang berkekurangan. Ada keuangan tertentu yang sudah hamba Tuhan ini khususkan untuk kehidupan-kehidupan yang kekurangan.
Memang ini salah satu cara pengelolaan keuangan yang sangat baik dan yang tentu pasti menyenangkan hati Tuhan. Sebab Tuhan sendiri juga merupakan Pribadi yang selalu memperhatikan mereka yang kekurangan. Tuhan tidak hanya memperhatikan kehidupan rohani saja, buktinya Ia juga melakukan mujizat seperti memberi makan 5000 dan 4000 orang pria. Lebih dari itu, Ia juga menyatakan pembelaanNya terhadap mereka yang miskin dan tertindas: “Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kau dengarkan ya Tuhan; Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telingaMu.“ (Mazmur 10:17). Bahkan Ulangan 15:11 dengan jelas menyatakan agar kita membuka tangan lebar-lebar kepada mereka yang miskin dan tertindas. Tetapi hukum ini tidak bisa dilakukan orang seorang pemuda kaya dalam Injil Markus 10:17-27, pemuda kaya ini tidak bisa memakai hartanya untuk memberkati sesamanya yang kekurangan. Dan hal itu sangatlah disayangkan sebab Yesus yang mengajarkan bahwa kekayaan itu hendaknya dipakai untuk melayani Tuhan dan sesama karena kekayaan merupakan sarana untuk memperhatikan sesama, namun pemuda kaya itu tidak sanggup memakai kekayaannya untuk hal yang demikian; dan hal inilah yang menjadi penyebab kegagalannya untuk setia mengikuti Yesus. Padahal saudara, kalaupun ia memakai hartanya untuk memperhatikan orang miskin, ia tidak akan rugi, sebab apa saudara? Sebab resep menjadi kaya ala Alkitab sungguh unik. Amsal 11 : 24 berkata “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.“ Tuhan tidak menyukai orang kikir, tetapi Ia memberkati orang-orang yang murah hati dan berbelas kasihan kepada mereka yang malang dan perlu bantuan. Berkat Tuhan bukan untuk kita nikmati sendiri, tapi muliakan Dia dengan berkat itu. Bahkan Amsal 19 : 17 mengatakan bahwa menolong orang miskin sama seperti memiutangi Tuhan. Itu sebabnnya, jangan kita seperti orang muda yang kaya ini takut rugi karena menolong orang lemah, tidak! Sebab Tuhan sendirilah yang akan membalasnya, justru saat kita memberi kepada orang lain, saat itu kita bagaikan sedang memiutangi Tuhan. Tapi saudar, bagi kehidupan yang masih kekurangan, Tuhan juga tidak ingin kita memiliki mental miskin, artinya jangan kita menjadikan kemiskinan kita sebagai alat untuk dibelaskasihani, untuk mengeluh, untuk mendapatkan perhatian orang lain, namun sebaliknya apapun keadaan kita saat ini, biarlah kita tetap memiliki mental kaya yang artinya kita mau berusaha menurut kemampuan kita tanpa membebani orang lain. Dan lebih dari itu milikilah selalu pengharapan bukan kepada kekayaan dan harta benda, namun pengharapan kepada Tuhan bahwa Ia akan memberi apa yang menjadi bagian kita menurut kekayaan dan kemuliaanNya, amen? Bahwa Tuhan akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19). Itu sebabnya kita tidak akan kuatir lagi, sebab selama di dunia, Yesus juga lebih banyak melakukan pelayanan dan berbicara kepada mereka yang termasuk dalam kelompok rakyat miskin. Dan salah satu pengajaranNya tentang kemakmuran dan kekayaan adalah soal kekhawatiran. Matius 6 : 25-34 menyatakan janji dari Tuhan bahwa bagi kita yang percaya, tidak perlu ada kekhawatiran akan kebutuhan kita, sebab semuanya telah disediakan oleh Allah seperti Ia memelihara burung di udara dan rumput di padang, demikianlah Ia memelihara kita, amen? Sungguh Dia Tuhan yang sangat baik, tidak hanya rohani yang Ia perhatikan, tapi kehidupan jasmani juga Ia perhatikan.

Hidup Kita Yang Benar Mendatangkan Kemuliaan Bagi Allah

Hidup kita yang benar mendatangkan kemuliaan bagi Allah ~ Landasan firman Tuhan untuk tema hidup kita yang benar mendatangkan kemuliaan bagi Allah diambil dari Injil Matius. Demikianlah firman Tuhan : “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” – Matius 5:16. Di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru, karakter yang lama, yang sia-sia, yang jahat, yang berdosa, yang menyimpang, yang gelap dan yang bertentangan dengan firman Tuhan sudah harusnya tidak ada lagi. Karakter yang baru, yang benar, yang sesuai dengan firman Tuhan, yang sesuai dengan kehendak Roh Kudus, dan yang berkenan kepada Allah menjadi bagian yang baru di dalam hidup kita. Rasul Paulus berkaitan dengan ciptaan yang baru dalam Kristus, menulis firman Tuhan demikian : “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” – 2 Korintus 5:17. BUAT APA TERANG YANG ADA DALAM HIDUP KITA?. Saat lampu mati mendadak, seluruh penghuni di kompleks perumahan seperti koor paduan suara, serempak berteriak, wah ! Lampu atau terang dibutuhkan oleh semua orang. Melewati jalan gelap, orang pasti membawa senter. Supaya terhindar masuk ke selokan, jangan sampai terantuk batu, menabrak orang lain atau masuk kedalam jurang jika berada di pegunungan.
TERANG LAMPU/CAHAYA SAJA BEGITU DIBUTUHKAN MANUSIA, APALAGI TERANG TUHAN. Karena dosa telah menjerat manusia, mereka kini hidup dan berjalan dalam kegelapan. Manusia sulit membedakan mana terang, mana gelap. Dosa sudah dianggap biasa. Manusia membutuhkan terang supaya hidupnya tidak menuju kepada kebinasaan. Anak anak, remaja, pemuda hingga orang dewasa perlu terang. Masa depan mereka gelap, segelap jalan yang mereka lalui sekarang. Banyak orang putus asa dan akhirnya bunuh diri akibat gelap sudah menguasai hidup mereka. BERAPA BANYAK ORANG YANG MATI BUNUH DIRI?. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia. Angka orang yang kehilangan nyawa akibat bunuh diri bahkan lebih parah dibanding jumlah orang yang terbunuh dalam perang. Total terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri tiap tahunnya. Anda bisa bayangkan dalam 10 tahun terakhir, 8 juta orang mati bunuh diri. Siapakah mereka? Mungkin saja orang yang dekat dengan anda. Bisa juga keluarga sedarah sedaging dengan anda. Bukan tidak mungkin, orang tua atau anak anak kita. APAKAH ANDA AKAN DIAM SAJA, TIDAK PERDULI? Sebagai orang orang yang sudah memiliki TERANG, kita harus segera bertindak. Jangan diam saja ! Jangan jadi penonton ! Sebagai anak Terang kita harus mempengaruhi dunia, jangan sebaliknya, dunia mempengaruhi anda ! BAGAIMANA CARANYA?. Simak apa yang ditulis dalam Efesus 5:8-9 berikut ini : “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang. Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. KEBAIKKAN APA YANG ANDA SUDAH LAKUKAN KEPADA SESAMA KITA SELAMA INI?. Paulus menasehati jemaat di Galatea untuk tidak bosan bosan berbuat baik. Jika itu anda lakukan, kelak anda akan menuai apa yang anda tabur. Semua kekayaan anda, harta milik anda, apapun, akan berakhir dipinggir kuburan. Anda tidak akan pernah bisa membawanya ! SELAGI MASIH ADA KESEMPATAN, BAGIKANLAH TERANG KEPADA SESAMA KITA. ANDA TIDAK AKAN PERNAH MENYESAL TELAH MENABUR KEBAIKKAN.

Sunday, October 24, 2021

Membangun Persekutuan Yang Saling Mengasihi

Membangun persekutuan yang saling mengasihi ~ Landasan firman Tuhan untuk tema membangun persekutuan yang saling mengasihi, diambil dari Kisah Para Rasul 4:32-37. Kebenaran firman Tuhan tersebut, saya lampirkan di bawah ini. Kisah Para Rasul 4:32-37. 4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. 4:34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa 4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
Ada slogan yang mengatakan: “Berbagi itu indah”. Apakah keindahannya? Dalam Firman Tuhan kita pada minggu ini terlihat jelas bahwa jemaat mula-mula atau orang-orang yang percaya pada Yesus hidup dalam kumpulan yang sehati dan sejiwa, yang selalu dapat merasakan apa yang dirasakan sesamanya. Oleh sebab itu jika ada saudaranya yang berkekurangan maka yang memiliki lebih akan membagi apa yang ada padanya agar saudaranya tidak lagi kekurangan. Tidak ada seorangpun yang menganggap bahwa apa yang dimilikinya adalah hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk bersama. Hal seperti ini sudah sangat langka di zaman sekarang, sangatlah sulit bagi kita untuk mau berbagi dari apa yang Tuhan berikan kepada kita. Karena apa? Karena kita menganggap bahwa apa yang kita miliki adalah hasil jerih lelah kita semata dan bukan pemberian Tuhan, maka sangat sulit bagi kita untuk berbagi pada orang lain karena kita anggap itu bukan pemberian Tuhan. Namun kalau kita merasa apa yang kita miliki adalah pemberian Tuhan bagi kita, maka kitapun tidak akan sulit untuk memberi kepada orang lain yang membutuhkannya. Mari kita lihat bagaimana orang-orang Kristen mula-mula, ketika mereka bersedia berbagi di tengah persekutuan mereka, maka mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Kesediaan untuk berbagi justru mendatangkan kasih karunia yang melimpah-limpah, bukan hanya saja cukup melainkan melimpah-limpah. Tidak ada yang berkekurangan karena bersedia berbagi. Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, Nyatalah ungkapan yang mengatakan “Berbagi itu indah” karena memang dampak dari kesediaan kita untuk berbagi adalah kita semua akan hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah, tidak akan ada yang berkekurangan. Kesediaan untuk berbagi juga menunjukkan bahwa hidup kita jauh dari kata egois, yang hanya mementingkan diri sendiri. Coba kita bandingkan dengan hidup kita orang Kristen zaman sekarang. Bagaimana sulitnya kita mau memberikan untuk orang lain karena kita merasa bahwa untuk kepentingan diri kita sendiripun pasti akan kurang. Itu sebabnya sudah lebih banyak orang yang merasa senang untuk “menerima” dari orang lain padahal dia mampu. Lihatlah bantuan-bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat yang kurang mampu, masih saja ada orang-orang yang mampu secara finansial mengambil bantuan itu. Dari sini dapat kita lihat bahwa masih banyak kita yang egois hanya mementingkan kebutuhan diri sendiri tanpa mau perduli dengan orang lain. Oleh sebab itu, melalui Firman Tuhan pada minggu ini, kita sebagai orang yang percaya pada kebangkitan Kristus diajarkan dan diberi teladan agar meniru kesaksian hidup orang Kristen mula-mula yang mau menunjukkan kasihnya dengan kesediaan berbagi, jauh dari keegoisan dan selalu perduli tentang kekurangan orang lain, dengan demikian maka akan berbahagialah kita semua karena tidak akan ada lagi orang yang berkekurangan.

Wednesday, October 20, 2021

Kita Diselamatkan Untuk Melayani Tuhan

Kita diselamatkan untuk melayani Tuhan ~ Belajar dari pembahsan di atas maka apa yang ditarik menjadi relevansi bagi kita di masa kini? Ada pertanyaan penting yang perlu kita simak bersama menyangkut hal panggilan Tuhan untuk melayani umatNya. Apakah kita menyadari bahwa kita dipanggil Tuhan untuk melayani umatNya? Lalu, sikap apakah yang kita perlihatkan menanggapi panggilan Tuhan itu? Bicara tentang hal itu pada dasarnya bukan urusan manusia dengan manusia, melainkan manusia dengan Tuhan. Menyadari apakah dipanggil atau belum dipanggil terlihat jelas dari hasil panggilan itu sendiri; dan lagi pula yang merasa bahwa dirinya dipanggil atau tidak adalah pribadi orang tersebut. Christian G. Weiss dalam bukunya “Pedoman Mentjari Kehendak Allah, menuturkan tiga modus panggilan Tuhan yang dapat saya dijelaskan di bawah ini. Satu, panggilan dari ladang Tuhan. Cobabaca Yohanes 4:35 “bukankah kamu menghatakan empat bulan lagi tibalah musim menjuai?” Yang dimaksud Yesus dengan gambaran singkat ini adalah: bahwa begitu banyak orang yang menantikan jamahan dan sentuhan ilahi dari Tuhan melalui perhatian dan tindakan nyata dari para pekerjaNya. Gereja kita merupakan salah satu bagian terkecil dari lading Tuhan yang sudah menguning dan siap untuk dituai oleh para pekerjaNya.
Ada begitu banyak anggota jemaat yang perlu diperhatikan, bahkan masalah-masalah dalam jemaat yang perlu diselesaikan. Semuanya ini butuh para pekerja Tuhan yang peka mendengar panggilan Tuhan dan taat serta setia untuk mengerjakan pekerjaan mulia ini. Jadi , Tuhan memakai gerejaNya/umatNya sebagai cara praktis untuk memanggil seseorang menjadi pekerjaNya dalam persekutuan orang-orang percaya (eklesia). Nah, apakah hal ini dirasakan oleh kita atau tidak? Dua, Kristus memanggil kita untuk melayani. Kita tahu bahwa Tuhan Yesis Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, dan Dia adalah Kepala dari persekutuan orang-orang dalam dunia ini (Lih. Fil 2:11 dan Ef 4:15). Sebagai Kepala Ia mempunyai hak penuh memanggil, melengkapi dan mengutus orang yang dipanggilNya.Yang dimaksud panggilan dari Kristus adalah panggilan yang mengandung unsur perintah untuk bekerja. Panggilan Yesus yang tertulis dalam Matius 28:19, “Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu…,” dan Kisa 1:8, “dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Ungkapan ini merupakan panggilan pengutusan Yesus bagi setiap orang percaya, siapa pun dia. Bahwa setiap orang Kristen yang lahir dan bertumbuh dalam persekutuan gereja, panggilan ini tetap melekat pada dahinya. Tugas dari setiap orang Kristen adalah memuridkan orang lain menjadi murid Kristus, entah itu ia sebagai orang Kristen yang statusnya sebagai warga gereja, maupun orang Kristen yang dipanggil secara khusus sebagai pelayan/pekerja Tuhan. Semua ini mutlak mendengar dan melaksanakan tugas panggilan dari Kristus, Kepala Gereja kita. Tiga, hati nurani kita memotivasi untuk melayani. Yang dimaksud dengan panggilan dari hati ialah panggilan yang bersumber dari pekerjaan Roh Kudus. Hati kita merupakan sarana yang dipakai Roh Kudus, memanggil kita menjadi alat kesaksian bagi umat. Hati batin kita akan diarahkan oleh Roh Kudus sebelum ada pengambilan keputusan untuk memperhatikan panggilan dari lading dan panggilan dari Kristus, dan selanjutnya Roh Kudus memakai hati kita memanggil untuk menjadi alat kesaksian bagi umat. Perhatikanlah pengalaman yang dialami oleh Philipus, dimana Roh Kudus memakai hati batinya mengajak dan menjelaskan kepada sida-sida dari tanah Etiopia bahwa Yesus Kristus nyang dinubuatkan dalam kitab Yesaya itu adalah benar-benar Anak Allah (Lih. Kis 8:26-40). Kisah yang sama juga dialami oleh Petrus ketika menjelaskan tentang hakikat Kristus kepada Kornelius. Petrus berargumen di depan kaum Yahudi di Yerusalem bahwa yang memimpin rohnya (batin) kepada Kornelius adalah Roh Kudus, bukan kekuatan dari dalam diri manusia untuk menjadi saksi (Lih. Kisa 11 dan 12). Pengalaman ini tentu saja dialami oleh setiap orang yang merasa dirinya dipanggil dalam pekerja Tuhan. Tuhan menciptakan batin kita masing-masing dan Ia sangat mengenalnya. Percaya atau pun tidak, kita yang sudah dipanggil ini tentu saja dalam keyakinan iman, kita percaya bahwa Tuhan telah memanggil dan menempatkan kita sebagai penggarap kebun anggur Allah yang siap dituai buah anggurnya yang sudah matang. Kita perlu tahu bahwa sebagai pelayan Tuhan dalam dunia secara umum dan khususnya jemaat yang kita layani bahwa segala cara yang dipakai Tuhan memanggil kita sebagai teman sekerjaNya, kita dituntut mengaminkan panggilan itu dan mengimplementasikannya dalam praktek gereja. Ingat, bahwa Tuhan setia menyertai kita sampai kepada akhir zaman, dan Ia tidak pernah menyesalkan panggilanNya pada seorang yang dipanggil (Lih. Roma 11:29).

Monday, October 18, 2021

Bebas Dari Belenggu Dosa Part 2

Bebas dari belenggu dosa ~ Apakah sesungguhnya dosa itu? Apakah dosa itu hanya sebuah ilusi, penyakit, atau hanya suatu kelemahan saja? Alkitab memiliki jawaban yang yang tepat tentang dosa, karena Alkitab memberitahu kepada kita asal-muasal dosa dan manusia. Alkitab menggunakan beberapa kata untuk menjelaskan mengenai dosa. Memahami tentang dosa Dosa merupakan satu kata negative yang sering muncul di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dosa merupakan sebuah masalah besar bagi hidup manusia. Dosa membuat manusia tidak berdaya dan tidak bisa menyelesaikan masalah dosa. 3. Dosa mengakibatkan kematian Rohani (Kejadian 2:17) Keadaan semua orang yang dilahirkan, dikuasai oleh sifat dosa, yang merupakan bagian dari upah dosa (Maz. 51:7). Hal itu mencerminkan kematian rohani seseorang yang adalah perpisahan dari Allah. Persekutuan yang seharusnya bisa kita nikmati bersama Allah dipatahkan, hal itu digambarkan waktu Adam menyembunyikan diri dari Allah (Kej 3:10).
4. Dosa mengakibatkan kematian kekal (Wahyu 20:14-15) Kematian kekal adalah kematian yang final. Kejadian itu merupakan perpisahan permanen dengan Allah. Namun, kematian yang ke-dua ini bukanlah pembasmian. Kematian ke-dua adalah penderitaan, penyiksaan dan kengerian yang tiada akhir.Tempat ini disediakan bagi iblis dan pengikut-pengikutnya, yakni manusia yang menolak percaya kepada Yesus Kristus (Matius 8:12, 25:46). Iblis berhasil menarik manusia ke dalam hukuman ini. Semua manusia telah berdosa dan pasti dihukum di Neraka bersama setan. Jalan Keluar Dari Dosa Dosa adalah kekejian bagi Allah.Dosa adalah penghinaan terhadap kekudusan Allah. Itulah mengapa Allah sangat membenci dosa.Dosa sangat bertolak belakang dengan kodrat Allah (Yes. 6:3; I Yoh. 1:5). Dosa telah membuat Allah murka. Dosa begitu luar biasa jahatnya sampai tidak ada obatnya. Orang berdosa tidak dapat memperbaiki keadaan mereka (Yer. 13:23). Bagaimana caranya keluar dari kengerian dosa? Bagaimanakah cara agar manusia babas dari dosa? Berbuat baikkah? Beramalkah? Atau rajin beribadah? Tidak. Semua itu tidak akan menyelamatkan manusia dari dosa dan hukumannya. Salib adalah jalan ke luarnya. Di kayu saliblah dosa diselesaikan. Salib membuktikan kebesaran kasih Allah dan betapa mengerikan dosa itu. Dosa kita telah menancapkan Yesus di atas kayu salib. Dosa kita telah menyebabkan seorang yang tak bersalah disiksa dan dibunuh. Dan oleh karena kasih-Nya yang amat sangat besar Ia dengan rela mau menjalani hukuman mati disalibkan. Karena kasih-Nya Yesus berkorban dijatuhi hukuman mati menggantikan kita. Seharusnyalah manusia yang mati dan dihukum di neraka, namun Yesus memilih menggantikan kita. Bagaimana Caranya Agar Kita Selamat? 1. Betobat (Kisah 3:19; Yes. 45:22; Kisah 17:30; Kisah 20:21) Tanpa pertobatan tidak mungkin ada pengampunan dosa. Bertobat artinya “berpaling dari durhakamu” (Yehez. 18:30). Hal ini berarti “mengakui” dan “meninggalkan” pelanggaran anda (Ams. 28:13), dan “membenci” dosa serta “menentangnya” (II Kor. 7:10-11). 2. Percaya (Kisah 16:21; Yoh.3:16,18) Bertobat dari dosa-dosa dan percaya kepada Tuhan Yesus berjalan seiring dan tidak dapat dipisahkan. Jika pertobatan khusus berbicara tentang sikap hati berbalik dari dosa dan diri sendiri, percaya menekankan kepada siapa hati kita terarah (Roma 10:9). Kita tidak bisa bertobat tanpa percaya kepada Yesus Kristus, atau percaya tanpa bertobat dari dosa-dosa kita. Hal ini tidak membawa kepada keselamatan. Bertobat dan percaya adalah iman yang membawa kepada keselamatan yang kekal (Ef. 2:8-9). Bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus bukan perbuatan, melainkan sikap hati yang terjadi sesaat atau seketika (bukan proses) ketika kita mendengarkan injil (I Kor. 15:2; Rom. 10:17). Ini adalah respon kita akan anugerah keselamatan yang telah Yesus sediakan dengan jalan mati disalibkan. Yesus sudah mengampuni semua dosa kita di atas kayu salib. Kuasa dosa telah dipatahkan. Anugrah keselamatan telah tersedia di dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu, bertobatlah dan percayalah kepada Yesus Kristus dan engkau pasti diselamatkan. Ketika kita menerima anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus, kita yang berdosa akan dibenarkan dan dikuduskan bagi Kristus. Kita diampuni dari semua dosa-dosa dan disucikan seputih salju (Yesaya 1:18).

Friday, October 8, 2021

4 Jaminan Bahwa Tuhan Tidak Pernah Melupakan Kita

4 jaminan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kita ~ Landasan firman Tuhan untuk tema 4 jaminan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kita, diambil dari kita Yesaya. Demikianlah firman Tuhan : “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” – Yesaya 49:15. Secara natural atau alamiah, seorang perempuan yang memiliki bayi sudah pasti ia akan selalu ingat akan bayinya. Seorang ibu akan berusaha sedemikian rupa untuk selalu dekat dengan bayinya. Hal ini bisa terjadi sedemikian rupa oleh karena sang ibu sangat mengasihi bayinya. Sembilan bulan ia mengandung bayinya. Semenjak dalam kandungan, sang ibu akan mengasihi, menjaga, merawat dan akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang janinnya semenjak dari dalam kandungan. Sang ibu akan mendukung bayinya supaya bertumbuh dan berkembang dalam rahimnya. Sang ibu akan ke dokter untuk memeriksa perkembangan bayinya. Ia akan berusaha untuk mengikuti petunjuk-petunjuk dalam buku yang diberikan oleh dokter karena dalam buku tersebut ada catatan dokter tentang kondisi bayinya dan apa yang harus dilakukan.
Sang ibu akan berusaha untuk memberikan Air Susu Ibu sampai bayinya disapih. Lebih jauh lagi sang ibu akan memberikan tambahan nutrisi untuk asupan sang bayi. Semua itu dilakukan karena sang ibu sangat mengasihi dan mencintai bayinya. Dia tidak akan pernah melupakan bayinya. Mengapa? Karena itulah harta yang paling berharga yang dimilikinya. Kalaupun ada seorang ibu melupakan bayinya tentu ini kasus yang khusus. Mungkin sang ibu mengalami gangguan kejiwaan. Mungkin sang ibu mengalami musibah yang menyebabkan memori ingatannya menjadi terganggu. Karena itulah ia bisa melupakan bayinya. Bagaimana dengan Tuhan? Tuhan adalah pencipta alam semesta dan segala isinya. Kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Bagaimana kamu meresponi waktu Tuhan bilang Dia melupakanmu? Dia bisa lupa dengan nomor ponselmu, alamat emailmu, dan gambaran mukanya. Waktu Dia bilang kalau Dia gak lagi mengenali rupamu. Bagaimana perasaanmu? Mungkin kamu akan seperti Musa. Waktu dia membela salah satu orang sebangsanya, dia malah harus melarikan diri dan pergi meninggalkan sanak keluarganya. Semua hal baik yang ditakdirkan untuk dia, termasuk akan jadi raja dan menikahi putri Firaun seketika sirna. Di pelarian, Musa hanya jadi seorang gembala selama 40 tahun. Atau seperti Saulus yang dikenal sebagai sosok yang cendikiawan. Tapi kemudian dia harus meninggalkan semua gelar dan pendidikannya. Sama seperti Musa dan Saulus, kita mungkin pernah punya rencana masa depan yang besar dan brilian. Kita membayangkan diri kita akan jadi seorang pemimpin yang berpengaruh. Tapi tiba-tiba, kita kehilangan semua mimpi itu. Bagaimana kita harusnya meresponi saat Tuhan mengubah jalan hidup kita sepenuhnya? Kenapa Tuhan harus melakukan hal itu atas hidup kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari merenungkan beberapa poin di bawah ini: 1. Tuhan adalah pencipta yang bertanggungjawab atas hidup kita Sejak lahir, Tuhan sudah memanggil Musa untuk jadi sosok yang akan menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan. Kronologi perjalanan hidup Musa bisa saja gak akan seberat itu kalau dia gak melakukan tindakan gegabah. Sebagai pribadi yang berkuasa, Tuhan bisa mengubah situasi yang sangat buruk untuk mendatangkan kebaikan. Dan Dia pun melakukannya melalui Musa. Tuhan tahu kerinduan Musa kepada sanak saudaranya di Mesir. Dan sesuai dengan waktuNya, Musa kembali dipanggil untuk menggenapi panggilan-Nya. Jadi Tuhan gak pernah melukapan kita. 2. Tuhan adalah penguasa yang sanggup melakukan yang tidak mungkin bagi kita mungkin bagi Dia Siapa yang pernah mengira kalau Dia akan membangun sebuah bangsa lewat seorang pria pembunuh? Lewat Musa, Tuhan membawa umat-Nya ke tanah perjanjian yang penuh dengan madu dan gandum. 3. Tuhan adalah pribadi yang hidup yang selalu rindu untuk bersekutu dengan kita Musa dan Saulus adalah dua pribadi yang mengalami transformasi hidup sepenuhnya. Dari yang sangat dihormati jadi pribadi yang dibenci dan dikucilkan. Tapi, Tuhan selalu memakai orang-orang seperti ini untuk mengerjakan proyekNya. 4. Tuhan adalah pribadi yang mau bekerjasama dengan kita yang lemah dan terbatas Sekalipun Musa berkata kalau dia gak pintar berkata-kata, tapi Tuhan terus mendesaknya untuk pergi. Pernah gak kita berpikir kalau Musa dan Saulus adalah dua orang yang lemah dan dilupakan oleh banyak orang? Tapi Tuhan justru membuat mereka jadi pribadi yang tak terlupakan sepanjang sejarah. Kalau kamu merasa dilupakan, sadarilah kalau Tuhan gak pernah melupakanmu. Tuhan gak memalingkan wajah-Nya darimu atau menyingkirkanmu dari tujuan-Nya. Tuhan sedang mempersiapkanmu untuk sesuatu yang besar. Jadi, tetaplah menaatiNya dan tunggu waktu Tuhan berbicara atas hidupmu.

Sunday, September 26, 2021

Makna Kemerdekaan Yang Sejati Dalam Kristus Part 4

Makna kemerdekaan yang sejati dalam Kristus ~ Setiap tahun di bulan Agustus, Indonesia memperingati dan merayakan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kita bahagia, bangga dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong bangsa kita melepaskan diri dari penjajah melalui pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Sebagaimana Petrus yang akhirnya tenggelam setelah ia melapaskan fokusnya dari Kristus setelah beberapa waktu Petrus sempat berjalan di atas air ketika ia hanya mengarahkan konsentrasinya kepada Kristus semata, demikian juga kita akan ditaklukkan ketika kita justru fokus pada keadaan kita, kelemahan, kekuatiran kita atau “angin kencang” lain yang mengancam kita. Kita butuh mental rohani lensa kamera yang harus selalu difokus ulang dari waktu ke waktu untuk mempertahankan fokus pada Kristus semata. Hanya hidup yang fokus pada Kristus membuat kita benar-benar merdeka dari beban hidup yang tidak perlu. Kita akan mampu juga untuk memilih dan memilah mana yang berguna bagi kemuliaan Kristus, mana yang tidak dan karenanya harus dilepas. Kalau kita benar-benar fokus pada Kristus, tidak akan ada unsur dunia ini yang akan terlalu berat bagi kita untuk dilepaskan demi Kristus. Pada titik ini kita mengalami kemerdekaan sejati, dan hidup terasa jauh lebih ringan dan dapat dinikmati dalam damai Kristus.
Ketika Petrus diangkat kembali oleh Yesus setelah mulai tenggelam, saya yakin Petrus menyambut uluran tangan Yesus dengan kedua tangan Petrus, tidak dengan satu tangan saja. Artinya, ketika kita datang kepada dan bergantung pada Kristus untuk hal keselamatan, mari kita datang dengan seluruh keberadaan kita. Jangan biarkan satu tangan kita ada di tangan Kristus, tapi tangan yang satu lagi masih memegang sesuatu yang lain. Tetapi, setelah diangkat oleh Kristus dari lautan maut dan selanjutnya mendapatkan kemerdekaan, kemerdekaan yang kita terima dari Kristus tersebut tidak boleh kita simpan untuk diri kita sendiri. Pembebasan oleh Kristus telah bekerja (work in) dalam diri kita. Menindak-lanjuti hal itu, kita harus mengerjakan (work out) kemerdekaan dan keselamatan kekal yang telah kita terima (Filipi 2:12). Kristus telah mendamaikan (a) kita dengan ALLAH sehingga kita tidak perlu lagi mengalami sendiri murka ALLAH, dan (b) kita dengan diri kita sendiri. Kini, yang harus kita kerjakan adalah membawa pendamaian dengan ALLAH melalui Kristus, kepada sesama kita. Artinya, kita akan hidup dalam kedamaian dengan orang lain, kita mendamaikan orang lain dengan sesamanya, dan yang paling penting dan mendesak adalah kita mendamaikan sesama kita dengan ALLAH. Berita pendamaian dengan ALLAH melalui Kristus harus kita teruskan, melalui pemberitaan Injil. 1 Korintus 9:16-18: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.” ALLAH menghendaki kita mempunyai kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15), karena boleh memberitakan Injil sudah merupakan upah bagi kita. Apa isi pemberitaan Injil kita? 2 Timotius 2:8 “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. “ Kemerdekaan yang ALLAH berikan sebagai anugerah-Nya bukan merupakan alasan bagi kita untuk berbuat dosa, tetapi sebaliknya, justru menjadi kekuatan bagi kita untuk melawan godaan dosa, dan bahkan untuk meneruskan kemerdekaan tersebut ke orang lain. Kita akan sungguh-sungguh merdeka bila kita sudah mampu mengalahkan dan mengalihkan perhatian kita atas kenikmatan semu dunia ini, dan memasangkan pada kaki kita kasut kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15). Äpakah orang yang mendengar pekabaran Injil yang kita sampaikan jadi bertobat dan menerima Kristus, itu bukan yurisdiksi kita tetapi hak prerogatif ALLAH sendiri (Yohanes 6:44 dan 1 Korintus 3:7-8). Tugas kita hanya menabur Injil Kristus pada orang-orang yang ALLAH tempatkan di tempat dan waktu kita. Kalau ALLAH berkenan kita akan dipakai juga sebagai penuai jiwa sebagai hasil Injil yang mungkin ditaburkan orang lain sebelumnya. Sebagaimana rakyat Indonesia merayakan kemerdekaannya setiap tahun, demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat (Lukas 15:10). Mari kita bijaksana dalam mengerjakan kemerdekaan kita. Daniel 12:3 “… orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.” Yohanes 8:32,36 ”… kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu… Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Inilah kebenaran dan kemerdekaan sejati!

Makna Kemerdekaan Yang Sejati Dalam Kristus Part 3

Makna kemerdekaan yang sejati dalam Kristus ~ Setiap tahun di bulan Agustus, Indonesia memperingati dan merayakan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kita bahagia, bangga dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong bangsa kita melepaskan diri dari penjajah melalui pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Kehidupan kita saat ini menjadi relevan bagi kehidupan setelah kematian karena sudah ada Kristus yang menjembatani kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian. Tanpa Kristus, hidup kita sekarang tidak akan membawa nilai tambah apa-apa bagi kehidupan setelah kematian karena sebaik-baiknya, sesaleh-salehnya dan sesuci-sucinya kita hidup di dunia ini, semuanya tidak mempunyai nilai apa-apa dan tidak dapat memuaskan standar kesempurnaan ALLAH untuk berdamai dengan ALLAH. Kemerdekaan oleh Kristus bagi kita 2000 tahun lalu sudah membereskan dan mempersiapkan bagi kita kehidupan berikut kita. Ada suatu hikayat tentang suatu kerajaan yang mempunyai tradisi yang unik. Orang yang menjadi raja di kerajaan tersebut diberi kesempatan untuk mendapatkan apa saja yang dikehendakinya, dengan ketentuan, setelah mencapai “usia pensiun” sebagai raja ia harus turun tahta dan dibuang ke pulau yang tidak menyediakan fasilitas kemudahan apapun sehingga yang bersangkutan harus berusaha sendiri melakukan survival untuk bertahan hidup.
Pulau pembuangan itu telah menjadi saksi bisu bagi kehidupan yang tragis dan ironis dari para mantan raja yang sangat menderita mengalami post power syndrome. Walaupun hidup berkelimpahan di pulau istana, hidup masing-masing raja tersebut tidak pernah tenteram karena mereka sudah mengetahui bagaimana jadinya mereka di pulau kedua. Tetapi satu kali bertahta–lah seorang raja yang berhikmat. Selama ia bertahta, salah satu perintahnya adalah melakukan renovasi total atas pulau angker tersebut. Pulau yang tadinya menjadi mimpi buruk bagi para raja pendahulunya kini telah disulap menjadi tidak kalah indah dengan pulau pertama. Begitulah, selama masa hidupnya di pulau pertama, ia tidak pernah mengkuatirkan kualitas kehidupannya di pulau kedua. Ketika saatnya tiba bagi raja ini untuk “dibuang”, ia dengan senang hati menyongsong tibanya hari itu. Demikiankah hidup kita saat ini? Hanya apabila pulau tujuan kita sudah siap, kita dapat benar-benar menikmati hari dan tahun di pulau asal. Hanya dengan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, maka kita dapat memperoleh kepastian mendapatkan tempat di Sorga kelak. Hanya bila kita siap mati, maka kita siap hidup. Kemerdekaan yang dipersembahkan bagi Kristus Kita yang sudah benar-benar mengalami kemerdekaan oleh Kristus kini benar-benar mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya. Dengan kekuatan yang kita terima melalui kesatuan kita dengan Kristus, kita akan dimampukan untuk tidak lagi terikat dengan tabiat-tabiat dan belenggu-belenggu dosa. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin masih kurang iman dan dalam sejumlah hal masih mengalami upaya-upaya penarikan oleh kekuatan dunia ini. Memang, selama kita hidup selama itu pula cobaan menanti kita. Tingkat kualitas cobaan tersebut akan setara dengan potensi kegunaan kita bagi Kristus. Makin tinggi potensi kita, makin besar ancaman yang kita bawa atas rencana jahat iblis atas dunia ini. Dengan demikian, akan makin gencar pula serangan iblis bagi kita. Perjuangan iman ini memang tidak mudah karena perjuangan tersebut adalah perjuangan melawan roh-roh di angkasa, yakni kuasa si jahat (Efesus 6:12). Salah satu jendela strategis yang Iblis selalu coba terobosi adalah pikiran kita. Dengan mengendalikan pikiran dan pola pikir kita Iblis akan menguasasi salah satu sumber daya terbesar orang bersangkutan. Ia akan menggerogoti pikiran kita dengan membombardir kita dengan suara-suara yang mematahkan semangat dan iman kita, dan berusaha mengalihkan fokus hidup kita dari iman kepada Kristus kepada keadaan di depan mata dengan segala kemustahilan secara manusia. Iblis akan berusaha menutup pikiran kita bahwa kita sebenarnya sudah diselamatkan dan karenanya dengan kesatuan bersama kuasa kebangkitan Kristus, kita telah dilayakkan dan senantiasa akan dimampukan ALLAH untuk melayani-Nya. Oleh karenanya, sisa hidup ini haruslah diisi dengan kehidupan yang senantiasa mengarahkan pandangan rohani kita kepada Kristus. Sebagaimana lensa kamera yang harus selalu disesuaikan kembali dari waktu ke waktu setiap kali mengambil suatu gambar, demikian juga dengan fokus lensa hidup kita. Setiap keadaan di sekeliling kita, bahkan kondisi di dalam diri kita, senantiasa berbeda dari waktu ke waktu. Di tengah kondisi yang berubah-ubah sedemikian, Iblis selalu berupaya mencuri perhatian kita agar kita melepaskan fokus dan konsentrasi kita dari Kristus ke keadaan semu di sekeliling kita.

Makna Kemerdekaan Yang Sejati Dalam Kristus Part 2

Makna kemerdekaan yang sejati dalam Kristus ~ Setiap tahun di bulan Agustus, Indonesia memperingati dan merayakan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kita bahagia, bangga dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong bangsa kita melepaskan diri dari penjajah melalui pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Maut: musuh terakhir manusia (I Kor.15:26) Di dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini, setiap orang pasti menghadapi kesulitan, baik pergumulan batin di dalam dirinya maupun ketegangan dengan faktor-faktor di luar dirinya. Ada yang melihat “kesulitan” secara positif di mana setiap “kesulitan” ditanggapi sebagai tantangan bahkan peluang untuk menjadi makin baik. Tetapi ada juga mereka yang melihat dari sudut lain dan menjadikan “kesulitan” sebagai musuh, termasuk orang-orang yang menciptakan “kesulitan” bagi dia. Tetapi, pada umumnya segala hal yang mengancam eksistensi atau kemapanan seseorang akan selalu dilihat sebagai “musuh”, terlepas dari apakah yang bersangkutan akan menghadapi, melarikan diri atau menyikapi dengan cara lain atas “musuh” nya tersebut.
Di dalam konteks waktu, rangkaian proses upaya “penaklukan” musuh apapun tadi akan berujung pada kenyataan absolut bahwa ada “kematian” menanti setiap orang yang menjadi musuh terakhir untuk dihadapi, kalau tidak bisa ditaklukkan. Pada umumnya, orang berusaha mengelak atau “menunda” datangnya kematian dan ingin menikmati umur panjang (namun, lucunya, tidak mau jadi tua). Tapi, setiap orang sudah ditetapkan untuk mati. Bahkan kematian dapat datang tanpa peringatan (Amsal 27:1). Semua manusia pada dasarnya berbaris antri menunggu saat ajal menjemput. Ada yang lama berbarisnya, ada yang relatif singkat. Tidak ada manusia di dunia ini yang dapat mengalahkan kematian. Kenapa? Karena semua manusia sudah berdosa (Roma 3:10, 23) dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Semua manusia pasti mengalami kematian. Manusia telah ditetapkan untuk mati sekali saja dan kemudian dihakimi (Ibrani 9:27). Apabila sejarah manusia hanya sampai di situ, sorga tidak akan pernah dihuni oleh manusia dan sejarah manusia akan berakhir tragis: setelah dicipta menurut rupa ALLAH dan menikmati segala ciptaan lainnya dari ALLAH yang luar biasa selama hidupnya, manusia akan berakhir pada ruangan penghukuman kekal. Puji syukur kepada ALLAH! ALLAH kita adalah ALLAH yang “mengosongkan diri” dan menyangkal diri-Nya bersedia turun ke dunia mengambil rupa seorang manusia. Tidak ada jalan lain bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Pencipta-Nya selain berdasarkan inisiatif perdamaian yang datang sendiri dari ALLAH. Dosa manusia yang membuat manusia gagal memenuhi standar ALLAH, telah membuat manusia seteru ALLAH. Dosa manusia telah menciptakan suatu jurang antara ALLAH dan manusia yang tidak terseberangi oleh manusia. Semua manusia karena dosanya pasti mengalami maut (Roma 3:23 dan 6:23). Memang, hanya manusia sajalah yang mengalami kematian (untuk kemudian dihakimi). Karenanya, agar Kristus dapat mengalahkan maut, Kristus harus menjadi manusia sehingga Kristus dapat mati, dan kemudian bangkit (Ibrani 2:14). Tetapi, berbeda dengan kematian manusia yang disebabkan karena dosa manusia sendiri, kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang terjadi karena kehendak ALLAH (Galatia 1:4) dan kematian yang saatnya ditentukan sendiri oleh Kristus, bukan karena dibunuh tentara Romawi (Yoh.10:17-18). Kematian Kristus adalah kematian yang menelan kematian (Yesaya 25:8). Kebangkitan Kristus merupakan kemenangan-Nya atas kuasa maut. 1 Korintus 15:17: “jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” Kemerdekaan yang dibawa oleh Kristus adalah kemerdekaan yang sejati karena telah menaklukkan sekali dan untuk selama-lamanya “musuh” terbesar dan terakhir manusia, yakni dosa dan kematian.

Friday, February 8, 2019

MASIHKAH KITA KURANG PERCAYA ?

Masihkah kita kurang percaya ~ Landasan firman Tuhan untuk tema masihkah kita kurang percaya, diambil dari Injil Yohanes. Demikian firman Tuhan: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” – Yohanes 3:36. Allah di dalam Tuhan Yesus menghendaki supaya kita selalu percaya kepada-Nya dalam semua area hidup kita. Inilah yang harus menjadi fokus perhatian kita. Kalau kita benar-benar menerima dan mengimani serta mengamini pernyataan tersebut, pasti Tuhan Yesus sangat senang dan mau mengerjakan sesuatu bagi kita.
Ada banyak faktor yang menyebabkan kita sebagai orang Kristen kurang percaya kepada Tuhan Yesus. Misalnya ketika kita mengalami sakit yang parah dan tidak kunjung sembuh sekalipun sudah beroda. Di sinilah acap kali kita mulai ragu dan kurang percaya kepada Tuhan Yesus. Pernahkah kita tidak dipercayai orang lain atas apa yang telah kita lakukan? Atau merasa bahwa orang-orang yang kita kasihi tidak percaya kepada kita? Pasti semua orang akan merasa kecewa dengan keadaan tersebut. Apa yang kita rasakan ketika kurang dipercaya, juga dirasakan Allah ketika kita kurang percaya dengan rencana-Nya. Semua orang tua akan merasa sedih dan kecewa bila anak-anaknya merasa ragu dan kurang percaya kepadanya. Begitu juga dengan Bapa kita di surga, rasa kurang percaya yang muncul tentu akan menyedihkan hati-Nya. Sebab Allah selalu ingin memberi yang terbaik untuk hidup kita karena kita adalah anak-anak-Nya. Seringkali kita menjadi kurang percaya pada rencana Allah karena kita hanya mengandalkan pemikiran dan pertimbangan sendiri. Mungkin kita menganggap bahwa keputusan yang kita pilih sendiri saat ini sudah baik, mungkin kita terlalu kuat menggenggam hal-hal yang kita inginkan dan takut melepaskannya untuk menuruti kehendak Tuhan, atau mungkin kita dipengaruhi oleh berbagai tekanan dan masalah yang ada sehingga meragukan kuasa Tuhan atas semua itu. Padahal dalam 1 Yohanes 5:14 dikatakan, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” Apakah saat ini kita masih kurang percaya kepada Allah? Ingatlah kepada hari-hari dimana Allah menyatakan kuasa-Nya dalam hidup kita dan menunjukkan rancangan terbaik-Nya dalam setiap proses yang kita lewati. Pertolongan Allah yang dinyatakan pada kita pada masa yang lalu akan dinyatakan kembali pada kita di kemudian hari nanti. Karena Ia tidak berubah dan kasih-Nya tidak pernah berubah. Itu adalah alasan mengapa Allah dapat kita percayai untuk mengatur hidup kita. Rencana Allah adalah rencana yang terbaik, terlepas apakah rencana itu digenapi dalam waktu cepat ataupun lama, dan melalui proses yang mudah ataupun sulit. Percayalah kepada Allah, tentang apapun itu, percayalah bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik.

BERDAMAI DENGAN ORANG LAIN

Bagaimana kita dapat berdamai dengan orang lain ~ Landasan firman Tuhan untuk tema bagaimana kita dapat berdamai dengan orang lain, diambil dari surat 1 Petrus 3:8-12. Secara lengkap firman Tuhan itu saya lampirkan di bawah ini. 3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara,penyayang dan rendah hati, 3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.Sebab: 3:10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. 3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. 3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat”.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kita sering mengalami masalah dengan orang lain. Hal itu menjadi suatu yang lumrah dalam suatu hubungan. Tetapi menjadi tidak lumrah kalau kita tidak menyelesaikannya. Sebagai orang Kristen kita harus mengupayakan perdamaian diantara kita. Bagaimana sikap yang benar agar kita bisa berdamai dengan orang lain? Berusaha untuk melakukan hal-hal yang positif Kalau ingin berdamai dengan orang lain jangan pernah menunggu, tetapi lakukanlah sesuatu agar tercipta kerukunan, yaitu dengan melakukan hal-hal yang positif seperti; seia sekata, seperasaan, saling mengasihi, penyayang dan rendah hati. (ayat 1). Perselisihan mulai timbul karena masing-masing berjalan dengan keinginannya sendiri dan jauh dari mengasihi. Hal itu diakibatkan karena kesombongan kita yang merasa memiliki sesuatu untuk dibanggakan dan cenderung merendahkan orang lain. Ingatlah, masing-masing kita memiliki kekurangan dan pasti pernah melakukan kesalahan. Berusaha untuk tidak membalas Masalah menjadi bertambah besar karena masing-masing kita sulit untuk menahan diri. Padahal jusrtu di dalam diamlah kita akan menemukan damai sejahtera untuk menemukan jalan keluar dari masalah kita dengan orang lain. ”dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (ayat 9). Balas dendam hanya akan membuat masalahnya semakin rumit. Untuk itu jangan pernah berpikir bahwa Anda akan menang kalau Anda melampiaskan amarah Anda. Tetapi biarkan Allah bekerja dengan cara-Nya sendiri dalam menyelesaikan masalah Anda dengan orang lain. Berusaha untuk berdamai dengan orang lain “Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.” (ayat 11) Kita dituntut bukan saja untuk tidak melakukan yang jahat tetapi mengupayakan perdamaian. Jangan pernah takut dengan konflik, bukan berarti kita menginginkannya namun dalam hubungan yang otentik dan tidak basa-basi konflik dapat terjadi. Dan kalau ternyata terjadi konflik, kita dituntut untuk secara proaktif mengupayakan perdamaian. Jangan pernah menunggu untuk didamaikan tetapi jadilah pembuat perdamaian.

Kemerdekaan Yang Sempurna Dalam Kristus

Kemerdekaan yang sempurna dalam Kristus ~ Landasan firman Tuhan untuk tema kemerdekaan yang sempurna dalam Kristus, diambil dari Injil Yohanes. Demikianlah firman Tuhan : “Dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” – Yohanes 8:32. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Artinya segala bangsa tidak boleh menjajah bangsa lainnya apapun alasannya. Dikatakan demikian karena semua bangsa harus hidup bebas dari segala bentuk penjajahan. Ini dalam perspektif politik dunia. Secara rohani, manusia hidup dan dijajah oleh dosa. Rasul Paulus menulis : “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” – Roma 3:23. Ini menegaskan kepada kita bahwa tidak ada satu orang pun yang tidak dijajah oleh dosa. Itu sebabnya setiap orang harus mengalami kemerdekaan dari perbudakan atau penjajahan dosa.
Namun, manusia tidak menyadari akan hal itu, sehingga kemerdekaan dari dosa bukanlah hal yang diutamakan oleh manusia. Inilah yang harus diberitakan oleh orang Kristen bahwa manusia butuh kemerdekaan dari dosa. Dan yang dapat melakukannya adalah Tuhan Yesus. Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita belum sepenuhnya merdeka. Misalkan saja, kita cepat merasa tersinggung, cepat emosi, atau mudah patah semangat, itu berarti kita belum merdeka. Sedangkan arti kata memerdekakan itu sendiri adalah: menjadikan merdeka, membebaskan diri atau melepaskan dari penjajahan. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang merdeka. Kita telah merdeka dari dosa oleh karena darah Anak Domba yang menjadikan kita bebas. Setiap hari kita menjalani proses untuk menjadi orang yang sempurna dihadapan Tuhan. Tapi bagaimanapun, sebagai seorang manusia, kita tidak dapat luput dari dosa, karena itu kita harus minta pengampunan dari Tuhan. Dalam Galatia 5:1 juga tertulis, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Kuk perhambaan dalam hal ini adalah diri kita sendiri di dalam berbagai area kehidupan, seperti rasa iri hati, emosional, asumsi terhadap seseorang, cemburu dan lain sebagainya. Lalu kita mulai mendengar atau membuat gosip, opini, atau jika kita di pihak yang benar, mulai menghakimi orang yang salah. Kita harus mulai belajar untuk bisa terbebas dari belenggu seperti itu. Manusia yang merdeka itu adalah manusia yang tidak terikat dengan perasaan, tidak mengikuti keinginan dagingnya, tapi menjadi manusia roh yang hidup dalam Firman Tuhan. Jadi ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita tidak mudah terintimidasi oleh perasaan kita atau situasi apapun yang menyakiti kita. Tuhan mau agar kita sungguh-sungguh mengenal kebenaran Firman Tuhan. Jadi ketika ada permasalahan apapun, tidak akan akan menganggu hati dan pikiran serta emosi kita. Kita tidak akan merasa susah, tapi tetap bersyukur dan berdiri teguh. Dan kita harus belajar untuk tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Karena Tuhan tidak ingin kita dijajah oleh apapun. Bagi kita yang sudah mengalami kemerdekaan tersebut, tentu sangat mensyukurinya. Namun masih banyak orang diluar sana yang berada dalam kuk perhambaan itu.