Custom JavaScript Footer

Sunday, September 26, 2021

Makna Kemerdekaan Yang Sejati Dalam Kristus Part 3

Makna kemerdekaan yang sejati dalam Kristus ~ Setiap tahun di bulan Agustus, Indonesia memperingati dan merayakan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kita bahagia, bangga dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong bangsa kita melepaskan diri dari penjajah melalui pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Kehidupan kita saat ini menjadi relevan bagi kehidupan setelah kematian karena sudah ada Kristus yang menjembatani kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian. Tanpa Kristus, hidup kita sekarang tidak akan membawa nilai tambah apa-apa bagi kehidupan setelah kematian karena sebaik-baiknya, sesaleh-salehnya dan sesuci-sucinya kita hidup di dunia ini, semuanya tidak mempunyai nilai apa-apa dan tidak dapat memuaskan standar kesempurnaan ALLAH untuk berdamai dengan ALLAH. Kemerdekaan oleh Kristus bagi kita 2000 tahun lalu sudah membereskan dan mempersiapkan bagi kita kehidupan berikut kita. Ada suatu hikayat tentang suatu kerajaan yang mempunyai tradisi yang unik. Orang yang menjadi raja di kerajaan tersebut diberi kesempatan untuk mendapatkan apa saja yang dikehendakinya, dengan ketentuan, setelah mencapai “usia pensiun” sebagai raja ia harus turun tahta dan dibuang ke pulau yang tidak menyediakan fasilitas kemudahan apapun sehingga yang bersangkutan harus berusaha sendiri melakukan survival untuk bertahan hidup.

Pulau pembuangan itu telah menjadi saksi bisu bagi kehidupan yang tragis dan ironis dari para mantan raja yang sangat menderita mengalami post power syndrome. Walaupun hidup berkelimpahan di pulau istana, hidup masing-masing raja tersebut tidak pernah tenteram karena mereka sudah mengetahui bagaimana jadinya mereka di pulau kedua. Tetapi satu kali bertahta–lah seorang raja yang berhikmat. Selama ia bertahta, salah satu perintahnya adalah melakukan renovasi total atas pulau angker tersebut. Pulau yang tadinya menjadi mimpi buruk bagi para raja pendahulunya kini telah disulap menjadi tidak kalah indah dengan pulau pertama. Begitulah, selama masa hidupnya di pulau pertama, ia tidak pernah mengkuatirkan kualitas kehidupannya di pulau kedua. Ketika saatnya tiba bagi raja ini untuk “dibuang”, ia dengan senang hati menyongsong tibanya hari itu. Demikiankah hidup kita saat ini? Hanya apabila pulau tujuan kita sudah siap, kita dapat benar-benar menikmati hari dan tahun di pulau asal. Hanya dengan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, maka kita dapat memperoleh kepastian mendapatkan tempat di Sorga kelak. Hanya bila kita siap mati, maka kita siap hidup. Kemerdekaan yang dipersembahkan bagi Kristus Kita yang sudah benar-benar mengalami kemerdekaan oleh Kristus kini benar-benar mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya. Dengan kekuatan yang kita terima melalui kesatuan kita dengan Kristus, kita akan dimampukan untuk tidak lagi terikat dengan tabiat-tabiat dan belenggu-belenggu dosa. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin masih kurang iman dan dalam sejumlah hal masih mengalami upaya-upaya penarikan oleh kekuatan dunia ini. Memang, selama kita hidup selama itu pula cobaan menanti kita. Tingkat kualitas cobaan tersebut akan setara dengan potensi kegunaan kita bagi Kristus. Makin tinggi potensi kita, makin besar ancaman yang kita bawa atas rencana jahat iblis atas dunia ini. Dengan demikian, akan makin gencar pula serangan iblis bagi kita. Perjuangan iman ini memang tidak mudah karena perjuangan tersebut adalah perjuangan melawan roh-roh di angkasa, yakni kuasa si jahat (Efesus 6:12). Salah satu jendela strategis yang Iblis selalu coba terobosi adalah pikiran kita. Dengan mengendalikan pikiran dan pola pikir kita Iblis akan menguasasi salah satu sumber daya terbesar orang bersangkutan. Ia akan menggerogoti pikiran kita dengan membombardir kita dengan suara-suara yang mematahkan semangat dan iman kita, dan berusaha mengalihkan fokus hidup kita dari iman kepada Kristus kepada keadaan di depan mata dengan segala kemustahilan secara manusia. Iblis akan berusaha menutup pikiran kita bahwa kita sebenarnya sudah diselamatkan dan karenanya dengan kesatuan bersama kuasa kebangkitan Kristus, kita telah dilayakkan dan senantiasa akan dimampukan ALLAH untuk melayani-Nya. Oleh karenanya, sisa hidup ini haruslah diisi dengan kehidupan yang senantiasa mengarahkan pandangan rohani kita kepada Kristus. Sebagaimana lensa kamera yang harus selalu disesuaikan kembali dari waktu ke waktu setiap kali mengambil suatu gambar, demikian juga dengan fokus lensa hidup kita. Setiap keadaan di sekeliling kita, bahkan kondisi di dalam diri kita, senantiasa berbeda dari waktu ke waktu. Di tengah kondisi yang berubah-ubah sedemikian, Iblis selalu berupaya mencuri perhatian kita agar kita melepaskan fokus dan konsentrasi kita dari Kristus ke keadaan semu di sekeliling kita.

No comments:
Write komentar