Makna kemerdekaan yang sejati dalam Kristus ~ Setiap tahun di bulan Agustus, Indonesia memperingati dan merayakan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kita bahagia, bangga dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong bangsa kita melepaskan diri dari penjajah melalui pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Maut: musuh terakhir manusia (I Kor.15:26) Di dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini, setiap orang pasti menghadapi kesulitan, baik pergumulan batin di dalam dirinya maupun ketegangan dengan faktor-faktor di luar dirinya. Ada yang melihat “kesulitan” secara positif di mana setiap “kesulitan” ditanggapi sebagai tantangan bahkan peluang untuk menjadi makin baik. Tetapi ada juga mereka yang melihat dari sudut lain dan menjadikan “kesulitan” sebagai musuh, termasuk orang-orang yang menciptakan “kesulitan” bagi dia. Tetapi, pada umumnya segala hal yang mengancam eksistensi atau kemapanan seseorang akan selalu dilihat sebagai “musuh”, terlepas dari apakah yang bersangkutan akan menghadapi, melarikan diri atau menyikapi dengan cara lain atas “musuh” nya tersebut.
Di dalam konteks waktu, rangkaian proses upaya “penaklukan” musuh apapun tadi akan berujung pada kenyataan absolut bahwa ada “kematian” menanti setiap orang yang menjadi musuh terakhir untuk dihadapi, kalau tidak bisa ditaklukkan. Pada umumnya, orang berusaha mengelak atau “menunda” datangnya kematian dan ingin menikmati umur panjang (namun, lucunya, tidak mau jadi tua). Tapi, setiap orang sudah ditetapkan untuk mati. Bahkan kematian dapat datang tanpa peringatan (Amsal 27:1). Semua manusia pada dasarnya berbaris antri menunggu saat ajal menjemput. Ada yang lama berbarisnya, ada yang relatif singkat. Tidak ada manusia di dunia ini yang dapat mengalahkan kematian. Kenapa? Karena semua manusia sudah berdosa (Roma 3:10, 23) dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Semua manusia pasti mengalami kematian. Manusia telah ditetapkan untuk mati sekali saja dan kemudian dihakimi (Ibrani 9:27). Apabila sejarah manusia hanya sampai di situ, sorga tidak akan pernah dihuni oleh manusia dan sejarah manusia akan berakhir tragis: setelah dicipta menurut rupa ALLAH dan menikmati segala ciptaan lainnya dari ALLAH yang luar biasa selama hidupnya, manusia akan berakhir pada ruangan penghukuman kekal. Puji syukur kepada ALLAH! ALLAH kita adalah ALLAH yang “mengosongkan diri” dan menyangkal diri-Nya bersedia turun ke dunia mengambil rupa seorang manusia. Tidak ada jalan lain bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Pencipta-Nya selain berdasarkan inisiatif perdamaian yang datang sendiri dari ALLAH. Dosa manusia yang membuat manusia gagal memenuhi standar ALLAH, telah membuat manusia seteru ALLAH. Dosa manusia telah menciptakan suatu jurang antara ALLAH dan manusia yang tidak terseberangi oleh manusia. Semua manusia karena dosanya pasti mengalami maut (Roma 3:23 dan 6:23). Memang, hanya manusia sajalah yang mengalami kematian (untuk kemudian dihakimi). Karenanya, agar Kristus dapat mengalahkan maut, Kristus harus menjadi manusia sehingga Kristus dapat mati, dan kemudian bangkit (Ibrani 2:14). Tetapi, berbeda dengan kematian manusia yang disebabkan karena dosa manusia sendiri, kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang terjadi karena kehendak ALLAH (Galatia 1:4) dan kematian yang saatnya ditentukan sendiri oleh Kristus, bukan karena dibunuh tentara Romawi (Yoh.10:17-18). Kematian Kristus adalah kematian yang menelan kematian (Yesaya 25:8). Kebangkitan Kristus merupakan kemenangan-Nya atas kuasa maut. 1 Korintus 15:17: “jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” Kemerdekaan yang dibawa oleh Kristus adalah kemerdekaan yang sejati karena telah menaklukkan sekali dan untuk selama-lamanya “musuh” terbesar dan terakhir manusia, yakni dosa dan kematian.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Write komentar