Custom JavaScript Footer

Sunday, September 26, 2021

Makna Kemerdekaan Yang Sejati Dalam Kristus Part 4

Makna kemerdekaan yang sejati dalam Kristus ~ Setiap tahun di bulan Agustus, Indonesia memperingati dan merayakan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kita bahagia, bangga dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong bangsa kita melepaskan diri dari penjajah melalui pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Sebagaimana Petrus yang akhirnya tenggelam setelah ia melapaskan fokusnya dari Kristus setelah beberapa waktu Petrus sempat berjalan di atas air ketika ia hanya mengarahkan konsentrasinya kepada Kristus semata, demikian juga kita akan ditaklukkan ketika kita justru fokus pada keadaan kita, kelemahan, kekuatiran kita atau “angin kencang” lain yang mengancam kita. Kita butuh mental rohani lensa kamera yang harus selalu difokus ulang dari waktu ke waktu untuk mempertahankan fokus pada Kristus semata. Hanya hidup yang fokus pada Kristus membuat kita benar-benar merdeka dari beban hidup yang tidak perlu. Kita akan mampu juga untuk memilih dan memilah mana yang berguna bagi kemuliaan Kristus, mana yang tidak dan karenanya harus dilepas. Kalau kita benar-benar fokus pada Kristus, tidak akan ada unsur dunia ini yang akan terlalu berat bagi kita untuk dilepaskan demi Kristus. Pada titik ini kita mengalami kemerdekaan sejati, dan hidup terasa jauh lebih ringan dan dapat dinikmati dalam damai Kristus.

Ketika Petrus diangkat kembali oleh Yesus setelah mulai tenggelam, saya yakin Petrus menyambut uluran tangan Yesus dengan kedua tangan Petrus, tidak dengan satu tangan saja. Artinya, ketika kita datang kepada dan bergantung pada Kristus untuk hal keselamatan, mari kita datang dengan seluruh keberadaan kita. Jangan biarkan satu tangan kita ada di tangan Kristus, tapi tangan yang satu lagi masih memegang sesuatu yang lain. Tetapi, setelah diangkat oleh Kristus dari lautan maut dan selanjutnya mendapatkan kemerdekaan, kemerdekaan yang kita terima dari Kristus tersebut tidak boleh kita simpan untuk diri kita sendiri. Pembebasan oleh Kristus telah bekerja (work in) dalam diri kita. Menindak-lanjuti hal itu, kita harus mengerjakan (work out) kemerdekaan dan keselamatan kekal yang telah kita terima (Filipi 2:12). Kristus telah mendamaikan (a) kita dengan ALLAH sehingga kita tidak perlu lagi mengalami sendiri murka ALLAH, dan (b) kita dengan diri kita sendiri. Kini, yang harus kita kerjakan adalah membawa pendamaian dengan ALLAH melalui Kristus, kepada sesama kita. Artinya, kita akan hidup dalam kedamaian dengan orang lain, kita mendamaikan orang lain dengan sesamanya, dan yang paling penting dan mendesak adalah kita mendamaikan sesama kita dengan ALLAH. Berita pendamaian dengan ALLAH melalui Kristus harus kita teruskan, melalui pemberitaan Injil. 1 Korintus 9:16-18: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.” ALLAH menghendaki kita mempunyai kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15), karena boleh memberitakan Injil sudah merupakan upah bagi kita. Apa isi pemberitaan Injil kita? 2 Timotius 2:8 “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. “ Kemerdekaan yang ALLAH berikan sebagai anugerah-Nya bukan merupakan alasan bagi kita untuk berbuat dosa, tetapi sebaliknya, justru menjadi kekuatan bagi kita untuk melawan godaan dosa, dan bahkan untuk meneruskan kemerdekaan tersebut ke orang lain. Kita akan sungguh-sungguh merdeka bila kita sudah mampu mengalahkan dan mengalihkan perhatian kita atas kenikmatan semu dunia ini, dan memasangkan pada kaki kita kasut kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15). Äpakah orang yang mendengar pekabaran Injil yang kita sampaikan jadi bertobat dan menerima Kristus, itu bukan yurisdiksi kita tetapi hak prerogatif ALLAH sendiri (Yohanes 6:44 dan 1 Korintus 3:7-8). Tugas kita hanya menabur Injil Kristus pada orang-orang yang ALLAH tempatkan di tempat dan waktu kita. Kalau ALLAH berkenan kita akan dipakai juga sebagai penuai jiwa sebagai hasil Injil yang mungkin ditaburkan orang lain sebelumnya. Sebagaimana rakyat Indonesia merayakan kemerdekaannya setiap tahun, demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat (Lukas 15:10). Mari kita bijaksana dalam mengerjakan kemerdekaan kita. Daniel 12:3 “… orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.” Yohanes 8:32,36 ”… kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu… Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Inilah kebenaran dan kemerdekaan sejati!

No comments:
Write komentar