Custom JavaScript Footer

Sunday, October 24, 2021

Membangun Persekutuan Yang Saling Mengasihi

Membangun persekutuan yang saling mengasihi ~ Landasan firman Tuhan untuk tema membangun persekutuan yang saling mengasihi, diambil dari Kisah Para Rasul 4:32-37. Kebenaran firman Tuhan tersebut, saya lampirkan di bawah ini. Kisah Para Rasul 4:32-37. 4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. 4:34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa 4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Ada slogan yang mengatakan: “Berbagi itu indah”. Apakah keindahannya? Dalam Firman Tuhan kita pada minggu ini terlihat jelas bahwa jemaat mula-mula atau orang-orang yang percaya pada Yesus hidup dalam kumpulan yang sehati dan sejiwa, yang selalu dapat merasakan apa yang dirasakan sesamanya. Oleh sebab itu jika ada saudaranya yang berkekurangan maka yang memiliki lebih akan membagi apa yang ada padanya agar saudaranya tidak lagi kekurangan. Tidak ada seorangpun yang menganggap bahwa apa yang dimilikinya adalah hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk bersama. Hal seperti ini sudah sangat langka di zaman sekarang, sangatlah sulit bagi kita untuk mau berbagi dari apa yang Tuhan berikan kepada kita. Karena apa? Karena kita menganggap bahwa apa yang kita miliki adalah hasil jerih lelah kita semata dan bukan pemberian Tuhan, maka sangat sulit bagi kita untuk berbagi pada orang lain karena kita anggap itu bukan pemberian Tuhan. Namun kalau kita merasa apa yang kita miliki adalah pemberian Tuhan bagi kita, maka kitapun tidak akan sulit untuk memberi kepada orang lain yang membutuhkannya. Mari kita lihat bagaimana orang-orang Kristen mula-mula, ketika mereka bersedia berbagi di tengah persekutuan mereka, maka mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Kesediaan untuk berbagi justru mendatangkan kasih karunia yang melimpah-limpah, bukan hanya saja cukup melainkan melimpah-limpah. Tidak ada yang berkekurangan karena bersedia berbagi. Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, Nyatalah ungkapan yang mengatakan “Berbagi itu indah” karena memang dampak dari kesediaan kita untuk berbagi adalah kita semua akan hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah, tidak akan ada yang berkekurangan. Kesediaan untuk berbagi juga menunjukkan bahwa hidup kita jauh dari kata egois, yang hanya mementingkan diri sendiri. Coba kita bandingkan dengan hidup kita orang Kristen zaman sekarang. Bagaimana sulitnya kita mau memberikan untuk orang lain karena kita merasa bahwa untuk kepentingan diri kita sendiripun pasti akan kurang. Itu sebabnya sudah lebih banyak orang yang merasa senang untuk “menerima” dari orang lain padahal dia mampu. Lihatlah bantuan-bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat yang kurang mampu, masih saja ada orang-orang yang mampu secara finansial mengambil bantuan itu. Dari sini dapat kita lihat bahwa masih banyak kita yang egois hanya mementingkan kebutuhan diri sendiri tanpa mau perduli dengan orang lain. Oleh sebab itu, melalui Firman Tuhan pada minggu ini, kita sebagai orang yang percaya pada kebangkitan Kristus diajarkan dan diberi teladan agar meniru kesaksian hidup orang Kristen mula-mula yang mau menunjukkan kasihnya dengan kesediaan berbagi, jauh dari keegoisan dan selalu perduli tentang kekurangan orang lain, dengan demikian maka akan berbahagialah kita semua karena tidak akan ada lagi orang yang berkekurangan.

No comments:
Write komentar