Custom JavaScript Footer

Friday, February 8, 2019

Kemerdekaan Yang Sempurna Dalam Kristus

Kemerdekaan yang sempurna dalam Kristus ~ Landasan firman Tuhan untuk tema kemerdekaan yang sempurna dalam Kristus, diambil dari Injil Yohanes. Demikianlah firman Tuhan : “Dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” – Yohanes 8:32. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Artinya segala bangsa tidak boleh menjajah bangsa lainnya apapun alasannya. Dikatakan demikian karena semua bangsa harus hidup bebas dari segala bentuk penjajahan. Ini dalam perspektif politik dunia. Secara rohani, manusia hidup dan dijajah oleh dosa. Rasul Paulus menulis : “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” – Roma 3:23. Ini menegaskan kepada kita bahwa tidak ada satu orang pun yang tidak dijajah oleh dosa. Itu sebabnya setiap orang harus mengalami kemerdekaan dari perbudakan atau penjajahan dosa.

Namun, manusia tidak menyadari akan hal itu, sehingga kemerdekaan dari dosa bukanlah hal yang diutamakan oleh manusia. Inilah yang harus diberitakan oleh orang Kristen bahwa manusia butuh kemerdekaan dari dosa. Dan yang dapat melakukannya adalah Tuhan Yesus. Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita belum sepenuhnya merdeka. Misalkan saja, kita cepat merasa tersinggung, cepat emosi, atau mudah patah semangat, itu berarti kita belum merdeka. Sedangkan arti kata memerdekakan itu sendiri adalah: menjadikan merdeka, membebaskan diri atau melepaskan dari penjajahan. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang merdeka. Kita telah merdeka dari dosa oleh karena darah Anak Domba yang menjadikan kita bebas. Setiap hari kita menjalani proses untuk menjadi orang yang sempurna dihadapan Tuhan. Tapi bagaimanapun, sebagai seorang manusia, kita tidak dapat luput dari dosa, karena itu kita harus minta pengampunan dari Tuhan. Dalam Galatia 5:1 juga tertulis, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Kuk perhambaan dalam hal ini adalah diri kita sendiri di dalam berbagai area kehidupan, seperti rasa iri hati, emosional, asumsi terhadap seseorang, cemburu dan lain sebagainya. Lalu kita mulai mendengar atau membuat gosip, opini, atau jika kita di pihak yang benar, mulai menghakimi orang yang salah. Kita harus mulai belajar untuk bisa terbebas dari belenggu seperti itu. Manusia yang merdeka itu adalah manusia yang tidak terikat dengan perasaan, tidak mengikuti keinginan dagingnya, tapi menjadi manusia roh yang hidup dalam Firman Tuhan. Jadi ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita tidak mudah terintimidasi oleh perasaan kita atau situasi apapun yang menyakiti kita. Tuhan mau agar kita sungguh-sungguh mengenal kebenaran Firman Tuhan. Jadi ketika ada permasalahan apapun, tidak akan akan menganggu hati dan pikiran serta emosi kita. Kita tidak akan merasa susah, tapi tetap bersyukur dan berdiri teguh. Dan kita harus belajar untuk tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Karena Tuhan tidak ingin kita dijajah oleh apapun. Bagi kita yang sudah mengalami kemerdekaan tersebut, tentu sangat mensyukurinya. Namun masih banyak orang diluar sana yang berada dalam kuk perhambaan itu.

No comments:
Write komentar