Pola kepemimpinan yang alkitabiah ~ Pemahaman tentang kepemimpinan merupakan hal yang penting. Jhon C. Maxwell berpendapat, bahwa: “Setiap orang membicarakannya, hanya sedikit yang memahaminya. Kebanyakan orang menginginkannya; hanya sedikit yang mencapainya”. Sangat setuju dengan pandangan dari Jhon C. Maxwell tersebut. Merupakan suatu gagasan yang sangat tepat berkaitan dengan sejauh atau sedalam apa sebenarkan pemahaman tentang hakekat kepemimpinan yang sebenarnya, sehingga dalam prakteknya tidak ditemukan hasil-hasil yang diharapkan dari kepemimpinan itu sendiri. Itulah sebabnya, betapa penting memiliki pemahaman tentang hakekat kepemimpinan dengan baik, tepat dan benar. Kepemimpinan merupakan instrumen untuk mencapai tujuan dari sebuah organisasi. Dengan adanya kepemimpinan maka ada kekuatan yang menggerakkan (faktor manusia) ke arah tujuan yang telah direncanakan. Jadi kepemimpinan adalah suatu proses dimana pemimpin mempengaruhi, menentukan, mengarahkan, dan memberdayakan anggota-anggota melalui kerjasama. untuk melakukan sesuatu yang diyakini harus dilakukan. Secara Praktis, menurut Yakob Tomatala dalam tulisannya mendefinisikan kepemimpinan dapat dipahami dari beberapa pandangan, yaitu: Kepemimpinan adalah seni bekerja (tahu, mau dan aktif bekerja) bersama dan melalui orang lain. Kepemimpinan juga didefinisikan sebagai seni pemenuhan kebutuhan orang yang dipimpin dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama. Dan kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai seni mempengaruhi dan menggerakan orang untuk bekerja sama secara terkoordinasi, dimana semua orang bergerak untuk melakukan tugasnya dengan baik berdasarkan program yang telah dicanangkan dalam kinerja keorganisasian secara menyeluruh.
Menurut Charles J. Keating, “Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau kelompok orang untuk tujuan bersama.” Penekanan Carles pada “seorang pemimpin kekuatannya terdapat pada pengaruh.” Sedangkan , John R. Mott menyatakan bahwa: “Seorang pemimpin adalah seorang mengenal jalan dan berjalan terus ke depan serta dapat menarik orang lain mengikuti dia.” Ini yang berarti kekuatannya terletak pada bagaimana pemimpin mempunyai visi yang kuat sehingga membuat orang-orang yang dipimpinnya mengikuti jejaknya. Adapun, Lord Montgomery mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk mengarahkan orang laki-laki dan perempuan untuk satu tujuan bersama, dan watak yang menimbulkan kepercayaan. Disini kekuatan seorang pemimpin dalam memberi kenyakinan atau suatu harapan yang pasti bagi pengikutnya. Adapun kepemimpinan pada umumnya difahami orang Kristen dapat dijabarkan dari dua perspektif, yang diantaranya adalah: kepemimpinan perspektif umum dan kepemimpinan perspektif Alkitab. 1. Kepemimpinan Persepektif Umum. Pemimpin dan kepemimpinan dapat dikatakan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dimana disepanjang jaman selalu menjadi bahan pembicaraan yang tidak pernah usang dan selalu terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Kemudian, pemimpin juga disebut sebagai suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki keterampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Pemimpin harus mampu memberi pengaruh terhadap orang – orang yang dipimpin. Artinya, dapat memberi dampak untuk mengikuti apa yang menjadi tujuan dan mencapai harapan. Di samping itu, pemimpin juga harus mempunyai wawasan yang luas dalam menangkap segala sesuatu, yang kemudian diterjemahkan dan diteruskan kepada bawahannya dalam bentuk gambaran-gambaran riil dari suatu pencapaian tujuan. Charles J. Keating, “Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau kelompok orang untuk tujuan bersama.” Dan John R. Mott menyatakan bahwa: “Seorang pemimpin adalah seorang mengenal jalan dan berjalan terus ke depan serta dapat menarik orang lain mengikuti dia. Pendapat keduanya memperkuat pendapat para pakar lainnya, supaya dalam kepemimpinan tersebut; pemimpin membawa semua orang yang dipimpinannya memiliki pemahaman yang sama untuk bersatu dan bekerja bersama mencapai tujuan. Bahkan mampu membuat orang- orang yang ada dibawahnya mempunyai kepercayaaan yang kuat akan pemimpinnya, seperti ” Lord Montgomery mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk mengarahkan orang laki-laki dan perempuan untuk satu tujuan bersama, dan watak yang menimbulkan kepercayaan. Jadi dapat disimpulkan definisi kepemimpinan berdasarkan perspektif umum adalah suatu proses yang ditentukan oleh kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi sebanyak mungkin orang, demi tercapainya sebuah tujuan. 2. Kepemimpinan Perspektif Alkitab. Pada prinsipnya, kepemimpinan Kristen memiliki kesamaan dengan kepemimpinan umum, yaitu sebuah proses terencana yang dinamis. Yang membedakan dalam konteks kepemimpinan kristiani ada pada proses dan dinamikanya karena kepemimpinan tersebut merupakan rencana dan campur tangan Tuhan. Dalam Kepemimpinan Kristen, seluruh kegiatan kepemimpinan berdasarkan pada kehendak Allah dan dalam pencapaiannya adalah dilakukan sesuai dengan tujuan Allah. Definisi kepemimpinan perspektif Alkitab dapat dipahami dari beberapa pandangan tokoh kepemimpinan Kristen, di antaranya adalah: Dr. Yakob Tomatala, yang mengatakan bahwa kepemimpinan Kristen adalah “suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen yang di dalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin untuk memimpin umatnya guna mancapai tujuan Allah.[10] Disini dijelaskan bahwa; Tuhan dengan rencanaNya menunjuk seseorang untuk memimpin sesuai dengan kehendakNya. Oswald Sander dalam tulisannya mengatakan bahwa: Kepemimpinan dalam perspektif Alkitab adalah sebuah campuran antara sifat-sifat alamiah dan rohaniah. Sifat alamiah yang bukan timbul begitu saja, melainkan diberikan oleh Allah, dan oleh karena itu sifat-sifat ini akan mencapai efektifitasnya yang tertinggi jika digunakan di dalam melayani Allah dan untuk kemulianNya. Sedangkan Oswald melihat dari dua sisi yang saling terkait dalam diri seseorang untuk digunakan dalam suatu pelayanan secara efektif. Robert Clinton mendefinisikan kepemimpinan yaitu: “Kepemimpinan (Kristen) ialah suatu proses terencana yang dinamis yang di dalamnya seorang pemimpin dengan kapasitas dan tanggungjawab pemberian Allah memimpin (menggerakkan) suatu kelompok orang atau para bawahan ke arah tujuan Allah yang menguntungkan pemimpin dan bawahan.”
No comments:
Write komentar