Custom JavaScript Footer

Thursday, June 16, 2022

Syarat Untuk Mengalami Kepenuhan Roh Kudus

Syarat untuk mengalami kepenuhan Roh Kudus ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari kitab Kejadian 2:1-7. Dalam Kejadian 2:7, penulis kitab Kejadian dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. Kepenuhan Roh Kudus adalah suatu peristiwa spiritual yang dialami oleh setiap orang yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kepenuhan Roh Kudus adalah suatu peristiwa penting dalam perjalanan iman setiap orang percaya. Kepenuhan Roh Kudus adalah sangat penting bagi hidup rohani setiap orang Kristen. Kepenuhan Roh Kudus adalah juga merupakan karya Allah bagi hidup setiap murid Kristus. Kepenuhan Roh Kudus adalah penentu pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani dari gereja Tuhan. Pada sisi lain kepenuhan Roh Kudus adalah bagian integral bagi perkembangan gereja.
Meja, kursi, lemari, dan pintu adalah sebagian kecil dari hasil kerja seorang tukang kayu. Benda-benda itu diciptakan supaya dapat digunakan sesuai fungsi mereka masing-masing. Tukang kayu akan membuat sketsa desain, mengukur, memotong serta menggabungkan kayu untuk bisa ia bentuk sesuai keinginannya. Artinya setiap kali hendak membuat sesuatu, tukang kayu memiliki tujuan akan kegunaan benda tersebut. Tidak mungkin ia asal-asalan saat membuat sebuah benda. Allah pun demikian, Dia memiliki tujuan ketika Dia menciptakan bumi beserta isinya. Bukan tanpa tujuan pula, manusia menjadi ciptaan terakhir dari rangkaian penciptaan Allah. Setelah dunia lengkap dengan isinya, barulah Allah menciptakan manusia. Begitu istimewanya manusia bagi Allah, Dia juga menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Berbeda dengan ciptaan-Nya yang lain yang diciptakan hanya dengan berkata-kata, Dia menciptakan manusia secara khusus. Allah membentuk manusia dari debu tanah dan kemudian menghembuskan nafas kehidupan. Saat itu sebenarnya Allah mengimpartasikan Roh-Nya untuk memenuhi hidup manusia; sehingga manusia bukan hanya menjadi hidup, tetapi juga beroperasi di dimensi yang sama dengan dimensinya Allah, yaitu dimensi roh. Kepenuhan Roh Allah yang diterimanya itu membuat Adam menjadi manusia yang penuh dengan kuasa, segambar dan serupa dengan Allah. Kita pun diciptakan Allah dengan kapasitas untuk menerima kepenuhan Roh Allah. Roh manusia yang semula dipenuhi kemuliaan Allah memang telah mengalami kejatuhan saat manusia berdosa. Sehingga kini roh kita pun tidaklah sempurna. Namun ketika Roh Kudus turun ke atas kita, roh kita kembali diaktifkan. Sehingga kita dapat kembali beroperasi dalam dimensi roh. Saat kita menerima kepenuhan Roh, tujuan Allah dalam hidup kita pun dipulihkan. Kita dapat melangsungkan kehidupan serta memenuhi tanggung jawab kita di muka bumi ini sesuai dengan rencana besar Allah. Kepenuhan Roh Kudus adalah membantu setiap orang percaya untuk berfungsi secara maksimal di dunia ini. Pada sisi lain, kepenuhan Roh Kudus juga memberi kuasa rohani kepada setiap orang percaya untuk melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini. Kepenuhan Roh Kudus adalah cara Allah memperlengkapi umat-Nya untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk. Gereja tanpa kepenuhan Roh Kudus adalah gereja yang tidak berfungsi dengan baik. Pelayanan yang kita lakukan tanpa kepenuhan Roh Kudus adalah pelayanan daging bukan pelayanan rohani. Aktivitas rohani yang kita selenggarakan tanpa kepenuhan Roh Kudus adalah kegiatan agamawi dan perintah manusia saja. Berdasarkan pemaparan di atas, maka kita bisa melihat bahwa sesungguhnya kepenuhan Roh Kudus adalah sangat fundamental bagi hidup dan pelayanan gereja di akhir zaman ini. Kepenuhan Roh Kudus adalah kuasa yang membuat gereja bertumbuh dan berkembang sebagaimana yang Allah kehendaki. Jadi, kepenuhan Roh Kudus adalah sangat penting bagi kita.

Saturday, May 21, 2022

Dalam Anugerah Tuhan Kita Dipanggil Untuk Melayani Dia

Dalam anugerah Tuhan kita dipanggil untuk melayani Dia ~ Landasan firman Tuhan untuk tema dalam anugerah Tuhan kita dipanggil untuk melayani Dia diambil dari surat rasul Paulus kepada anak rohaninya Timotius, yaitu dalam 2 Timotius 1:3-12. Secara lengkap kebenaran firman Tuhan itu saya lampirkan di bawah ini. 1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. 1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. 1:6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. 1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. 1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. 1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman 1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. 1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. 1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
Ketika Jhon Wesley berumur lima tahun rumah keluarganya terbakar. Semua anggota keluarga wesley selamat dari musibah tersebut, termasuk jhon Wesley. Namun Jhon Wesley hampir saja tidak terselamatkan, saat itu ia sedang berada di kamar atas. Ia diselamatkan orangtuanya di menit-menit terakhir ketika rumahnya roboh akibat kobaran api. Dikemudian hari, Wesley melihat peristiwa itu sebagai sebuah tanda bahwa Tuhan mempunyai rencana yang besar didalam hidupnya yaitu melayani Tuhan secara penuh waktu. Kita di panggil menjadi percaya kepada Kristus dan menjadi mitra-Nya dalam pelayanan bukan karena Dia melihat kita baik dan berkualitas dari segala sisi kehidupan kita. Melainkan karena belas kasihan Tuhan. Dalam Roma 11:29, Paulus berkata: “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” Artinya apa? Allah begitu mengasihi kita (Yohanes 3:16) dan Dia tidak pernah menyesal dengan segala keputusanNya. Lalu bagaimanakah sikap dan tindakan yang benar dalam menerima panggilan Tuhan? Berdasarkan 2 Timotius 1:3-12 sedikitnya ada tiga hal penting yang mesti kita perhatikan. Satu, mengikuti dan melayani Tuhan semestinya dengan hati nurani yang murni (3). Paulus sosok hamba Tuhan yang memiliki hati nurai yang murni di dalam melayani Tuhan. Dia melayani denga kejujuran, kesungguhan hati. Tidak ada motivasi terselubung di dalam pelayanannya selain hanya untuk menyenangkan tuannya Yesus Kristus. Kemurnian hati seseorang dalam pelayanan akan terlihat dan itu di uji oleh waktu dan tantangan yang dihadapinya. Dua, terimalah panggilan dengan iman yang tulus ikhlas (5). Di dalam buku “Teologi Dasar 2” tulisan Dr.Charles C.Ryrie. iman ialah keyakinan menganggap sesuatu atau seseorang itu benar. Iman kekeristenan adalah menganggap Yesus adalah pribadi yang benar dan satu-satunya yang sanggup menyelamatkan manusia berdosa. Dalam kontek pelayanan, kehidupan dan pelayanan kita ada dalam kendali Tuhan. Itulah iman yang tulus. Tiga, panggilan Tuhan sifatnya kudus maka kehidupan si penerima panggilan mesti kudus (9). Panggilan Allah kepada kita bukanlah main-main. Karena yang memanggil kita bukan manusia tetapi Allah, Raja segala raja. Dia adalah pribadi yang kudus. Oleh karena itu kehidupan kitapun harus mencerminkan kekudusan-Nya. Melayani Allah adalah kesempatan yang paling berharga didalam kehidupan ini karena itu jagalah pelayanan kita agar tidak menjadi batu sandungan.

Friday, May 13, 2022

Memelihara Hati Nurani Yang Murni

Memelihara hati nurani yang murni ~ Landasan firman Tuhan untuk tema memelihara hati nurani yang murni, diambil dari kitab Kisah Para Rasul. Demikianlah firman Tuhan : ”Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia” – Kisah Para Rasul 24:16.* Hati nurani adalah kesanggupan dalam diri kita yang mengaitkan dirinya dengan tolok ukur tertinggi yang saya ketahui, dan kemudian terus-menerus mengingatkan saya tentang apa yang dituntut oleh tolok ukur tersebut untuk saya lakukan. Hati nurani adalah mata jiwa yang memandang keluar, baik ke arah Allah atau ke arah tolok ukur tertinggi. Hal ini menjelaskan mengapa suara hati nurani pada masing-masing orang selalu berbeda. Jika saya terbiasa dengan berpegang teguh pada tolok ukur Allah, hati nurani saya akan selalu mengarahkan saya pada hukum Allah yang sempurna dan memberi tuntunan pada apa yang harus saya lakukan.
Pertanyaannya adalah apakah saya mau mematuhinya? Saya harus berusaha memelihara hati nurani saya tetap peka agar saya dapat hidup tanpa menggusarkan siapa pun. Saya harus hidup dalam keserasian yang sempurna dengan Anak Allah supaya roh saya dibarui dalam setiap situasi kehidupan, dan supaya saya dengan cepat sanggup “membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna” (Roma 12:2; lihat juga Efesus 4:23). Allah selalu memberi petunjuk kepada kita dengan amat terperinci. Apakah telinga saya cukup peka untuk mendengar bisikan Roh Kudus yang paling lembut sehingga saya tahu apa yang harus saya lakukan? “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah ...” (Efesus 4:30). Roh Allah tidak berbicara dengan suara seperti guntur. Suara-Nya sedemikian lembutnya sehingga mudah bagi kita untuk mengabaikannya. Satu-satunya cara untuk memelihara hati nurani kita agar tetap peka ialah kebiasaan untuk membuka hati kepada Allah. Bila Anda mulai mendebat, berhentilah seketika. Jangan bertanya “Tuhan, mengapa saya tidak dapat melakukan (yang) ini?” Anda berdiri di jalur yang salah. Tidak ada kemungkinan untuk perdebatan jika hati nurani Anda berbicara. Apa pun itu -- buanglah, dan jagalah agar hati nurani Anda tetap jernih. Selamat beraktivitas, tetap semangat dan selalu andalkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memberkati hidup, keluarga, pekerjaan dan pelayanan kita. Amin

Tuesday, May 10, 2022

4 Rahasia Untuk Bisa Melewati Badai Kehidupan

4 rahasia untuk bisa melewati badai kehidupan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema 4 rahasia untuk bisa melewati badai kehidupan, diambil dari kitab Keluaran. Demikianlah firman Tuhan: “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu” – Keluaran 14:13a. Tuhan memili dan menetapkan Musa sebagai pemimpin Israel untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan membawa mereka menuju ke tanah terjanji. 400 tahun bangsa Israel diperbudak oleh bangsa Mesir. Untuk keluar dari Mesir bukanlah perkara mudah bagi mereka. Raja Firaun sebagai penguasa tertinggi di Mesir tidak sudi membiarkan Israel merdeka. Allah Abraham, Ishak dan Yakub harus turun tangan untuk memaksi raja Firaun membiarkan bangsa Israel bebas dari perbudakan. Ada 10 tulah dipakai Allah Israel untuk memaksa raja Firaun membebaskan bangsa Israel. Kendati demikian, raja Firaun tidak menyerah. Mereka dikejar oleh pasukan Firaun hingga mereka tiba di tepi Laut Teberau. Bagi bangsa Israel, sudah tidak ada jalan keluar lagi dari masalah yang ada pada saat itu. Di belakang mereka ada pasukan Firaun yang mengejar, sedangkan di depan mereka terbentang lautan yang luas dan dalam. Tidak ada jalan lagi bagi bangsa Israel pada saat itu, mereka benar-benar dalam keadaan yang terjepit. Kisah ini menggambarkan badai kehidupan yang sering dialami dalam kehidupan kekristenan kita. Begitu besar dan begitu banyak masalah yang menghimpit kehidupan kita, sehingga kita merasa tidak ada lagi jalan keluar. Segala cara sudah ditempuh, namun tidak membuahkan hasil. Mari kita belajar dari kisah Musa dan bangsa Israel, bagaimana cara mereka melalui masalah yang seperti itu. Ada beberapa rahasia yang bisa kita temukan dalam sejarah bangsa Israel bebas dari Mesir dan bagaimana mereka bisa melewati badai kehidupan. Rahasia dimaksud, yaitu:
Satu, miliki keberanian dan bebaskan diri dari rasa takut. Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut…“ Keluaran 14.13a Kita tidak boleh takut terhadap masalah sebesar apapun yang menghimpit hidup kita. Kita harus katakan kepada diri kita sendiri untuk tidak takut terhadap masalah tersebut. Bebaskan diri kita dari ketakutan, karena di dalam ketakutan tidak akan ada damai sejahtera. “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Fil 4.7 Mintalah damai sejahtera dari Allah Bapa untuk memelihara hati dan pikiran kita dari ketakutan. Ketika damai sejahtera-Nya melingkupi hati kita, kita tidak akan pernah merasa takut lagi. Dua, jangan lemah namun tetap kuat. Masalah demi masalah mungkin akan membuat kita lelah atau bahkan terjatuh. Satu hal yang membuat kita dapat meraih keberhasilan adalah ketika kita bangkit dari kejatuhan dan berdiri kembali. Bukan seberapa dalam kita terjatuh, tetapi seberapa kuat kita mau berdiri kembali ketika kita terjatuh. “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu” Ef 6.13. Gunakan seluruh perlengkapan rohani yang sudah Tuhan sediakan bagi kita: Firman Tuhan, kebenaran, keadilan , doa, damai sejahtera, iman dan keselamatan (Ef 6.14-18). Dengan bangkit kembali dan tetap berdiri dalam kebenaran Tuhan, maka kita akan meraih keberhasilan dan kesuksesan di tengah-tengah masalah. Tiga, andalkan Tuhan dan kuasa-Nya serta pakailah potensi kita. Tongkat berbicara mengenai kuasa Tuhan. Dengan tongkat ini maka Musa dapat membelah laut. Pada kisah sebelumnya tulah-tulah terjadi melalui tongkat yang digunakan oleh Musa. Di kisah berikutnya-pun Musa juga menggunakan tongkat ini mengeluarkan air yang dapat diminum oleh bangsa Israel. Dan banyak mujizat lainnya yang terjadi untuk membuktikan kuasa Allah bagi bangsa Israel. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kis 1.8 Kuasa Tuhan telah dicurahkan melalui Roh-Nya yang telah turun dan tinggal di dalam hidup kita. Ketahuilah hal ini dan yakinlah bahwa Kuasa Tuhan ada di dalam kita. Kuasa ini adalah kuasa yang sama dengan kuasa yang digunakan Musa melalui tongkatnya. Gunakan otoritas yang telah Dia berikan bagi hidup kita untuk membelah laut di hadapan kita. Yakinilah bahwa kuasa Tuhan dapat digunakan untuk membuka jalan di tengah masalah-masalah yang kita hadapi. Perkatakan Firman Tuhan, perkatakan hal-hal positif dan perkatakan hal yang membangun. Empat, taati perintah Tuhan yang kita dengar. “Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering” Keluaran 14:16. Perintah untuk mengulurkan tangan adalah perintah agar Musa memiliki iman dan memberanikan diri untuk bertindak. Hasil dari tindakan iman inilah yang membuat Laut Teberau terbelah. “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” – Yakobus 2:26. Laut Teberau tidak akan terbelah, jika Musa tidak mengulurkan tangannya ke atas laut. Otoritas yang sudah Tuhan berikan ke dalam hidup kita tidak akan ada artinya jika kita tidak bertindak atau melangkah dengan iman. Masalah yang ada harus kita hadapi dengan penuh iman dan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan membuka jalan bagi kita. Dia akan memberikan kemampuan ilahi yang tidak dapat kita lihat dengan mata fisik, untuk menyelesaikan masalah yang ada. Bertindaklah dan melangkahlah dengan iman, maka kita akan melihat Tuhan membuka jalan bagi kita di saat tiada jalan. Jangan takut dan tetap berdiri bersama dengan Tuhan, maka kita akan melihat keselamatan demi keselamatan, dan mujizat demi mujizat terjadi dalam langkah hidup kita (Keluaran 14:13). Tuhan yang telah berfirman tidak akan meninggalkan kita begitu saja. Dia akan memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk dapat berdiri tegak dan berjalan terus di tengah-tengah kesulitan yang ada. Yakinlah akan otoritas yang telah Tuhan berikan bagi hidup kita. Gunakan otoritas tersebut sebagai orang beriman untuk melangkah dengan berani di tengah-tengah badai yang menerpa. Tidak ada kuasa di dunia ini yang dapat mengalahkan kuasa Tuhan yang telah diberikan bagi hidup kita. Bersama Yesus kita akan lakukan perkara-perkara besar. Haleluya!

Saturday, April 30, 2022

Akibat Buruk Dari Sikap Suka Menunda

Akibat buruk dari sikap suka menunda ~ Landasan firman Tuhan untuk tema akibat buruk dari sikap suka menunda diambil dari kitab 2 Samuel 20:1-5. Secara lengkap firman Tuhan tersebut saya lampirkan di bawah ini. 20:1 Kebetulan ada di sana seorang dursila, bernama Seba bin Bikri, orang Benyamin. Ia meniup sangkakala serta berkata: "Kita tidak memperoleh bagian dari pada Daud. Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu. Masing-masing ke kemahnya, hai orang Israel!" 20:2 Lalu semua orang Israel itu meninggalkan Daud dan mengikuti Seba bin Bikri, sedangkan orang-orang Yehuda tetap berpaut kepada raja mereka, mengikutinya dari sungai Yordan sampai Yerusalem. 20:3 Sampailah Daud ke istananya di Yerusalem, lalu raja mengambil kesepuluh gundik yang ditinggalkannya untuk menunggui istana, kemudian dimasukkannya mereka dalam sebuah rumah di bawah penjagaan. Ia memelihara mereka, tetapi tidak dihampirinya. Mereka tetap terasing seperti janda sampai hari mati mereka. 20:4 Berkatalah raja kepada Amasa: "Kerahkanlah bagiku orang-orang Yehuda dalam tiga hari, kemudian menghadaplah lagi ke mari!" 20:5 Lalu pergilah Amasa mengerahkan orang Yehuda, tetapi ia menunda-nunda tugas itu sampai melewati waktu yang ditetapkan raja baginya.
Banyak alasan mengapa seseorang menunda-nunda sebuah tugas atau pekerjaan. Ia merasa tidak tahu atau tidak mampu memgerjakannya. Ia harus mengerjakan berbagai hal lain, sehingga tidak fokus. Bisa juga ia merasa hal itu kurang penting, sehingga tidak memprioritaskannya. Beberapa pekerjaan yang ditunda-tunda mungkin tidak berdampak apa-apa bagi kita. Namun ada juga yang berakibat buruk, yang bahkan dapat membuat kita kehilangan berbagai hal berharga dalam hidup. Amasa adalah keponakan sekaligus panglima tentara Daud. Ketika Absalom kudeta takta ayahnya, Daud, ia pun mengangkat Amasa jadi pemimpin tentarnya (2Sam.17:25). Namun ketika Absalom tewas dan Daud kembali menjadi raja Israel, Amasa kembali diangkat sebagai panglima (2Sam.19:23). Namun tak lama kemudian, Seba, seorang Benyamin, memimpin pemberontakan terhadap Daud. Lalu Daud memerintahkan agar Amasa memimpin orang-orang Yehuda untuk menangkap Seba, dalam waktu tiga hari, lalu menghadap raja. Amasa pergi, namun ia menunda-nunda tugas itu hingga lewat tenggat waktunya. Sang raja pun mengalihkan tugas itu kepada orang lain. Salah satu pemimpin Daud, Yoab, menganggap penundaan Amasa itu sebagai perilaku tidak menghormati raja, lalu ia membunuhnya serta membereskan masalah Seba. Kisah Amasa ini mengingatkan kita untuk tidak menunda-nunda mengerjakan sesuatu yang penting. Terus belajar menetapkan prioritas. Agar kita tidak mengalami berbagai akibat buruk yang dapat menimpa. Jika kita menilai sesuatu itu penting, jangan menunda mengerjakannya hingga situasi menjadi genting. Tuhan Yesus memberkati!

Hanya Tuhan Yesus Yang Sanggup Mengatasi Masalah Rohani Kita

Hanya Yesus yang sanggup mengatasi masalah rohani kita ~ Landasan firman Tuhan untuk tema hanya Yesus yang sanggup mengatasi masalah rohani kita, diambil dari Injil Lukas. Demikian firman Tuhan : “Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” – Lukas 24:16 HIDUP ADALAH KESEMPATAN. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Dalam bahasa aslinya, ayat diatas diterjemahkan mata mereka tertahan dari mengenal Dia. Artinya, mereka terhalang untuk mengenali Yesus. Tetapi disaat makan, orang asing ini melakukan tindakan yang membuat mereka tersentak. Ia memecahkan roti. Detik itu juga mata rohani mereka terbuka. Yang duduk bersama mereka adalah Yesus yang sudah bangkit. Nah kalau begitu, rupanya yang tadi berjalan bersama mereka dan sekarang duduk dimeja makan adalah Yesus sendiri. Anehnya, begitu mereka mengenali Yesus, Dia langsung raib. UNTUK MENGENAL YESUS, MATA ROHANI KITA HARUS CELIK. Mata rohani beda dengan mata jasmani. Mata jasmani sering menipu kita. Kelihatannya menggiurkan, padahal racun. Nampaknya jalannya mulus, padahal penuh jebakan. Sekilas menjanjikan kebahagiaan, padahal menyengsarakan. Untuk bisa mengenali Yesus yang sudah bangkit, maka kuncinya, mata rohani setiap orang harus dicelikkan. Jika mata rohani kita buta, jangan harap bisa mengenali Yesus yang bangkit. Alih alih mengenali Yesus yang bangkit, mengenali Yesus yang belum mati saja sulit !
INGAT KISAH DUA BELAS PENGINTAI?. Dalam Perjanjian Lama, tatkala kedua belas orang pengintai itu diutus untuk menyelidiki keadaan kota Kanaan, apa yang terjadi? Kesepuluh orang pulang dengan bersungut sungut, mereka katakan kita mustahil bisa merebut Kanaan. Disitu tembok kotanya tinggi tinggi, penghuninya manusia raksasa dan sebagainya. Beda halnya dengan Yosua dan Kaleb, mereka pulang dengan wajah berseri seri. Dengan penuh optimisme, keyakinan diri, mereka katakan Kita pasti menang Apakah kedua belas orang itu matanya buta sehingga melihat keadaan yang berbeda? T I D A K ! Mereka semuanya sehat matanya, bisa melihat dengan jelas. Tetapi yang membedakan adalah yang sepuluh orang mata rohaninya buta. Sedangkan yang dua orang, Kaleb dan Yosua, tidak buta ! APA BEDANYA MATA ROHANI YANG CELIK DENGAN YANG BUTA? Mata rohani yang buta tidak bisa melihat kondisi yang sebenarnya. Mata rohani yang buta, hanya mengandalkan mata jasmani. Yang muncul adalah ketakutan dan tidak nampak harapan. Mata rohani yang buta membuat Kesempatan menjadi kesia siaan Bedanya dengan mata rohani yang celik, sebaliknya. Mata rohani yang terbuka akan membuat Hidup yang sia sia menjadi kesempatan. Kesulitan memang didepan mata. Rintangan kelihatan jelas menghalangi. Tembok kesusahan kokoh berdiri. Tetapi mata rohani yang sudah dicelikkan, akan melihat ada Tuhan yang menyertainya. JANGAN JADI SEPERTI PARA MURID PADA WAKTU ITU. Mereka begitu terbuai dengan pengharapan mereka sendiri. Akibatnya tatkala apa yang mereka harapkan tidak terwujud, mereka kecewa berat. Seakan akan apa yang mereka lakukan selama mengikuti Yesus sia sia. Contoh yang paling jelas ada pada diri Petrus. Petrus merasa lebih baik kembali ke hidupnya dimasa lalu, menjadi nelayan kembali. YESUS SANGAT MENGASIHI PETRUS, JUGA ANDA. Cita cita Petrus yang ingin kembali kepada hidupnya yang lama tidak kesampaian. Yesus menangkapnya kembali untuk menjadi Penjala manusia. Saat itu, Yesus sudah berdiri dihadapan Petrus dan teman temannya. Tetapi mereka tidak mengenali Yesus. Petrus yang sudah kembali kepada hidupnya yang lama, setelah melihat Yesus yang bangkit, akhirnya berubah pikiran, kini kembali mengikut Yesus, Tuhan yang tidak pernah bosan mengasihinya. Petrus menyerah saat menyaksikan cinta Yesus yang teramat hebat kepadanya. KONDISI ANDA KINI SEPERTI PETRUS? Berada dalam kebimbangan. Hampir kehilangan harapan. Maju kena, mundur kena. Anda ingin kembali ke cara hidup anda yang lama? Anda merasa sia sia mengikuti Yesus ? Pertanyaan yang harus anda jawab dengan jujur, Apakah saat ini mata rohani anda berfungsi dengan baik ? Jika anda merasa ada masalah, datanglah kepada Yesus, mohon kepadaNya untuk mencelikkan mata rohani anda. Hanya orang orang yang mata rohaninya celik, bisa melihat bahwa masih ada kesempatan didalam Yesus. Para murid termasuk Petrus, akhirnya mendapat kesempatan setelah mata mereka celik. Petrus dan para murid mengalaminya, mengapa anda tidak ?

Thursday, March 17, 2022

Kristus Mengasihi Kita Agar Kita Juga Mengasihi Sesama

Kristus mengasihi kita agar kita juga mengasihi sesama ~ Landasan firman Tuhan untuk tema Kristus mengasihi kita agar kita juga mengasihi sesama, diambil dari surat rasul Paulus kepada orang-orang percaya, orang-orang kudus, jemaat Tuhan Yesus yang ada di kota Efesus, yaitu dalam Efesus 5:2. Demikianlah firman Tuhan : ”dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah”. Rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus menuliskan surat ini dan mengirimkannya kepada jemaat di Efesus. Rasul Paulus memberi motivasi dan juga memberi nasihat rohani kepada mereka supaya kasih itu menjadi cara hidup mereka. Mengapa demikian? Jawaban dan alasannya ialah karena Tuhan Yesus Kristus telah mengasihi mereka yang dibuktikan dengan mengorbankan, memberikan dan menyerahkan diri-Nya mati di atas kayu salib. Tentunya hal tersebut tidak hanya ditujukan kepada jemaat di Efesus saja, namun firman Tuhan itu juga buat kita sampai dengan hari ini. Allah sudah memberikan teladan kepada kita dengan pengorbanan Yesus, Anak yang dikasihi-Nya sebagai perdamaian di antara kita dengan Allah dan mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Yesus sudah menjadi persembahan yang harum bagi Allah, demikian juga kita sekarang. Itulah manifestasi kasih yang sempurna. Dan Allah menghendaki kita untuk memanifestasikan kasih dalam hidup kita melalui wujud perbuatan iman atau buah Roh. Kita seharusnya menghasilkan buah Roh. Kehidupan kekristenan tak dapat dipisahkan dari kasih, artinya setiap orang yang percaya kepada Kristus harus memiliki kasih dalam hidupnya.
Kasih seperti apa? Bukan kasih yang hanya digembar-gemborkan di atas mimbar atau ditulis dalam slogan dengan huruf besar dan tinta berwarna supaya menarik banyak orang, tetapi kasih yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? “… sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Kor. 4:7-8). OLEH KARENA ITU, SETIAP ORANG KRISTEN DIPERINTAHKAN UNTUK HIDUP DI DALAM KASIH. JADI, MENGASIHI DENGAN KASIH KRISTUS ADALAH GAYA HIDUP ORANG KRISTEN. TUHAN YESUS BERKATA, “DENGAN DEMIKIAN SEMUA ORANG AKAN TAHU, BAHWA KAMU ADALAH MURID-MURID-KU, YAITU JIKALAU KAMU SALING MENGASIHI” (YOH. 13:35). Identitas orang percaya bukan hanya terlihat dari pengakuannya saja di muka umum bahwa dia adalah orang Kristen, melainkan juga dengan mendemonstrasikan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Orang percaya harus hidup saling mengasihi dengan kasih Kristus. Hidup dalam kasih berarti harus membuang semua sifat “manusia lama” kita yang cenderung egois, mementingkan diri sendiri dan tidak punya kepedulian terhadap orang lain. Bukan hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mampu mengasihi orang yang telah menyakiti dan membenci kita. Bila kita tetap memperlihatkan kasih kita kepada Kristus dengan menanggalkan manusia lama yang cenderung egois dan mementingkan diri sendiri, maka kita sedang mengalahkan dunia dengan segala kemewahan dan kegemerlapannya yang sewaktu-waktu bisa memperdaya kita dengan kesombongan dan keangkuhan. Yang terutama dari itu, kita seharusnya mau belajar meneladani kasih Yesus. DALAM KASIH-NYA, YESUS MEMBERIKAN TELADAN YANG LUAR BIASA. DI MANA KASIH YESUS ADALAH KASIH YANG TIDAK MEMANDANG MUKA, TIDAK MEMANDANG WAKTU, TANPA PAMRIH DAN TANPA SYARAT (BEBERAPA RENUNGAN BERIKUTNYA AKAN MEMBAHAS TENTANG KASIH YESUS INI, YAKNI TANPA PANDANG MUKA, HINGGA TANPA SYARAT). Itulah mengasihi yang dikehendaki oleh Kristus Yesus di dalam kita, di mana kasih Kristus mewarnai hidup kita dan kita pun mewarnai sekeliling kita dengan kasih-Nya.

Wednesday, December 15, 2021

Sekalipun Tidak Ada Alasan Untuk Berharap, Tetaplah Berharap

Sekalipun tidak ada alasan untuk berharap, tetaplah berharap ~ Landasan firman Tuhan untuk tema sekalipun tidak ada alasan untuk berharap, tetaplah berharap, diambil dari surat rasul Paulus kepada orang-orang kudus, orang-orang percaya yang ada di kota Roma. Rasul Paulus menulis dalam pimpinan, tuntunan, arahan dan bimbingan Roh Kudus, menulis demikian : “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” – Roma 4:18. Dalam menjalani hidup sampai dengan saat ini, tentunya ada banyak peristiwa atau kejadian yang menguras pikiran, perasaan, kehendak dan juga biaya/ dana. Terkadang peristiwa-peristiwa hidup sering membuat kita kewalahan, susah dan kondisi terpuruk. Semua itu tidak bisa kita hindari atau elakan dari hidup ini. Bahkan acap kali kita menemukan diri dalam keadaan kehilangan harapan. Waktu adalah milik manusia yang paling berharga. Anda dapat menghasilkan lebih banyak uang tetapi Anda tidak dapat menciptakan lebih banyak waktu. Bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda adalah bukti di mana harapan Anda berada. Jika harapan Anda ada pada Tuhan dan firman-Nya, maka Anda akan menginvestasikan waktu di dalamnya.
Ayat bacaan hari ini menggambarkan bagaimana Abraham tidak ada dasar untuk berharap, tetapi Ia tetap meluangkan waktu untuk berharap. Kalimat "tidak ada dasar untuk berharap" adalah sebuah fakta yang sangat menakutkan pastinya bagi banyak orang. Semua pengharapan yang kita miliki, pastinya kita inginkan harus ada sebuah dasar atau fakta yang mendukung bahwa harapan itu bisa terjadi atau tercapai. Tidak selalu seperti itu. Walaupun kelihatannya tidak mungkin terjadi, selama kita memiliki janji Tuhan yang sudah tertulis di Alkitab, kita bisa berharap. Abraham menerima janji dari Tuhan bahwa keturunannya akan sebanyak bintang-bintang di langit. Bagi Abraham dan Sarah janji itu tampaknya sama sekali tidak mungkin, tubuh Abraham sudah sangat lemah dan rahim Sara sudah mati. Inilah arti sebuah pengharapan yang seolah-olah tidak ada dasarnya. Justru karena seolah-olah tampaknya tidak ada dasarnya, atau kelihatan mustahil, itu menjadi sebuah pengharapan. Jika tampaknya mungkin, bukan merupakan pengharapan lagi. Itu sebabnya, Tuhan suka ketika kita ada di posisi yang sulit, terpojok, tidak ada jalan keluar atau tidak ada dasar atau alasan untuk berharap. Itu adalah saat dimana Tuhan mau kita berharap kepada Dia. Ketika nanti Tuhan menjawab, maka kesaksian kita akan dipenuhi dengan kemuliaan bagi Tuhan bukan kehebatan diri kita. Ketika Anda sedang mengalami masa-masa sulit, teruslah percaya pada firman Tuhan, luangkan waktu untuk memahami, merenungkan, menyukai dan mempelajarinya dengan hati. Meluangkan waktu bersama Tuhan adalah cara Tuhan menghembuskan hikmat-Nya ke dalam diri Anda. Jangan tergoda untuk berpikir bahwa Anda akan lebih puas jika Anda menerima jawaban doa Anda. Minta kepada Tuhan untuk merasa kepuasan sekarang, justru sebelum menerima jawaban doa. Puas, karena pengharapan di dalam Tuhan tidak akan pernah mengecewakan (baca ROMA 5:1-5). Pengharapan dan kepuasan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Orang dunia akan merasa puas setelah mendapatkan apa yang ia harapkan. Anak Tuhan akan merasa puas justru sebelum melihat harapannya menjadi kenyataan. Itu semua terjadi karena ia tahu bahwa dirinya tidak pernah akan kecewa, karena hal baik akan terjadi bagi semua orang percaya. AMIN ! Kasih karunia Tuhan cukup bagimu.