Arti dan makna panggilan Tuhan bagi kita ~ Bekerja untuk Tuhan tidak terlepas dari panggilanNya. Tuhan memanggil seorang pekerja untuk mengabdi bagi-Nya karena Dia punya tujuan, dan bukan cuma asaal memanggil dan mempekerjakan, melainkan sasarannya ialah pada damai sejahtera. Seorang pelayan, siapa pun dia, sebelum melaksanakan tugas panggilannya, pertama-tama dia harus mengerti dan mengetahui arti panggilan Tuhan pada dirinya. Bila ia bekerja dan tidak mengerti arti panggilan itu, tentu pekerjaannya mengambang dan ia tidak tahu ke mana tujuan pelayanannya. Topik ini, menurut saya, merupakan “pintu masuk rumah pelayanan” kita, sebelum kita mulai beraktivitas dalam rumah tersebut. Karena itu, besar harapan saya topic ini dapat dipelajari untuk menjadi modal pemahaman dan persepsi serta motivasi bersama dalam melaksanakan tugas panggilan yang diembankan Tuhan kepada kita masing-masing. Tuhan memanggil para pekerjaNya: penatua, syamas, pengajar, penginjil dan guru jemaat dan pendeta, dan mempekerjakan mereka dalam gereja supaya umatNya, domba-domba yang telah ditebusNya, tetap percaya dan berpengharapan pada Tuhan. Sehingga demikian keselamatan dan kesejahteraan yang telah diwujudkan Tuhan kepada dunia ini tetap menjadi milik umat kepunyaanNya. Arti dan makna panggilan. Panggilan mengandung hubungan antara dua pihak yaitu yang memanggil dan yang dipanggil. Yang memanggil tentunya mempunyai maksud dan tujuan, dan bukannya cuma asal memanggil. Sedangkan yang dipanggil pada prinsipnya mendengar apa isi panggilan itu, apakah menguntugkan atau merugikan. Tentunya yang dipanggil itu akan menunjukkan sikap. Andaikan panggilan itu menguntungkan, sikap dari yang dipanggil itu ialah segera mendekat; tetapi bila isi panggilan itu tidak menguntungkan ia akan bersikap pasif terhadap yang dipanggil.
Panggilan berbeda dengan perintah, karena yang pertama lebih bersifat ajakan, sedangkan yang kedua lebih bersifat kekuasaan. Memang ada juga panggilan yang bersifat paksaan, umpamanya seorang prajurit dipanggil untuk menghadap oleh komandannya. Sang prajurit itu tanpa alasan tunduk pada komandannya walaupun ia tidak tahu apakah panggilan itu menguntungkan atau tidak. Berbeda dengan panggilan yang dimengerti dalam konteks kekristenan, yang mana ia mengandung sifat ajakan yang penuh kasih. Panggilan tertuju pada orang-orang tertentu yang lasimnya dikenal namanya. Kita lihat misalnya Tuhan memanggil Musa dan Samuel langsung dengan menyebut nama mereka (Kel 3:4; 1 Sam 3:4) begitu pula yang dialami oleh Yakub (Kej 46:2). Tegasnya panggilan bukan suatu pengumuman. Tidak ditujukan kepada sembarang orang atau semua orang. Panggilan membuka kemungkinan terjadinya ikatan baru. Pada prinsipnya panggilan menuntut kepada orang yang dipanggil untuk dengar dan mendekat pada yang memanggil, taat dan setia melaksanakan perintah dari yang memanggil. Alkitab cukup menjelaskan tentang panggilan Tuhan terhadap hamba-hambaNya yang memiliki dua sifat yaitu pertama, mengandung kalimat-kalimat berbentuk suruhan seperti “pergilah,” “jadikanlah” (bnd. Mat 28:19); dan kedua berbentu penegasan “Aku mengutus engkau…” (bnd. Kel. 3:10). Kalimat suruhan baik dalam kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai pengertia yang sama, yaitu mengandung arti “perintah” ataupun “permintaan” yang mendesak. Esensi panggilan kita Panggilan Tuhan terhadap seorang pribadi menjadi seorang pekerjaNya tidak mengandung unsure paksaan melainkan unsure kasih, karena Tuhan adalah Kasih. Oleh karena mengasihi lading pelayananNya, Tuhan memanggil dan menempatkan para pekerjaNya untuk mengelola ladang itu, agar memroduksikan hasil yang maksimal. Kasih Allah itu pun dinyatakan kepada orang yang dipanggilnya sebagai pekerja lading pelayanan. Hal ini bukan berarti Allah pilih kasih seorang pribadi, melainkan panggilanNya itu demi menyatakan kasih kepada umatNya. Para pekerja Tuhan (hamba Tuhan) yang dipanggil adalah dari kawanan umat Tuhan. Mereka dipanggil dan dikuduskan (disendirikan atau dipisahkan) oleh Tuhan bukannya untu kepentingan pribadi melainkan demi kepentingan umat yang dimana ia dipanggil. Pada hakikatnya panggilan Tuhan adalah hak mutlak dariNya. Menjadi pekerja di lading Tuhan (=gereja) subtansinya adalah pada Tuhan, dan tidak pada seorang pendeta terkenal dalam dunia ini. Bahkan pula bukan salah satu instansi gereja yang punya hak memanggil seseorang menjadik pekerja Tuhan. Alangkah mustahilnya kalau ada seorang manusia atau kelompok organisasi tertentu yang menganggap dirinya sebagai subjek panggilan Tuhan. Tuhan memanggil dan memegerjakan seseorang pada ladangNya, sedikit pun bukan hak manusia melainkan pada mutlakNya hak Tuhan. Lagi pula seorang yang dipanggil dan diutus oleh Tuhan itu bukan berdasarkan perbuatan etis dan moralnya, melainkan berdasarkan pada kasih karunia Allah sendiri (bnd. 1 Kor 1:9). Muncul pertanyaan: “Apa syarat-syarat panggilan Tuhan itu?” Pertanyaan seperti ini mungkin agak sulit dijawab, sebab sepertinya kita hendak menginterfensi hak kebebasan Allah. Yang jelasnya syarat-syarat pemilihan dan panggilan Allah itu tidak dapat disamakan dengan syarat-syarat pada suatu lembaga pemerintahan, adat dan masyarakat dalam dunia ini. Alkitab sungguh jelas bersaksi bahwa walaupun Allah mempunyai hak mutlak memanggil, tetapi Ia pun memberi kesempatan bagi orang yang dipanggil untuk menimbang dan memutuskan. Dalam hal ini Allah sangat menghargai harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan yang segambar denganNya (Imago Dei), dan sebagai patner dalam perwujudan kasih Allah. Contoh kongkrit dalam Alkitab misalnya Abraham, Musa juga Yeremia, yang dipanggil Allah namun mereka diberi kesempatan untuk menimbang panggilan itu, sebab merasa dirinya tidak mampu (bnd. Abraham, Kej 17:17-18; Musa, Kel 4:13; dan Yeremia, Yer 1:6). Tuhan tidak memerlakukan orang yang hendak dipanggilNya seperti “boneka atau robot”, yang hanya tinggal diatur, tetapi Ia memberikan kesempatan bagi orang itu untuk mengungkapkan isi hatinya (cob abaca keberatan-keberatan Musa, Kej 3:11; 13; 4:1-2a; 13). Hal yang mirip juga pada Yeremia yang mengeluarkan uneg-unegnya (Yer 20:7-8). Akan tetapi, ada pula panggilan yang tanpa ada komentar sedikitpun dari yang dipanggil langsung mengikuti panggilan itu (baca: Yesus memanggil para muridNya, Mat 4:19-20).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Write komentar