Persembahan yang benar menurut iman Kristen ~ Landasan firman Tuhan untuk tema persembahan yang benar menurut iman Kristen diambil dari Roma 12:1-2. Demikian firman Tuhan : “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Suatu hari seorang petani Kristen berkata kepada isterinya bahwa ia ingin memberikan suatu persembahan untuk pekerjaan Tuhan. Saat itu salah satu sapi betinanya sedang hamil dan beberapa hari lagi akan melahirkan. Karena itu ia berkata bahwa nanti ia akan mempersembahkan anak sapi itu kepada Tuhan. Beberapa hari pun berlalu dan tibalah waktu bagi induk sapi itu untuk melahirkan. Ternyata, induk sapi itu melahirkan dua ekor anak sapi. Petani itupun menjadi bingung. Dia mulai berpikir-pikir anak sapi yang manakah yang akan dipersembahkannya kepada Tuhan. Ketika isterinya menanyakan hal itu, ia pun menjawab: “Biarkanlah anak-anak sapi itu bertumbuh lebih besar terlebih dahulu. Setelah mereka cukup besar, barulah akan kuputuskan anak sapi mana yang akan kupersembahkan kepada Tuhan.” Seminggu kemudian daerah itu diserang wabah penyakit ternak. Salah satu dari kedua anak sapi milik petani Kristen itupun terjangkit penyakit tersebut dan tidak dapat diselamatkan alias mati. Ketika petani itu mendapati bahwa anak sapinya itu mati, ia segera keluar kandang dan lari menuju rumahnya serta berkata kepada isterinya: “Bu, aku baru saja dari kandang dan kudapati bahwa sapinya Tuhan mati.”
Isterinya pun keheranan dan bertanya: “Apa? Sapinya Tuhan? Bukankah engkau belum memutuskan sapi mana yang hendak kau persembahkan?” Petani itupun menjawab: “Ya, kemarin memang belum kuputuskan, tetapi tadi ketika aku berada di kandang telah kuputuskan bahwa yang mati itu adalah sapinya Tuhan.” Betapa seringnya kita berlaku seperti petani itu. Kita tidak mau memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Dalam konteks Perjanjian Baru, persembahan yang sejati adalah menyerahkan tubuh kita sebagai ibadah kepada Tuhan. Tubuh berbicara tentang keseluruhan aspek kehidupan manusia yang terdiri dari tiga unsur yaitu tubuh, jiwa dan roh. Kepada jemaat di Roma Rasul Paulus mengingatkan agar mereka mempersembahkan tubuh kepada Tuhan sebagai wujud respon atas kemurahan dan kasih karunia yang telah Tuhan anugerahkan. Roma pasal 1 – 11 berbicara tentang keseluruhan kasih karunia Tuhan, sementara mulai dari ayat 12 berbicara tentang wujud respon umat Tuhan terhadap kasih karunia yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia. Salah satu wujud respon kita sebagai orang yang telah diselamatkan adalah dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Namun persembahan yang dimaksud di sini bukanlah persembahan yang sembarangan. Rasul Paulus menguraikan bahwa ada tiga syarat yang harus dipenuhi umat Tuhan sehingga tubuh kita layak disebut sebagai persembahan yang benar, yang pertama persembahan itu harus hidup. Kedua, harus kudus. Ketiga, harus berkenan kepada Tuhan. 1. Persembahan yang Benar Adalah Persembahan yang Hidup Setelah manusia ditebus, maka manusia harus mematikan manusia lama, yaitu karakter, pemikiran dan sifat yang lama. Kematian manusia lama tersebut diprolamirkan melalui sakramen baptisan yang merupakan ikrar setiap orang percaya untuk meninggalkan dan mematikan manusia yang lama, lalu kembali menjadi manusia baru yang telah berubah dalam kehidupan yang baru melalui kelahiran kembali di dalam Yesus Kristus. Orang yang telah lahir baru mereka lah yang disebut sebagai persembahan yang hidup karena mereka telah dihidupkan kembali oleh Roh Allah. 2. Persembahan yang Benar Adalah Persembahan yang Kudus Setelah manusia lama dimatikan, maka manusia yang baru harus tetap mkenjaga kekudusan. Kata kekudusan dalam bahasa Yunani adalah hagios, kata ini sepadan dengan kata qados dalam bahasa Ibrani, yang artinya ‘dipisahkan’ atau ‘dikhususkan’. Maka orang yang telah lahir baru harus dipisahkan dari dunia, maksudnya bukan berarti tidak boleh hidup lagi di dunia, melainkan tidak boleh lagi bersikap seperti orang dunia. 3. Persembahan yang Benar adalah Persembahan yang Berkenan Dalam proses menjalani kehidupan sampai mati, maka manusia baru yang telah ditebus dan dikuduskan harus tetap menjaga agar kehidupannya tidak bercacat dan bercela sampai Tuhan Yesus datang. Disini diperlukan usaha manusia untuk tetap mempertahankam imannya di tengah-tengah ujian dan cobaan, sehingga sampai kepada satu titik di mana orang percaya layak dan berkenan disebut sebagai mempelai-mempelai Kristus yang kudus dan suci. Namun untuk mencapai hal tersebut tidaklah gampang, ayat ke-2 Rasul Paulus menyampaikan kepada jemaat di Roma supaya mereka tidak serupa dengan dunia dan berubah oleh pembaharuan akal budi. Berubah artinya tidak sama dengan keadaan yang semula. Jika manusia lama kita pemarah, setelah ditebus menjadi peramah, jika manusia lama kita pendendam, setelah menjadi manusia baru kita menjadi pemaaf, itu perubahan. Rasul Paulus menyampaikan lebih lanjut bahwa yang diubah adalah ‘akal budi’? Mengapa akal budi? karena akal budi adalah sentral atau pusat kehidupan manusia. Oleh sebaba itu Rasul Paulus mengingatkan jemaat yang ada di Kolose supaya memikirkan perkara-perkara yang di atas (perkara surgawi) – Kolose 3:2. Untuk menjadikan tubuh kita sebagai persembahan yang benar, ubahlah pemikiran kita, kalu selama ini kita hanya memikirkan hal-hal duniawi saja, maka mulai sekrang isi pemirian kita dengan hal-hal surgawi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Write komentar