Custom JavaScript Footer

Thursday, February 7, 2019

Benarkah Uang Itu Jahat Bagi Kita

Benarkah uang itu jahat bagi kita? ~ Dalam Alkitab, keberadaan uang juga dapat dipakai untuk dua kepentingan. Uang dapat dipakai untuk hal-hal baik, termasuk dalam mendukung pelayanan Yesus (Lukas 8 : 3). Sebaliknya, uang juga dapat menjadi sumber ketamakan dan menjerumuskan manusia dalam dosa seperti kisah Ananias dan Safira (Kis 5:1-11). Alkitab juga menekankan pada bahaya dan kelemahan yang sering menghinggapi manusia jika sudah berhubungan dengan uang. Dalam 1 Timotius 6:10, sikap cinta uang disebut sebagai akar segala kejahatan. Yesus sendiri berfirman bahwa uang adalah satu hal yang mudah membuat seseorang menjadi tidak setia ( Matius 6 : 24 ). Tiga esensi penting tentang uang. Uang adalah alat, bukan tujuan. Sebagai orang Kristen, tujuan kita adalah keselamatan (1 Petrus 1:9). Uang memiliki sifat fluktuatif. Menaruh pengharapan pada satu hal yang tidak pasti seperti uang adalah sia-sia, itu sebabnya taruhlah pengharapan kita hanya kepada Kristus, dan labuhkanlah pengharapan kita sampai ke belakang tabir, sampai mencapai sasaran akhir, itulah kesempurnaan.

Yang jahat bukanlah uangnya, tapi keinginan manusia akan uang. Memiliki uang adalah masalah pilihan, apakah kita mau menggunakannya untuk sesuatu yang berguna? Bukan hanya semata-mata untuk memuaskan keinginan mata dan hati kita? Pada dasarnya manusia itu tidak pernah merasa puas. Entah ia hidup dalam kemiskinan atau kelimpahan, yang jelas manusia tidak akan pernah merasa puas. Itu sebabnya Pengkhotbah 5:9 mencatat : “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya”. Sifat tidak pernah merasa puas inilah yang sering dimanfaatkan Iblis untuk membujuk manusia agar terus mengejar kekayaan, selalu bersungut-sungut dan tidak mau bersyukur. Namun, Alkitab menasehatkan agar kita mencukupkan diri dengan apa yang telah Tuhan berikan pada kita (Ibr 13:5). Jika saudara adalah seorang yang cukup diberkati Tuhan dalam kekayaan, perhatikan bagaimana saudara menggunakan kekayaan itu. Saat diperhadapkan dalam upaya mengelola kekayaan, ada begitu banyak pilihan yang terbentang di hadapan kita. Apakah kita akan mengembangkannya, menabung, membelanjakan, membagikan dsbnya. Dan ini dibutuhan prioritas! Apa yang menjadi prioritas kita ke sanalah uang itu akan digunakan. Sebagaimana yang tercatat dalam Lukas 12 : 34 “Karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Saudara, jika kita memperhatikan kehidupan tokoh-tokoh Alkitab yang dipercayai Tuhan untuk mengelola kekayaan dalam bentuk harta benda, maka kita akan dapat melihat bahwa kekayaan itu memiliki tujuan. Dan apakah kita juga bisa mengelola kekayaan kita secara bijak seperti Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Ayub, Salomo, Daud, Yusuf Arimatea, atau kita justru bersikap seperti Ahab, Nebukadnezar, Haman, dsbnya? Adalah keliru jika kita mengira bahwa kekayaan tidak perlu dikelola dan dikembangkan. Justru kekayaan harus dikelola dan diusahakan seperti Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk mengusahakan dan mengelola kekayaan alam yang Ia berikan kepada manusia (Kejadian 2:15; 3:23). Demikian pula, harta benda kita juga harus dipelihara dan dikelola untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan kehendaki supaya kita mengelola uang dengan benar. Hal pertama yang dengan tegas dikatakan adalah kita harus rajin dan bekerja keras untuk nafkah kita (2 Tesalonika 3:10). Bahkan Alkitab juga memberi contoh teladan dari semut (Amsal 6:6-11). Teladan dari semut berbicara mengenai kerajinan, kemandirian, dan juga kesiapan dalam hal perencanaan keuangan, termasuk di antaranya kebiasaan menabung (berbeda dengan menimbun). Alkitab memperingatkan kita tentang usaha manusia yang gemar menimbun harta bagi dirinya sendiri (Lukas 12:16-21). Perlu digarisbawahi di sini bahwa yang diperingatkan adalah motivasi dalam menyimpan harta itu, yaitu untuk memuaskan nafsu diri sendiri. Sebab harta memang dapat membuat manusia daging merasa nyaman dan aman, akibatnya keberadaan harta itu tak jarang membuat seseorang merasa tidak memerlukan apa-apa lagi, ia merasa tidak butuh orang lain bahkan Tuhanpun ia rasa tidak butuh lagi. Cara pengelolaan keuangan dalam Alkitab juga berbicara tentang tanggung jawab untuk mengembangkan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita (Matius 25:14-30). Tuhan ingin agar kita mengusahakan dan mengembangkan kekayaan yang telah Ia anugerahkan, namun jangan lupa juga bahwa Ia juga akan meminta laporan pertanggung jawaban kita pada saatnya nanti.

No comments:
Write komentar