Diproses untuk memberitakan kemasyuran Tuhan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema diproses untuk memberitakan kemasyuran Tuhan, diambil dari kitab Yesaya. Demikian firman Tuhan : “Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” – Yesaya 43:21. Tidak ada yang instan dalam Kerajaan Allah karena hanya umat yang diproses Tuhan, yang dibentuk Tuhan yang akan memberitakan kemasyhuran Tuhan. Kalau Anda mau dipakai Tuhan, Anda harus diproses. Segala sesuatu yang berharga, indah, dan mulia lahir dari sebuah proses. Tidak ada yang langsung, semua yang berharga, indah, dan mulia pada awalnya tidaklah demikian. Anda harus menapak tahap kehidupan Anda satu demi satu. Tidak ada yang instan. Semakin tinggi dan sulit prosesnya, semakin tinggi nilai dan kualitas barang tersebut. Sebuah berlian hanyalah sebuah arang yang dapat bertahan dalam tekanan dan panas yang luar biasa hebatnya. Berlian dan arang bahan dasarnya sama, yaitu karbon. Yang membedakan: prosesnya. Kalau ingin jadi berlian, harus diproses. Enak tidak diproses? Tidak. Sakit. Namun, percayalah, umat yang Kubentuk akan memberitakan kemasyhuran-Ku. Paulus mengatakan dalam Roma 8:18 Sebab, aku menganggap bahwa penderitaan-penderitaan yang kita alami sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Memahami Makna Akronim P.R.O.S.E.S. P: PEREMUKAN Tahap pertama dalam PROSES adalah PEREMUKAN. Ulangan 8:2: Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu. Berapa tahun waktu yang Tuhan perlukan untuk membuat umat-Nya merendahkan hati? Dan di mana? Mana yang lebih mudah bagi Tuhan: membuat mukjizat atau merendahkan hati kita? Bagi Tuhan lebih mudah untuk membuat mukjizat, tetapi butuh 40 tahun bagi Tuhan untuk memproses haati umat Israel. Mana lebih mudah bagi manusia: membuat mukjizat atau merendahkan hati kita? Kita tidak bisa membuat mukjizat, tetapi kita bisa merendahkan hati kita.
Mana yang lebih penting bagi Tuhan: membuat mukjizat atau merendahkan hati kita? Mengapa Tuhan tidak membuat mukjizat saja untuk membuat umat Israel masuk ke tanah Kanaan? Apakah Tuhan tidak sanggup membawa umat Israel masuk tanah Kanaan melalui mukjizat? Tentu Tuhan sanggup melakukan mukjizat untuk membawa umat Israel memasuki tanah Kanaan tetapi Tuhan tidak melakukan itu dan memilih memroses umat-Nya selama 40 tahun di padang gurun karena bagi Tuhan lebih penting hati umat-Nya daripada mukjizat. Tidak ada yang lebih penting bagi Tuhan selain hati kita. Tuhan tidak punya masalah dengan masalah kita tetapi dengan hati kita. Apa pun masalah kita, sebesar apa pun itu, Tuhan tidak punya masalah dengan masalah kita. Namun, Tuhan punya masalah dengan hati kita. Tuhan ingin berurusan dengan hati kita lebih daripada dengan masalah kita. Masalahnya, kita lebih ingin Tuhan berurusan dengan masalah kita lebih daripada dengan hati kita. Banyak orang datang kepada Tuhan dalam doa dan ibadah, yang dibawa apa? Masalah. Kenapa hati kita? Sombong, congkak, angkuh. Kalau orang ditanya: "Punya masalah apa, Bu?" Jawabannya: "Suami saya, Pak." "Anak saya, Pak." "Keuangan saya, Pak." Tidak pernah ada yang mengatakan, "Masalahnya saya, Pak." Pada dasarnya manusia itu sombong. Kalau Anda ingin dipakai Tuhan, diangkat Tuhan, Anda harus merendahkan hati terlebih dahulu agar diangkat Tuhan. Yesaya 57:15 "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. Tuhan ingin meremukkan hati kita terlebih dahulu karena Tuhan ingin bertakhta di hati kita. Kerajaan Tuhan tidak bisa datang dalam hidup kita kalau kita masih sombong. Tuhan bisa meremukkan diri kita tetapi hanya diri kita yang bisa merendahkan hati kita. Banyak orang sudah direndahkan orang tidak segera merendahkan hati, tetapi malah mengeraskan hati. Oleh sebab itu, rendahkanlah hatimu. R: RESPONS Amsal 29: 1 Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi. Ketika ada masalah, ketika kita sedang diremukkan, apa respons kita? Kebanyakan kita meresponsnya dengan: lari dari masalah, menyalahkan, dan kecewa. Menyalahkan, misalnya, “Saya hancur begini karena Papa meninggalkan keluarga”. Ketika kita menyalahkan, semakin hancur hidup kita. Begitu kita percaya sebagai korban, habis hidup kita. (Bagi orang percaya, tidak ada satu pun yang menjadi korban. Korban kita hanya satu, yakni Tuhan Yesus Kristus yang telah mati bagi kita.) Kebanyakan kalau kita sedang diremukkan, kita ingin cepat-cepat melewatinya. Kita ingin cepat melihat hasilnya. Kita tidak sabar dalam peremukan Tuhan. Kita tidak tunduk dalam kepemimpinan Tuhan, malahan kita ingin mengatur Tuhan. Kadang tanda sadar kita merasa lebih tahu dari Tuhan, merasa paling tahu akan hidup kita. Kita harus memiliki respons yang tepat saat diremukkan oleh Tuhan. Mazmur 119:71 Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. O: OMONGAN Kita tahus jamu, jaga mulut. Ini penting. Amsal 18:21 Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. 1 Petrus 3:10 Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Semua orang punya masalah, Orang kaya punya masalah, tidak kaya-kaya juga masalah. Yang penting bukan masalahnya tetapi apa yang kita katakan dalam hati dan pikiran kita mengenai masalah itu. Masalah saya yang sesungguhnya bukan masalahnya melainkan apa yang saya katakan tentang masalah itu. Itu yang menentukan hidup saya. Saya tidak bisa mengubah keadaan, saya tidak bisa mengubah istri saya, tetapi saya bisa mengubah apa yang saya katakan tentang keadaan saya, tentang istri saya. Setiap kata yang kita ucapkan dan pikirkan adalah kendaraan pribadi kita yang akan membawa kita tiba pada suatu tempat dalam hidup ini. Kalau terhadap masalah, kita katakan, "Mati kita. Habis kita." Perkataan ini akan membawa kita ke mana? Namun, arah mana yang akan kita tuju ketika terhadap masalah yang sama kita katakan, “Masih ada Tuhan yang sanggup menolong kita. Tuhan pasti buka jalan. Ini baik buat saya”. Kita harus belajar berkata-kata kepada masalah. Kalau tidak, masalah kita yang akan berkata-kata kepada kita (membuat kita frustrasi, membuat kita stres). Tuhan dan Firman-Nya itu satu. Ketika Anda berkata-kata tentang masalah Anda menggunakan Firman Tuhan, Anda sedang bersama-sama dengan Tuhan, Anda sedang berjalan bersama Tuhan. Dan kalau Anda bersama Tuhan, siapa yang dapat melawan? Kadang tidak sinkron antara kondisi, perkataan mulut kita, dan hati kita. Kita melihat keadaan yang istri kita kacau, mulut kita mengatakan "Istri yang cakap, siapa yang mendapatkannya", sementara hati kita mengatakan "cakap apanya?" Tetapi tetap kita harus belajar mengatakan Firman Tuhan terhadap masalah kita karena perkataan itu punya kuasa untuk mengubah dan menciptakan. Kita harus belajar memperkatakan FIRMAN kepada masalah kita. Ketika menghadapi situasi kekurangan, katakan, "Tuhan adalah gembalaku takkan kekurangan aku." Kata Jehovah Jireh muncul ketika Abraham ditanya Ishak saat ia akan dikorbankan. Abraham mengajari kita bagaimana memperkatakan Firman Tuhan ketika menghadapi masalah. Kejadian 22:8 Sahut Abraham: “Tuhan yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku”. Kita harus sadar di mana penyediaan Tuhan bagi kita: di mulut kita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Write komentar