Custom JavaScript Footer

Friday, February 8, 2019

Makna Kemerdekaan Yang Sejati Dalam Kristus Part 1

Makna kemerdekaan yang sejati dalam Kristus ~ Setiap tahun di bulan Agustus, Indonesia memperingati dan merayakan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Kita bahagia, bangga dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong bangsa kita melepaskan diri dari penjajah melalui pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Selain sebagai warga negara Indonesia, kita juga adalah warga Kerajaan Sorga. Masing-masing status ini diperoleh sebagai hasil dari yang disebut sebagai “pembebasan” yang membuahkan kemerdekaan. Kemerdekaan Negara Indonesia dan kemerdekaan seorang Kristen yang sejati diperoleh melalui pengorbanan dan curahan darah. Kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan para pendahulu-pendahulu kita yang rela mati demi terbebasnya bangsa Indonesia dari kolonialisme. Sama dengan itu, kita juga dibebaskan dari belenggu dosa karena Kristus rela menderita bahkan mati. Film “Passion of Christ” memberi kita gambaran tentang betapa menderitanya Kristus di hari penyaliban-Nya. Namun, dari kesamaan tersebut, terdapat perbedaan yang substansial antara kedua kemerdekaan dimaksud, yakni bahwa (a) kemerdekaan Negara Indonesia diraih (achieved) sebagai hasil perjuangan rakyat Indonesia sendiri, bukan diberikan oleh bekas penjajah, dan sebaliknya, (b) kemerdekaan kita dari belenggu dosa, semata-mata adalah hasil anugerah Tuhan bagi kita yang kita terima (received) secara cuma-cuma.

Kemerdekaan Semu Hidup di alam kemerdekaan sekarang ini memang memberi banyak kenyamanan. Apalagi di dalam dunia globalisasi saat ini. Globalisasi dan teknologi telah memberi manusia modern akses ke suatu produk yang disebut “kebebasan” yang lebih besar untuk memilih. Setiap orang pasti mendambakan kebebasan (dalam batas tertentu secara subjektif). Kebebasan memberi wadah dan kepuasan bagi manusia untuk menyalurkan daya cipta, rasa dan karsanya. Kebebasan memang menjadi hak asasi manusia. Tetapi, “kebebasan” dapat berubah menjadi “kebablasan” apabila, dalam hubungan sosial, kebebasan yang ada tidak menghormati kebebasan orang lain. Kebebasan manusia yang merupakan suatu potensi, justru akan menjadi “krisis” apabila tidak dibatasi. Oleh karenanya, kebebasan saya harus dibatasi oleh kebebasan Anda, dan sebaliknya. Apabila tidak, manusia akan menjadi “serigala” bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Kebebasan akan mencapai tahap paling tragis dan ironis apabila kebebasan justru menciptakan “penjara” bagi yang bersangkutan. Tanpa kita sadari, kita pernah atau mungkin kerap terperangkap dan terbelenggu dengan “kebebasan” kita, apabila kita sudah tidak dapat berkata “tidak” untuk suatu pilihan dalam kebebasan dimaksud. Berapa banyak manusia yang sangat menikmati “kebebasan” yang melekat padanya sehingga ia sudah begitu tergantung pada “kebebasan” itu sendiri. Mereka yang katanya hidup “merdeka” sehingga memilih menjalani suatu kebiasaan buruk tanpa ada yang menghalangi atau membatasi, hanya justru akan menjadi narapidana dari penjara “kebebasan”nya sendiri apabila ia tidak dapat lagi menolak melakukan hal yang sama. Dalam hal demikian, it’s not about freedom—it’s about addiction. Dosa memang manis. Tetapi “ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12; 16:25). Dunia tanpa Kristus ibarat sementara berbaris pada rute sedemikian. Kemerdekaan oleh dan dari Kristus Maut: musuh terbesar manusia Adakah ketakutan manusia yang lebih besar dari ketakutan menghadapi maut? Semua orang pasti punya rasa takut karena rasa takut memang manusiawi. Yang beda hanyalah tingkat dan jenis rasa takut. Ada ketakutan yang rasional, ada pula yang sudah tidak rasional. Rasa takut membantu manusia untuk terhindar dari bahaya yang lebih besar. Takut kena api mencegah orang untuk tidak merasakan sakit bila terbakar. Ada yang takut untuk hal-hal yang baru sehingga orang tersebut tidak berani mengambil keputusan tegas melakukan perubahan. Tetapi, seberani-beraninya seseorang, orang tersebut, sepanjang dia belum mengenal dan menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya, pasti akan mengalami ketakutan saat ajal menjemput dia. Bahkan, kata orang, ada orang yang masih dalam proses kematiannya sudah mengalami penderitaan secara spriritual, umpama, karena ketika hidup ia akrab dengan okultisme (ilmu hitam). Pada umumnya orang takut mati, antara lain mungkin karena, dia terlalu mengasihi dunia ini, atau dia tidak mengetahui ada apa di balik kematian, atau bahkan dia sadar bahwa dia pantas mengalami penghukuman yang menanti dia setelah kematiannya dan dia tidak menemukan atau tidak mau menerima jalan keselamatan kekal melalui Kristus hingga kematiannya.

No comments:
Write komentar