Custom JavaScript Footer

Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Tuesday, May 10, 2022

4 Rahasia Untuk Bisa Melewati Badai Kehidupan

4 rahasia untuk bisa melewati badai kehidupan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema 4 rahasia untuk bisa melewati badai kehidupan, diambil dari kitab Keluaran. Demikianlah firman Tuhan: “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu” – Keluaran 14:13a. Tuhan memili dan menetapkan Musa sebagai pemimpin Israel untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan membawa mereka menuju ke tanah terjanji. 400 tahun bangsa Israel diperbudak oleh bangsa Mesir. Untuk keluar dari Mesir bukanlah perkara mudah bagi mereka. Raja Firaun sebagai penguasa tertinggi di Mesir tidak sudi membiarkan Israel merdeka. Allah Abraham, Ishak dan Yakub harus turun tangan untuk memaksi raja Firaun membiarkan bangsa Israel bebas dari perbudakan. Ada 10 tulah dipakai Allah Israel untuk memaksa raja Firaun membebaskan bangsa Israel. Kendati demikian, raja Firaun tidak menyerah. Mereka dikejar oleh pasukan Firaun hingga mereka tiba di tepi Laut Teberau. Bagi bangsa Israel, sudah tidak ada jalan keluar lagi dari masalah yang ada pada saat itu. Di belakang mereka ada pasukan Firaun yang mengejar, sedangkan di depan mereka terbentang lautan yang luas dan dalam. Tidak ada jalan lagi bagi bangsa Israel pada saat itu, mereka benar-benar dalam keadaan yang terjepit. Kisah ini menggambarkan badai kehidupan yang sering dialami dalam kehidupan kekristenan kita. Begitu besar dan begitu banyak masalah yang menghimpit kehidupan kita, sehingga kita merasa tidak ada lagi jalan keluar. Segala cara sudah ditempuh, namun tidak membuahkan hasil. Mari kita belajar dari kisah Musa dan bangsa Israel, bagaimana cara mereka melalui masalah yang seperti itu. Ada beberapa rahasia yang bisa kita temukan dalam sejarah bangsa Israel bebas dari Mesir dan bagaimana mereka bisa melewati badai kehidupan. Rahasia dimaksud, yaitu:
Satu, miliki keberanian dan bebaskan diri dari rasa takut. Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut…“ Keluaran 14.13a Kita tidak boleh takut terhadap masalah sebesar apapun yang menghimpit hidup kita. Kita harus katakan kepada diri kita sendiri untuk tidak takut terhadap masalah tersebut. Bebaskan diri kita dari ketakutan, karena di dalam ketakutan tidak akan ada damai sejahtera. “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Fil 4.7 Mintalah damai sejahtera dari Allah Bapa untuk memelihara hati dan pikiran kita dari ketakutan. Ketika damai sejahtera-Nya melingkupi hati kita, kita tidak akan pernah merasa takut lagi. Dua, jangan lemah namun tetap kuat. Masalah demi masalah mungkin akan membuat kita lelah atau bahkan terjatuh. Satu hal yang membuat kita dapat meraih keberhasilan adalah ketika kita bangkit dari kejatuhan dan berdiri kembali. Bukan seberapa dalam kita terjatuh, tetapi seberapa kuat kita mau berdiri kembali ketika kita terjatuh. “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu” Ef 6.13. Gunakan seluruh perlengkapan rohani yang sudah Tuhan sediakan bagi kita: Firman Tuhan, kebenaran, keadilan , doa, damai sejahtera, iman dan keselamatan (Ef 6.14-18). Dengan bangkit kembali dan tetap berdiri dalam kebenaran Tuhan, maka kita akan meraih keberhasilan dan kesuksesan di tengah-tengah masalah. Tiga, andalkan Tuhan dan kuasa-Nya serta pakailah potensi kita. Tongkat berbicara mengenai kuasa Tuhan. Dengan tongkat ini maka Musa dapat membelah laut. Pada kisah sebelumnya tulah-tulah terjadi melalui tongkat yang digunakan oleh Musa. Di kisah berikutnya-pun Musa juga menggunakan tongkat ini mengeluarkan air yang dapat diminum oleh bangsa Israel. Dan banyak mujizat lainnya yang terjadi untuk membuktikan kuasa Allah bagi bangsa Israel. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kis 1.8 Kuasa Tuhan telah dicurahkan melalui Roh-Nya yang telah turun dan tinggal di dalam hidup kita. Ketahuilah hal ini dan yakinlah bahwa Kuasa Tuhan ada di dalam kita. Kuasa ini adalah kuasa yang sama dengan kuasa yang digunakan Musa melalui tongkatnya. Gunakan otoritas yang telah Dia berikan bagi hidup kita untuk membelah laut di hadapan kita. Yakinilah bahwa kuasa Tuhan dapat digunakan untuk membuka jalan di tengah masalah-masalah yang kita hadapi. Perkatakan Firman Tuhan, perkatakan hal-hal positif dan perkatakan hal yang membangun. Empat, taati perintah Tuhan yang kita dengar. “Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering” Keluaran 14:16. Perintah untuk mengulurkan tangan adalah perintah agar Musa memiliki iman dan memberanikan diri untuk bertindak. Hasil dari tindakan iman inilah yang membuat Laut Teberau terbelah. “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” – Yakobus 2:26. Laut Teberau tidak akan terbelah, jika Musa tidak mengulurkan tangannya ke atas laut. Otoritas yang sudah Tuhan berikan ke dalam hidup kita tidak akan ada artinya jika kita tidak bertindak atau melangkah dengan iman. Masalah yang ada harus kita hadapi dengan penuh iman dan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan membuka jalan bagi kita. Dia akan memberikan kemampuan ilahi yang tidak dapat kita lihat dengan mata fisik, untuk menyelesaikan masalah yang ada. Bertindaklah dan melangkahlah dengan iman, maka kita akan melihat Tuhan membuka jalan bagi kita di saat tiada jalan. Jangan takut dan tetap berdiri bersama dengan Tuhan, maka kita akan melihat keselamatan demi keselamatan, dan mujizat demi mujizat terjadi dalam langkah hidup kita (Keluaran 14:13). Tuhan yang telah berfirman tidak akan meninggalkan kita begitu saja. Dia akan memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk dapat berdiri tegak dan berjalan terus di tengah-tengah kesulitan yang ada. Yakinlah akan otoritas yang telah Tuhan berikan bagi hidup kita. Gunakan otoritas tersebut sebagai orang beriman untuk melangkah dengan berani di tengah-tengah badai yang menerpa. Tidak ada kuasa di dunia ini yang dapat mengalahkan kuasa Tuhan yang telah diberikan bagi hidup kita. Bersama Yesus kita akan lakukan perkara-perkara besar. Haleluya!

Saturday, April 30, 2022

Akibat Buruk Dari Sikap Suka Menunda

Akibat buruk dari sikap suka menunda ~ Landasan firman Tuhan untuk tema akibat buruk dari sikap suka menunda diambil dari kitab 2 Samuel 20:1-5. Secara lengkap firman Tuhan tersebut saya lampirkan di bawah ini. 20:1 Kebetulan ada di sana seorang dursila, bernama Seba bin Bikri, orang Benyamin. Ia meniup sangkakala serta berkata: "Kita tidak memperoleh bagian dari pada Daud. Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu. Masing-masing ke kemahnya, hai orang Israel!" 20:2 Lalu semua orang Israel itu meninggalkan Daud dan mengikuti Seba bin Bikri, sedangkan orang-orang Yehuda tetap berpaut kepada raja mereka, mengikutinya dari sungai Yordan sampai Yerusalem. 20:3 Sampailah Daud ke istananya di Yerusalem, lalu raja mengambil kesepuluh gundik yang ditinggalkannya untuk menunggui istana, kemudian dimasukkannya mereka dalam sebuah rumah di bawah penjagaan. Ia memelihara mereka, tetapi tidak dihampirinya. Mereka tetap terasing seperti janda sampai hari mati mereka. 20:4 Berkatalah raja kepada Amasa: "Kerahkanlah bagiku orang-orang Yehuda dalam tiga hari, kemudian menghadaplah lagi ke mari!" 20:5 Lalu pergilah Amasa mengerahkan orang Yehuda, tetapi ia menunda-nunda tugas itu sampai melewati waktu yang ditetapkan raja baginya.
Banyak alasan mengapa seseorang menunda-nunda sebuah tugas atau pekerjaan. Ia merasa tidak tahu atau tidak mampu memgerjakannya. Ia harus mengerjakan berbagai hal lain, sehingga tidak fokus. Bisa juga ia merasa hal itu kurang penting, sehingga tidak memprioritaskannya. Beberapa pekerjaan yang ditunda-tunda mungkin tidak berdampak apa-apa bagi kita. Namun ada juga yang berakibat buruk, yang bahkan dapat membuat kita kehilangan berbagai hal berharga dalam hidup. Amasa adalah keponakan sekaligus panglima tentara Daud. Ketika Absalom kudeta takta ayahnya, Daud, ia pun mengangkat Amasa jadi pemimpin tentarnya (2Sam.17:25). Namun ketika Absalom tewas dan Daud kembali menjadi raja Israel, Amasa kembali diangkat sebagai panglima (2Sam.19:23). Namun tak lama kemudian, Seba, seorang Benyamin, memimpin pemberontakan terhadap Daud. Lalu Daud memerintahkan agar Amasa memimpin orang-orang Yehuda untuk menangkap Seba, dalam waktu tiga hari, lalu menghadap raja. Amasa pergi, namun ia menunda-nunda tugas itu hingga lewat tenggat waktunya. Sang raja pun mengalihkan tugas itu kepada orang lain. Salah satu pemimpin Daud, Yoab, menganggap penundaan Amasa itu sebagai perilaku tidak menghormati raja, lalu ia membunuhnya serta membereskan masalah Seba. Kisah Amasa ini mengingatkan kita untuk tidak menunda-nunda mengerjakan sesuatu yang penting. Terus belajar menetapkan prioritas. Agar kita tidak mengalami berbagai akibat buruk yang dapat menimpa. Jika kita menilai sesuatu itu penting, jangan menunda mengerjakannya hingga situasi menjadi genting. Tuhan Yesus memberkati!

Wednesday, December 15, 2021

Sekalipun Tidak Ada Alasan Untuk Berharap, Tetaplah Berharap

Sekalipun tidak ada alasan untuk berharap, tetaplah berharap ~ Landasan firman Tuhan untuk tema sekalipun tidak ada alasan untuk berharap, tetaplah berharap, diambil dari surat rasul Paulus kepada orang-orang kudus, orang-orang percaya yang ada di kota Roma. Rasul Paulus menulis dalam pimpinan, tuntunan, arahan dan bimbingan Roh Kudus, menulis demikian : “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” – Roma 4:18. Dalam menjalani hidup sampai dengan saat ini, tentunya ada banyak peristiwa atau kejadian yang menguras pikiran, perasaan, kehendak dan juga biaya/ dana. Terkadang peristiwa-peristiwa hidup sering membuat kita kewalahan, susah dan kondisi terpuruk. Semua itu tidak bisa kita hindari atau elakan dari hidup ini. Bahkan acap kali kita menemukan diri dalam keadaan kehilangan harapan. Waktu adalah milik manusia yang paling berharga. Anda dapat menghasilkan lebih banyak uang tetapi Anda tidak dapat menciptakan lebih banyak waktu. Bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda adalah bukti di mana harapan Anda berada. Jika harapan Anda ada pada Tuhan dan firman-Nya, maka Anda akan menginvestasikan waktu di dalamnya.
Ayat bacaan hari ini menggambarkan bagaimana Abraham tidak ada dasar untuk berharap, tetapi Ia tetap meluangkan waktu untuk berharap. Kalimat "tidak ada dasar untuk berharap" adalah sebuah fakta yang sangat menakutkan pastinya bagi banyak orang. Semua pengharapan yang kita miliki, pastinya kita inginkan harus ada sebuah dasar atau fakta yang mendukung bahwa harapan itu bisa terjadi atau tercapai. Tidak selalu seperti itu. Walaupun kelihatannya tidak mungkin terjadi, selama kita memiliki janji Tuhan yang sudah tertulis di Alkitab, kita bisa berharap. Abraham menerima janji dari Tuhan bahwa keturunannya akan sebanyak bintang-bintang di langit. Bagi Abraham dan Sarah janji itu tampaknya sama sekali tidak mungkin, tubuh Abraham sudah sangat lemah dan rahim Sara sudah mati. Inilah arti sebuah pengharapan yang seolah-olah tidak ada dasarnya. Justru karena seolah-olah tampaknya tidak ada dasarnya, atau kelihatan mustahil, itu menjadi sebuah pengharapan. Jika tampaknya mungkin, bukan merupakan pengharapan lagi. Itu sebabnya, Tuhan suka ketika kita ada di posisi yang sulit, terpojok, tidak ada jalan keluar atau tidak ada dasar atau alasan untuk berharap. Itu adalah saat dimana Tuhan mau kita berharap kepada Dia. Ketika nanti Tuhan menjawab, maka kesaksian kita akan dipenuhi dengan kemuliaan bagi Tuhan bukan kehebatan diri kita. Ketika Anda sedang mengalami masa-masa sulit, teruslah percaya pada firman Tuhan, luangkan waktu untuk memahami, merenungkan, menyukai dan mempelajarinya dengan hati. Meluangkan waktu bersama Tuhan adalah cara Tuhan menghembuskan hikmat-Nya ke dalam diri Anda. Jangan tergoda untuk berpikir bahwa Anda akan lebih puas jika Anda menerima jawaban doa Anda. Minta kepada Tuhan untuk merasa kepuasan sekarang, justru sebelum menerima jawaban doa. Puas, karena pengharapan di dalam Tuhan tidak akan pernah mengecewakan (baca ROMA 5:1-5). Pengharapan dan kepuasan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Orang dunia akan merasa puas setelah mendapatkan apa yang ia harapkan. Anak Tuhan akan merasa puas justru sebelum melihat harapannya menjadi kenyataan. Itu semua terjadi karena ia tahu bahwa dirinya tidak pernah akan kecewa, karena hal baik akan terjadi bagi semua orang percaya. AMIN ! Kasih karunia Tuhan cukup bagimu.

Tuesday, December 14, 2021

Hari Tuhan Sudah Dekat, Berjaga-jagalah

Hari Tuhan sudah dekat, berjaga-jagalah ~ Landasan firman Tuhan untuk tema hari Tuhan sudah dekat, berjaga-jagalah, diambil dari kitab Zefanya 1:1-18. Minggu ini kita memasuki Minggu Adven ketiga, yakni Joy. Dan kita akan membahasnya dari kitab nabi Zefanya. Nabi Zefanya hidup pada akhir pemerintahan Kerajaan Yehuda Selatan, sebelum benar benar di hancurkan oleh Babel semuanya. Nampaknya ada pengharapan yang muncul, saat raja Yosia bin Amon memerintah. Yosia hidup benar dihadapan Allah dan mengadakan reformasi besar besaran untuk mengembalikan umat Yehuda pada TUHAN Allah mereka. Yosia mencoba memulihkan Bait Suci dan menjauhi berhala berhala serta mengajak rakyat hanya menyembah kepada TUHAN, Allah Israel saja. Namun ini tentulah tidak mudah, sebab puluhan bahkan ratusan tahun mereka sudah terbiasa menyembah kepada ilah ilah lain dan mencampur-sandingkan dengan TUHAN, Allah Israel. Sinkritis itulah kira kira bahasa yang bisa kita kenakan kepada umat yang mencoba menggabungkan semua ilah dengan TUHAN dan mengijinkan untuk disembah semuanya. Ini tentu bukanlah sikap yang toleran dan atau inklusif (terbuka), tetapi sudah tergolong pencampuran semua keyakinan dan penyembahan. Siapa Allah tidak lagi utama, tetapi perayaan perayaan keagamaanlah yang lebih utama. Keyakinan iman sudah berubah menjadi keselarasan budaya. Itulah sebabnya saat raja Yosia hendak mengembalikan umat Allah hanya kepada TUHAN saja sebagai Allah mereka, tentulah tidak segampang membalikkan tangan. Karena kebiasaan sinkretis sudah mengakar kuat dalam tradisi dan ritual ritual agama, bahkan sudah membudaya.
Jika raja Yosia bisa melalukannya, itu tentu atas pertolongan Allah. Mengapa? Ya karena raja Yosia itu masih tergolong sangat muda (ia menjadi raja pada umur 8 th). Atas pertolongan Allah raja Yosia berani melakukan perubahan yang sangat drastis. Raja Yosia tidak hanya memusnahkan bukit-bukit pengorbanan bamot di wilayah Yehuda dan Benyamin tetapi ia juga menjangkau wilayah Efraim dan Naftali di Galilea. Ia menghancurkan semua peranti dan sarana ibadah penyembahan berhala. Raja Yosia juga memerintahkan agar umat kembali merayakan Paskah (2 Raja Raja 35:18). Sebuah keputusan besar, yang mengingatkan kembali siapa sebenarnya umat Allah dan siapa Allah mereka. Paskah adalah satu tanda pengingat yang tidak boleh diabaikan. Karena itu reformasi Yosia adalah titik balik perubahan yang membawa pada pengharapan akan pemulihan Israel dan Yehuda. Tidak mengherankan jika nabi Zefana menubuatkan bahwa sesuatu yang baik bakal terjadi buat Yehuda. Bangsa Yehuda akan diselamatkan dan para penyembah berhala bakal dihukum habis oleh TUHAN, Allah Israel. Demikian sabda TUHAN : “Aku akan mengacungkan tangan-Ku terhadap Yehuda dan terhadap segenap penduduk Yerusalem. Aku akan melenyapkan dari tempat ini sisa-sisa Baal dan nama para imam berhala, juga mereka yang sujud menyembah di atas sotoh kepada tentara langit dan mereka yang menyembah dengan bersumpah setia kepada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom, serta mereka yang berbalik dari pada TUHAN, yang tidak mencari TUHAN dan tidak menanyakan petunjuk-Nya”. Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat. Sungguh TUHAN telah menyediakan perjamuan korban dan telah menguduskan para undangan-Nya. (Zefanya 1:4-7) Jadi Zefana diminta untuk menyatakan bahwa TUHAN akan menyelamatkan sisa sisa Yehuda (yang telah bertobat dan kembali hanya menyembah kepada Allah) dibawah kepemipinan Yosia; dan akan menghukum bangsa bangsa dan umat penyembah berhala. Hari itu akan tiba. Dan hari itu disebut hari TUHAN, hari penghakiman. TUHAN juga akan menggeledah setiap rumah di Yerusalem dengan memakai obor (artinya tidak ada yang bisa bersembunyi), dimana orang yang mendua hati juga akan dihukumnya (Zef 1:12). Hari TUHAN sudah dekat dan akan datang dengan sangat cepat. Ia akan menyapu bersih semua manusia bahkan hewan yang telah mengkhianati perjanjian kasih setia dengan TUHAN. Karena itu senyampang masih ada waktu... bertobatlah! Emas dan perak (kekayaan dan kekuasaan) tidak akan bisa menyelamatkanmu. TUHAN bukanlah Allah sogokan, yang bisa dibelokkan oleh korban bakaran dan korban sajian. Sebab yang IA inginkan adalah kemurnian hati dan pertobatan yang sejati. Kembalilah kepada TUHAN yang adalah Allahmu. Jangan lagi mendua hati! Itu pesan pembuka kitab nabi Zefanya.

Friday, November 12, 2021

Tuhan Mengasihi Kita Lebih Dari Kasih Seorang Ibu

Tuhan mengasihi kita lebih dari kasih seorang ibu ~ Landasan firman Tuhan tema Tuhan mengasihi kita lebih dari kasih seorang ibu, diambil dari kitab Yesaya. Demikianlah firman Tuhan : “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” – Yesaya 49:15. Di dalam YESAYA 49, Tuhan menjelaskan siapa Dia kepada umat-Nya. Ini harus menjadi pegangan kita selama kita hidup, untuk selalu mengerti betapa besar kasih-Nya kepada anak-anak-Nya. Nabi Yesaya menerima suara Tuhan sebagai sebuah pewahyuan yang sangat berharga untuk umat Israel saat itu, dan juga kita orang percaya. Dalam perikop ini, Tuhan memberitahu kita bahwa Dia adalah Tuhan yang penuh kasih kepada anak-anak-Nya. Kasih itu ditunjukkan-Nya lewat sosok Gembala Agung, Ibu, Pelukis dan Penakluk. Hari ini kita akan membahas kasih Tuhan yang melebihi sosok seorang ibu. Meskipun sangat jarang bagi seorang ibu meninggalkan bayinya yang baru lahir, namun itu terjadi di dunia yang kita hidupi ini. Bapa Surgawi kita tidak mungkin lupa atau gagal untuk mengasihi anak-anak-Nya. Hampir setiap orang pernah mengalami kesendirian atau penolakan karena ditinggalkan oleh orang yang dikasihi. Ayat bacaan hari ini meneguhkan janji Tuhan yang sangat istimewa. Kasih-Nya melebihi kasih seorang ibu.
Ada sebuah hubungan yang sangat dalam antara ibu dan anak. Anak berasal dari benih ayah, tetapi anak adalah bagian dari ibunya. Mereka menjadi satu, saat bayi terbentuk di dalam rahim sang ibu. Segala sesuatu yang dilakukan seorang ibu hamil mempengaruhi dua orang, dirinya sendiri dan anak yang dikandungnya. Ketika anak itu lahir, ia kembali ke ibunya untuk menyusu. Garis keturunan anak memang melalui ayahnya, tetapi garis kehidupan seorang anak melalui ibunya. Anda mungkin pernah merasa dilupakan oleh seseorang dalam hidup Anda, tetapi Tuhan tidak akan melupakan Anda, MAZMUR 27:10 mengatakan: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku”. Ini gambaran yang Tuhan mau kita mengerti. Sama dengan seorang anak yang lahir dari ibunya dan selalu menjadi satu bagian dari ibunya yang tak terpisahkan, demikian pula kasih Tuhan kepada kita, bahkan melebihi koneksi dan kasih ibu kepada kita. Itu sebabnya Alkitab terus mengatakan bahwa kita ada di dalam Dia, menjadi satu dengan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (baca KEJADIAN 1:26-27). Karena Tuhan menciptakan kita laki-laki dan perempuan, kita tahu ada aspek maskulin dan feminin dari karakter Tuhan. Kasih seorang ibu dianggap yang terkuat dan terbaik yang pernah ada. Kasih Tuhan melampaui bahkan yang terbaik yang dapat ditawarkan dunia ini. Nabi Yesaya menggambarkan Israel sebagai anak yang menyusu dalam pelukan ibunya. Anak itu sepenuhnya bergantung pada ibunya dan percaya bahwa dia tidak akan pernah ditinggalkan olehnya. Betul, sebuah tangisan anak adalah indikasi ia membutuhkan sesuatu dan sang ibu akan bertindak, tetapi tanpa tangisan-pun, insting keibuannya akan terus memberitahunya kapan waktunya anak itu perlu makan, mandi atau diganti bajunya. Kebutuhan anak itu terjamin dan terurus dengan sangat baik karena ada kasih seorang ibu. Itu sebabnya mengapa Maria ibu Yesus berdiri di depan kayu salib ketika Yesus tergantung mengorbankan hidup-Nya untuk kita. Ketika para murid lari meninggalkan Yesus, ada yang menjual dan menyangkal Dia, Maria dengan kasih seorang ibu mendampingi Yesus. Ketika kita mengerti betapa dahsyat dan hebatnya kasih seorang ibu, maka hari ini kita disadarkan akan kasih Tuhan yang jauh melebihi kasih ibu di dunia ini. Makin kita menyadari kasih Tuhan atas hidup ini, kita akan makin kuat menghadapi semua pergumulan hidup. Karena kasih-Nya, semua kebutuhan kita ditanggung penuh oleh-Nya dan sebelum kita menangis dan menjerit minta pertolongan, Dia sudah menyiapkan yang terbaik bagi kita. AMIN ! Kasih karunia Tuhan cukup bagimu

Sunday, November 7, 2021

Allah Mencurahkan Murka-Nya Kepada Siapa?

Allah mencurahkan murka-Nya kepada siapa? ~ Landasan firman Tuhan untuk tema Allah mencurahkan murka-Nya kapada siapa?, diambil dari Roam 2:1-16. Secara lengkap kebenaran firman Tuhan tersebut, saya lampirkan di bawah ini. Roma 2:1-16. 2:1 Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. 2:2 Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. 2:3 Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? 2:4 Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? 2:5 Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.
2:6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, 2:7 yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, 2:8 tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. 2:9 Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, 2:10 tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. 2:11 Sebab Allah tidak memandang bulu. 2:12 Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. 2:13 Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. 2:14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 2:15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. 2:16 Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus. Pembacaan firman Tuhan kali ini jelas menyatakan bahwa Tuhan : “...akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”, (ayat 6). Pasti kepada orang yang hidup dalam kebenaran akan diberikan kehidupan kekal; sebaliknya bagi yang tetap hidup dalam kelaliman akan beroleh murka dari Tuhan, artinya penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang berbuat jahat. Tetapi sering kali yang kita lihat adalah orang jahat tetap mujur dan sepertinya hidup dalam kebahagiaan. Ini adalah penglihatan secara mata jasmani, namun tidaklah demikian adanya. Mungkin mereka berlimpah dengan harta, tapi sesungguhnya jiwa mereka kosong, merana dan hatinya tidak tenang. Hal inilah yang pasti mengganjal di benak setiap orang percaya, bahkan Yeremia pun menanyakannya kepada Tuhan: “Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? Engkau membuat mereka tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga” (Yeremia 12:1b-2a). Bukankah kita juga bersikap demikian: iri hati dan marah kepada Tuhan? Mungkin kita juga berkata dalam hati, “Percuma bersusah payah melayani Tuhan, toh hidupku tidak ada perubahan. Sudahlah tidak usah terlalu rohani, hidup seperti orang dunia saja”. Stop berpikir demikian! Karena dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa jika kita suam-suam kuku alias tidak dingin dan tidak panas, Tuhan akan memuntahkan kita dari mulut-Nya (Wahyu 3:16). Apa pun keadaannya janganlah kita sampai terpengaruh dan terbawa oleh arus dunia ini. Tuhan menghendaki agar kita tetap setia sampai akhir. Memang tidak mudah menjadi orang setia, terlebih di akhir zaman ini, di mana banyak sekali ujian dan tantangan yang menghadang hidup orang percaya. Namun janji Tuhan jelas bahwa Dia akan “...memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia”, (Amsal 2:8) dan pada saatnya kita akan melihat bahwa Tuhan akan membuat perbedaan antara orang benar dan orang fasik (Maleakhi 3:18). Tuhan selalu adil dengan perbuatan-Nya, Ia pun akan membalaskan setiap orang setimpal dengan hasil perbuatannya! Tetaplah hidup dalam kebenaran, sebab mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia!